INDOPOSCO.ID – Wakil Ketua Komisi I DPR RI Anton Sukartono Suratto mendorong penguatan kompetensi pilot nirawak seiring meningkatnya penggunaan drone dalam operasi militer modern. Menurutnya, perubahan teknologi telah turut mengubah pola peperangan sehingga kemampuan mengoperasikan dan mengendalikan pesawat nirawak perlu mendapat perhatian.
“Kedepannya pelatih untuk pilot nirawak harus ada, karena perang sekarang sudah berubah. Kita tahu bahwa perang negara-negara besar sekarang itu sudah menggunakan pesawat nirawak,” ujar Anton kepada wartawan seusai kunjungan kerja spesifik Komisi I DPR RI ke Landasan Udara (Lanud) Adi Soemarmo, Surakarta, Jawa Tengah, dikutip dari laman DPR RI, Sabtu (26/9/2026).
Anton mengatakan penggunaan drone tidak hanya berkaitan dengan operasi tempur secara langsung, tetapi juga dapat mendukung pengumpulan informasi dan pemantauan situasi di lapangan. Kemampuan tersebut sejalan dengan konsep Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (ISR), yang memungkinkan pengumpulan dan pemantauan data secara real-time dari berbagai lokasi.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi nirawak dalam fungsi ISR dapat membantu meningkatkan kemampuan memperoleh informasi sekaligus memberikan gambaran situasi yang lebih cepat kepada pihak yang menjalankan operasi.
Selain fungsi pengumpulan informasi, Anton menilai pesawat nirawak memiliki keunggulan dalam mengurangi risiko terhadap personel ketika menjalankan misi tertentu. Penggunaan sistem nirawak dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menekan potensi korban jiwa dalam operasi yang memiliki tingkat risiko tinggi.
“Pada penerbangan berawak, insiden fatalitas berdampak langsung pada jiwa prajurit. Namun dengan pesawat nirawak, faktor risiko terhadap keselamatan personel dapat ditekan semaksimal mungkin tanpa mengurangi efektivitas misi operasional,” pungkasnya.
Karena itu, Anton menilai pengembangan sumber daya manusia di bidang pesawat nirawak perlu berjalan seiring dengan perkembangan teknologinya. Ketersediaan pelatih dan pilot yang memiliki kompetensi menjadi salah satu aspek yang perlu diperkuat agar pemanfaatan sistem nirawak dapat dilakukan secara optimal sesuai kebutuhan pertahanan.
Penguatan kemampuan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menyesuaikan kapasitas sumber daya manusia pertahanan dengan perkembangan teknologi dan karakter operasi militer yang terus berubah.(dil)
















