INDOPOSCO.ID – Rumah tahan gempa kembali menjadi sorotan setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah kerusakan yang terjadi di sejumlah wilayah, tiga prototipe rumah modular tahan gempa yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terbukti tetap berdiri kokoh.
Temuan tersebut mendorong BRIN menjadikan teknologi rumah tahan gempa sebagai salah satu model rehabilitasi dan rekonstruksi hunian masyarakat di kawasan rawan bencana. Ketiga rumah yang berada di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, itu dibangun pada 2021-2022.
Hasil pemantauan pascagempa menunjukkan tidak ditemukan kerusakan pada struktur utama bangunan. Dinding, kolom, hingga fondasi tetap dalam kondisi baik. Kerusakan yang ditemukan hanya bersifat kosmetik, seperti keramik dinding kamar mandi yang terlepas akibat guncangan.
Perekayasa Ahli Muda, BRIN Vian Marantha Haryanto menjelaskan, rumah tersebut memang dirancang untuk diterapkan di daerah yang memiliki tingkat kerawanan gempa tinggi, seperti NTT.
“Rumah-rumah ini dirancang khusus dengan teknologi konstruksi tahan gempa untuk wilayah rawan bencana seperti NTT. Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan, dan yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar ini,” ujar Vian dalam keterangan, Selasa (18/8/2026).
Meski demikian, menurutnya, BRIN tetap akan melakukan pengujian lanjutan untuk memvalidasi ketahanan bangunan melalui uji laboratorium. Pengujian menggunakan metode uji siklik sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) 3966:2012 dijadwalkan dilaksanakan di Laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur pada 2026.
Menurut Vian, gempa besar yang melanda NTT menjadi ujian nyata bagi teknologi yang telah dikembangkan selama beberapa tahun terakhir. Dokumentasi yang dilakukan pada 16 Agustus 2026 memperlihatkan ketiga rumah tersebut masih berdiri dengan kondisi struktur yang baik.
Sebaliknya, dikatakan dia, bangunan lain di sekitar lokasi, termasuk SD Rangko, dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian struktur akibat gempa.
Diketahui, pengembangan rumah modular tahan gempa sendiri telah dimulai sejak 2019 lalu. BRIN sebelumnya membangun dua unit rumah di Kabupaten Tangerang, kemudian mengembangkan prototipe rumah dua lantai di Kabupaten Lebak pada 2021, sebelum akhirnya membangun tiga unit rumah di NTT pada akhir tahun yang sama.
BRIN juga terus menyempurnakan teknologi yang digunakan. Salah satu inovasi yang diterapkan pada rumah generasi kedua adalah penggunaan rubber bearing seismic yang berfungsi meredam getaran akibat gempa.
Teknologi tersebut dikembangkan Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN dengan memanfaatkan karet alam atau polimer elastis sebagai bahan utama.
“Komponen tersebut dirancang untuk membantu menahan gaya geser saat terjadi gempa sehingga dampak guncangan yang diterima struktur bangunan dapat dikurangi,” jelas Vian. (nas)























