INDOPOSCO.ID – Pembelajaran pascabencana menjadi perhatian utama pemerintah di tengah gempa yang masih mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Meski ribuan satuan pendidikan terdampak, kegiatan belajar bagi puluhan ribu murid tetap diupayakan berjalan dengan berbagai metode demi menjaga hak anak memperoleh pendidikan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama pemerintah daerah (Pemda) menerapkan sejumlah moda pembelajaran sesuai kondisi di lapangan. Kebijakan tersebut ditempuh dengan tetap mengutamakan keselamatan murid dan guru karena gempa susulan masih terjadi dan sejumlah bangunan sekolah berpotensi roboh.
Berdasarkan data Kemendikdasmen, sekitar 116.324 murid terdampak mengikuti pembelajaran dari rumah maupun tempat pengungsian. Dari satuan pendidikan yang telah melaporkan kondisi pembelajaran, sebanyak 923 sekolah menerapkan belajar dari rumah, 171 sekolah melaksanakan pembelajaran daring, 35 sekolah menggunakan kelas darurat, dan 30 sekolah masih menggelar pembelajaran tatap muka.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat mengatakan, kondisi bencana tidak boleh membuat hak anak untuk mendapatkan pendidikan terhenti. Karena itu, pemerintah terus berkoordinasi dengan pemda dan berbagai mitra untuk memastikan proses belajar tetap berlangsung secara aman.
“Dalam situasi bencana, keselamatan dan keberlanjutan pendidikan anak harus menjadi perhatian bersama,” ujar Atip dalam keterangan, Minggu (23/8/2026).
Dia menegaskan, Kemendikdasmen terus bergerak bersama pemerintah daerah dan seluruh mitra untuk memberikan layanan pendidikan meskipun berada dalam kondisi darurat. Fleksibilitas pembelajaran diperlukan agar proses pendidikan dapat menyesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah terdampak.
“Kami telah menerbitkan Panduan Pembelajaran di Masa Darurat. Panduan ini memberikan keleluasaan dalam menentukan moda dan materi pembelajaran dengan mengutamakan materi esensial, literasi dan numerasi dasar, serta dukungan psikososial bagi murid dan guru,” ungkapnya.
Diketahui, dampak gempa sendiri cukup besar terhadap sektor pendidikan. Berdasarkan data Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB) per 20 Agustus 2026, sebanyak 1.268 dari 1.378 satuan pendidikan terdampak telah melaporkan kondisi atau sekitar 92 persen.
Dampak tersebut tersebar di tujuh kabupaten dengan 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan. Dari 8.664 ruang kelas yang terdata, sebanyak 5.521 ruang kelas atau 63,7 persen mengalami kerusakan. Bahkan, 2.229 ruang kelas mengalami rusak berat hingga total.(nas)






















