INDOPOSCO.ID – Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan memasuki usia 26 tahun. Perayaan Milad ke-26 Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan diselenggarakan pada tanggal 19 September 2026.
Di tengah makin lengkapnya sarana dan prasarana kawasan tersebut, Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Beky Mardani, mengingatkan masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan agar Setu Babakan benar-benar menjalankan fungsi sebagai pusat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi.
Menurut Beky, momentum 26 tahun Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan perlu menjadi ruang refleksi untuk kembali melihat sejarah pembentukan kawasan tersebut sekaligus gagasan besar yang melatarbelakanginya.
“Di usia 26 tahun ini, kita harus merefleksikan kembali sejarah pembentukannya dan gagasan yang dibawa saat itu. Apakah Setu Babakan sudah mampu dan bisa dikatakan sebagai Perkampungan Budaya Betawi? Ini yang harus kita jawab bersama,” ujar Beky dalam keterangannya, Rabu (23/9/2026).
Ia menjelaskan, Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan lahir dari keputusan politik Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso dan diresmikan pada 20 Januari 2001 sebagai jawaban atas apa yang disebutnya sebagai “utang sejarah” setelah gagalnya pengembangan kawasan budaya dan cagar buah-buahan di Condet pada era 1970-an.
Kawasan Condet sebelumnya diarahkan menjadi kawasan cagar buah-buahan sekaligus budaya Betawi. Namun, perkembangan demografi dan sosial masyarakat membuat kawasan tersebut tidak lagi mampu menjalankan fungsi sebagaimana gagasan awal.
“Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan merupakan keputusan politis yang diambil Gubernur Sutiyoso saat itu sebagai jawaban atas ‘utang sejarah’ gagalnya kawasan budaya buah-buahan Condet tahun 1970-an,” jelas Beky.
Menurutnya, gagasan Setu Babakan saat itu mendapat dukungan dari sejumlah tokoh Betawi. Karena itu, keberadaan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan seharusnya tidak sekadar dipandang sebagai sebuah kawasan wisata, tetapi sebagai upaya untuk menjaga keberlanjutan budaya Betawi.
“Tentu saja kita tidak mau kegagalan Condet terulang di Setu Babakan,” tegasnya.
Harapan Pengunjung
Beky mengatakan, dari sisi destinasi budaya, Setu Babakan masih menjadi harapan sekaligus imajinasi masyarakat yang ingin melihat kehidupan dan kebudayaan Betawi secara lebih utuh.
Ia mengungkapkan, berdasarkan survei yang pernah dilakukan, lebih dari 70 persen pengunjung datang dengan harapan dapat menyaksikan berbagai atraksi budaya Betawi. Sementara sekitar 18 persen lainnya ingin melihat lingkungan serta aneka tumbuhan atau flora yang menggambarkan suasana kampung Betawi pada masa lalu.
“Pertanyaannya, apakah harapan dan keinginan pengunjung itu sudah bisa kita jawab? Ini salah satu pekerjaan rumahnya,” ucapnya.
Menurut dia, pemenuhan harapan pengunjung tidak cukup hanya dengan menghadirkan pertunjukan budaya. Lingkungan kawasan juga harus mampu memberikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat Betawi sebagaimana konsep awal pembentukan perkampungan budaya tersebut.
Kampung Ismail Marzuki Perlu Dievaluasi
Pekerjaan rumah lainnya, lanjut Beky, berada di kawasan yang dikenal sebagai Kampung Ismail Marzuki. Kawasan seluas sekitar tiga hektare tersebut berisi prototipe rumah Betawi yang merepresentasikan tiga karakter wilayah, yakni kampung pesisir, kampung tengah, dan kampung pinggir.
“Apakah kawasan yang dikenal sebagai Kampung Ismail Marzuki itu sudah betul-betul menggambarkan perkampungan Betawi yang dimaksud? Ini juga menjadi PR (pekerjaan rumah) besar,” katanya.
Beky menilai evaluasi terhadap kawasan tersebut penting agar keberadaan rumah dan lingkungan yang ditampilkan tidak sekadar menjadi replika fisik, tetapi mampu menggambarkan karakter kehidupan masyarakat Betawi secara lebih utuh.
Selain aspek budaya, pembenahan sarana dan prasarana di dalam maupun sekitar kawasan juga dinilai mendesak. Jalan yang relatif sempit dan keterbatasan transportasi menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
“Jalan-jalan yang sempit serta transportasi yang terbatas, ini juga menjadi pekerjaan rumah besar tersendiri,” ujarnya.
Ancaman Perkembangan Perumahan
Beky juga menyoroti perkembangan kawasan permukiman di sekitar Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Menurut dia, saat ini terdapat lebih dari 60 klaster perumahan di sekitar kawasan yang secara fisik belum sepenuhnya sejalan dengan konsep Perkampungan Budaya Betawi.
“Keberadaan klaster atau perumahan ini bisa dibilang mengancam keberadaan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan apabila tidak ada pengaturan kawasan yang kuat,” paparnya.
Karena itu, ia mendorong adanya penguatan regulasi kawasan. Menurutnya, perlindungan terhadap kawasan budaya membutuhkan kebijakan yang mampu memastikan perkembangan lingkungan di sekitar Setu Babakan tetap selaras dengan fungsi kawasan sebagai pusat budaya Betawi.
Jangan Berhenti Jadi Museum
Beky menegaskan, keberadaan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan membutuhkan _political will_ yang kuat dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Penguatan tersebut diperlukan agar kawasan tidak berhenti sebagai tempat untuk menyimpan atau mempertontonkan artefak budaya.
“Diperlukan _political will_ yang kuat dari Pemprov DKI Jakarta untuk menjaga dan mengoptimalkan fungsi Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Jangan hanya menjadi ‘museum’ Betawi, tetapi harus menjadi laboratorium upaya pelestarian, pembinaan, dan pengembangan budaya Betawi,” tegasnya.
Menurut Beky, tanggung jawab menjaga keberlanjutan PBB Setu Babakan tidak hanya berada di tangan pemerintah. Seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat Betawi, memiliki peran dalam memastikan kawasan tersebut tetap hidup dan berkembang.
“Ini pekerjaan rumah besar yang harus dijawab semua stakeholder, termasuk masyarakat Betawi di dalamnya,” ujarnya.
Momentum tersebut dinilai makin penting karena Jakarta akan memasuki usia lima abad pada tahun depan.
Menurut Beky, keberadaan PBB Setu Babakan harus menjadi bagian dari perjalanan panjang Jakarta dalam menjaga identitas dan akar budayanya.
“Apalagi Jakarta tahun depan genap berusia lima abad. Selamat milad Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Masa depanmu adalah masa depan Betawi dan masa depan Jakarta,” pungkasnya.(rmn)















