INDOPOSCO.ID — Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya mengusulkan kemampuan membaca dan menulis menjadi salah satu variabel dalam pengurangan masa tahanan bagi warga binaan. Menurutnya, literasi dapat menjadi ruang konversi dari regulasi menuju proses pembinaan yang lebih produktif dan manusiawi.
Gagasan tersebut disampaikan Willy dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XIII DPR RI ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat, Jumat (25/9/2026). Ia mengatakan, penguatan literasi merupakan bagian dari gerakan pembinaan yang perlu dikembangkan di lingkungan lembaga pemasyarakatan.
“Saya sudah sampaikan di dalam rapat kerja bersama menteri bahwasannya pengurang masa tahanan itu salah satu variabelnya adalah sebanyak apa orang sudah membaca dan menamatkan buku, yang kedua sejauh apa orang bisa menulis,” kata Willy, sebagaimana dikutip dari laman DPR RI, Minggu (27/9/2026).
Politikus Fraksi Partai NasDem itu menilai pembinaan warga binaan tidak seharusnya hanya berorientasi pada kepatuhan terhadap aturan. Sistem pemasyarakatan, menurutnya, juga perlu memberikan ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan kemampuan, menghasilkan karya, dan mempersiapkan diri sebelum kembali ke tengah masyarakat.
“Sebuah regulasi harus dibikinkan ruang konversi. Apa ruang konversinya? Yaitu ruang membaca dan menulis. Kita kembali ke hal yang paling basic,” ujar legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur XI tersebut.
Willy menilai sejarah menunjukkan bahwa keterbatasan ruang tidak selalu menghalangi seseorang untuk menghasilkan karya. Ia mencontohkan sejumlah tokoh yang tetap produktif menghasilkan tulisan ketika menjalani masa penahanan.
“Kalau mau melihat sejarah, karya-karya besar yang ditulis oleh orang-orang besar itu rata-rata dari dalam penjara. Kita lihat bagaimana Nelson menulis dari dalam penjara, kita melihat bagaimana Tan Malaka menulis, Bung Karno menulis, Antonio Gramsci menulis, bahkan secara spesifik Antonio Gramsci menulis tentang penjara,” katanya.
Ia juga menyinggung Buya Hamka yang menyelesaikan karya tafsir Al-Qur’an ketika menjalani masa tahanan. Menurut Willy, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan juga dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan produktivitas, refleksi, dan pemikiran.
Willy mengatakan gagasan penguatan literasi tersebut telah mulai diterapkan di sejumlah lapas, termasuk Lapas Cipinang. Ia berencana mengirimkan tim asistensi ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung untuk membantu warga binaan mengembangkan kemampuan membaca dan menulis.
“Saya tidak hanya berhenti di sini, habis ini saya akan kirim tim asistensi yang akan mengajari teman-teman bagaimana membaca, bagaimana menulis,” tuturnya.
Lebih lanjut, Willy menilai sistem pembinaan saat ini masih terlalu bertumpu pada satu indikator, yakni ketaatan warga binaan terhadap aturan. Padahal, menurut dia, keberhasilan pembinaan dapat dilihat dari berbagai aspek, termasuk kemampuan warga binaan mengembangkan potensi dan menghasilkan karya.
“Variabel kita selama ini kan variabel tunggal, itu ketaatan kepada aturan, kita tidak lihat variabel yang lain bahwasannya, kalau lapas benar-benar menjadi ruang reintegrasi dari memanusiakan manusia, harusnya kita berpikir pada titik yang produktif,” jelasnya.
Ia berharap kemampuan menghasilkan karya dapat menjadi salah satu indikator substantif dalam melihat perkembangan warga binaan selama menjalani masa pembinaan. Menurut Willy, kemampuan menulis juga dapat menjadi sarana bagi warga binaan untuk merefleksikan pengalaman dan interaksi yang mereka alami selama berada di dalam lapas.
“Ketika dia menulis realitasnya, kita bayangkan bagaimana seorang warga binaan bisa menulis cerita tentang temannya di dalam sel. Seorang warga binaan bisa menulis tentang bagaimana petugas lapas, itu interaksi yang sangat manusiawi sekali,” pungkas Willy.(dil)















