INDOPOSCO.ID – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendorong perguruan tinggi memperkuat kolaborasi dalam penanganan tuberkulosis (TBC) di Sulawesi Tengah.
Menurut dia, persoalan TBC tidak bisa ditangani sendiri-sendiri, tetapi membutuhkan sinergi pemerintah, kampus, tenaga kesehatan, mahasiswa, dan masyarakat. “Dampak dari perguruan tinggi ini akan lebih dirasakan manfaatnya secara optimal kalau dilakukan secara bersama-sama, secara sinergi dan secara kolaborasi,” ujar Fauzan dalam keterangan, Minggu (23/8/2026).
Semangat tersebut diwujudkan melalui Konsorsium Perguruan Tinggi Sulawesi Tengah “KITA SULTENG”. Konsorsium itu melibatkan tujuh perguruan tinggi untuk mendukung percepatan eliminasi TBC melalui Program BERANI MAGAYA (Berantas Infeksi TB, Mahasiswa JaGa dan SaYAng Keluarga).
Fauzan menilai keberadaan konsorsium menjadi penting karena sumber daya perguruan tinggi cukup besar. Mulai dari mahasiswa, dosen, keahlian, hingga jaringan kampus dapat digerakkan secara bersama untuk menjangkau masyarakat lebih luas.
Kebutuhan kolaborasi itu semakin mendesak mengingat kasus TBC di Sulawesi Tengah masih cukup tinggi. Sekitar 8.418 kasus TBC telah ditemukan di provinsi tersebut. Dari jumlah itu, sekitar 1.900 kasus berada di Kota Palu.
Di sisi lain, capaian terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) masih jauh dari target. Di Kota Palu, capaian TPT baru sekitar 7 persen, sedangkan secara provinsi sekitar 14 persen. Padahal, target yang ditetapkan mencapai 80 persen.
Melalui KITA SULTENG, Program BERANI MAGAYA yang sebelumnya merupakan inisiatif Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako (Untad) kini berkembang menjadi gerakan bersama.
Sebanyak 1.073 mahasiswa dan 155 dosen terlibat dalam program tersebut.
“Mereka akan bergerak di Kota Palu serta Kabupaten Poso, Banggai, dan Tolitoli,” kata Fauzan.
“Para mahasiswa nantinya mendampingi pasien TBC paru dan kontak eratnya. Mereka membantu memastikan pengobatan berjalan, memberikan edukasi kepada keluarga pasien, sekaligus mendorong pemeriksaan terhadap orang-orang yang berisiko tertular,” sambungnya.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, eliminasi TBC tidak cukup hanya dengan menemukan dan mengobati pasien. Orang yang tinggal serumah atau memiliki kontak erat dengan pasien juga harus diperiksa untuk mencegah munculnya kasus baru.
“Kalau di rumah itu ada yang sakit maka orang seisi rumahnya harus dicek. Kalau tidak sakit, wajib dikasih obat pencegahan,” kata Benjamin.
Karena itu, Benjamin mendorong 1.073 mahasiswa yang tergabung dalam KITA SULTENG ikut membantu pendataan keluarga pasien bersama dinas kesehatan. Langkah tersebut diharapkan membuat kontak erat pasien lebih cepat mendapatkan pemeriksaan dan penanganan.
Upaya tersebut, menurutnya, sekaligus memperkuat program pemeriksaan TBC yang disiapkan Kementerian Kesehatan. Pemeriksaan melalui CKG khusus TBC akan dilakukan di 53.335 lokasi di seluruh Indonesia.
“Untuk Sulawesi Tengah, pemeriksaan tersebut disiapkan di 508 lokasi dan menambah 16 alat X-ray untuk memperluas jangkauan pemeriksaan TBC,” ujarnya.(nas)























