INDOPOSCO.ID – Sebanyak 62,5 persen lulusan Universitas Ary Ginanjar (UAG) telah bekerja sebelum menyelesaikan pendidikan. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator pendekatan pendidikan UAG yang tidak hanya menitikberatkan kemampuan akademik, tetapi juga kecerdasan emosional dan spiritual.
Pendiri ESQ Corp sekaligus pendiri UAG, Ary Ginanjar Agustian, mengatakan pendidikan harus mampu membentuk generasi yang tidak hanya memiliki kompetensi intelektual, tetapi juga karakter, empati, moral, dan tujuan hidup yang jelas.
Hal itu disampaikan Ary dalam Wisuda ke-10 UAG University dan Welcoming Reception Mahasiswa Baru ke-14 di Menara 165, Jakarta, Rabu (9/9/2026). Kegiatan tersebut mengusung tema “From Knowledge to Global Impact: Advancing Halal Excellence for Indonesia Emas 2045.”
“Kampus kita tidak hanya mementingkan IQ, yang sekarang bisa digantikan dengan AI dan bahkan diganti dengan robot, tetapi juga mengedepankan EQ, kemampuan berempati, dan SQ, memiliki nurani,” jelas Ary.
Menurut dia, pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan intelektual. IQ menunjukkan kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu, EQ menentukan bagaimana kemampuan tersebut digunakan bersama orang lain, sedangkan SQ memberikan arah mengenai alasan dan tujuan dari apa yang dilakukan.
“Pendidikan tidak boleh berhenti pada IQ. IQ menunjukkan apa yang mampu kita lakukan, EQ menentukan bagaimana kita melakukannya bersama orang lain, sedangkan SQ memastikan mengapa dan untuk siapa kita melakukannya,” katanya.
Capaian 62,5 persen lulusan yang telah bekerja sebelum wisuda, kata Ary, menunjukkan kebutuhan dunia kerja terhadap sumber daya manusia yang memiliki kombinasi kompetensi dan karakter.
“Ini membuktikan bahwa memang masyarakat tidak hanya butuh IQ, tapi membutuhkan EQ dan SQ, yaitu moral yang bagus, karakter yang kuat, dan memiliki kejelasan tentang tujuan,” tambahnya.
Selain terserap di dunia kerja, lulusan UAG juga mulai menunjukkan daya saing di tingkat global. Ary mengungkapkan salah seorang lulusan program sarjana UAG, Sultan, berhasil diterima di Virginia Tech, Amerika Serikat, untuk melanjutkan pendidikan S2 hingga S3 dengan beasiswa.
“Di pentas dunia global, alhamdulillah mahasiswa kita yang sudah lulus S1 diterima di kampus teknologi terbaik di Amerika Serikat dan langsung diberi beasiswa S2 serta S3 di Virginia Tech,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ary juga menegaskan komitmen UAG untuk mendukung target Indonesia menjadi pasar sekaligus pemimpin industri halal dunia.
Menurutnya, penguatan ekosistem halal harus dimulai dari sektor pendidikan karena industri halal membutuhkan sumber daya manusia yang memahami rantai pasok secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.
“Spiritualitas tidak cukup kalau kita tidak menjaga apa yang kita kenakan dan apa yang kita makan. Oleh karena itu, kami mendukung program pemerintah, yaitu Indonesia menjadi pasar atau pemimpin halal dunia,” ujarnya.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, UAG membuka Program Studi Halal Supply Chain. Ary menyebut program studi tersebut sebagai jurusan pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang secara khusus mengembangkan kompetensi di bidang rantai pasok halal.
Pengembangan kompetensi tersebut diharapkan dapat memperkuat ketersediaan talenta yang dibutuhkan industri halal sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
Komitmen UAG terhadap agenda nasional juga diperluas melalui dukungan terhadap Program Sekolah Rakyat. UAG menerima lulusan Sekolah Rakyat untuk melanjutkan pendidikan tinggi maupun memasuki dunia kerja melalui pendekatan manajemen talenta.
Salah satunya Fitri dari Sekolah Rakyat Pontianak yang diterima melanjutkan pendidikan di UAG. Selain itu, UAG telah menerima tujuh lulusan Sekolah Rakyat untuk bekerja.
Ary berharap para lulusan Sekolah Rakyat dapat berkembang menjadi talenta unggul yang mampu mengambil peran strategis dalam pembangunan Indonesia menuju 2045.
“Ini adalah mahasiswa terbaik yang mudah-mudahan kelak anak-anak sekolah rakyat ini menjadi pemimpin masa depan di tahun 2045,” terangnya.
Kepada para wisudawan, Ary menggunakan fenomena letusan Gunung Krakatau sebagai metafora untuk menggambarkan potensi energi yang dimiliki setiap manusia.
Menurutnya, energi besar yang dimiliki seseorang harus diarahkan agar memberikan manfaat. Pendidikan, kata dia, berperan dalam mengolah energi tersebut menjadi kekuatan positif bagi masyarakat.
Konsep itu diwujudkan UAG melalui SKI, yakni Spiritual, Kreatif, dan Intelektual.
“Spiritual itu energi di dalam hati yang menggelegak menjadi energi dorongan kebaikan. Energi ini akan tertumpahkan, tapi yang tertumpahkan bukanlah lava yang menakutkan, melainkan lava yang memberi kesuburan,” ucap Ary.
“Sedangkan lava pijarnya adalah intelektualitas untuk memberikan manfaat kepada masyarakat,” lanjutnya.
Pada Wisuda ke-10, UAG mengukuhkan 50 lulusan sarjana dan lima peserta program non-degree. Para lulusan tersebut terdiri atas 36 orang dari Program Studi Manajemen, tujuh orang Ilmu Komputer, dan tujuh orang Sistem Informasi. Sebanyak 18 wisudawan meraih predikat cum laude.
UAG juga menyerahkan Beasiswa Sekolah Rakyat kepada Ananda Putri untuk menempuh pendidikan pada Program Studi Sistem Informasi. Beasiswa tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan tinggi bagi generasi muda berpotensi.
Sementara itu, dalam Welcoming Reception ke-14, UAG menyambut 112 mahasiswa baru dari tujuh program studi, yakni Manajemen, Ilmu Komputer, Sistem Informasi, Ilmu Komunikasi, Psikologi, Teknik Industri, dan Sastra Inggris.
Pada tahun ini, UAG memberikan 41 Beasiswa Fellowship, dua Beasiswa Penuh Yayasan Ary Ginanjar, dan tiga Beasiswa KIP Kuliah.
Dari aspek pembinaan keagamaan, sebanyak 20 wisudawan merupakan penghafal Al-Qur’an, termasuk lima hafiz 30 juz. Dari 112 mahasiswa baru, terdapat 42 penghafal Al-Qur’an, termasuk delapan hafiz 30 juz.
Secara keseluruhan, UAG kini memiliki 298 mahasiswa penghafal Al-Qur’an. Capaian tersebut menjadi bagian dari pendekatan pendidikan UAG dalam memadukan kompetensi akademik, karakter, kreativitas, dan spiritualitas untuk menyiapkan talenta Indonesia menghadapi tantangan global. (rmn)















