INDOPOSCO.ID – Harga emas kembali menunjukkan tren kenaikan pada paruh kedua Agustus 2026. Kondisi ini dipicu pergeseran minat investor dari instrumen keuangan berbasis bunga menuju logam mulia yang dinilai lebih aman untuk menjaga nilai aset.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) emas sebesar USD 131.777,67 per kilogram untuk periode 15–31 Agustus 2026. Angka tersebut naik 0,65 persen dibandingkan periode pertama Agustus 2026 yang berada di level USD 130.921,50 per kilogram.
Sementara itu, Harga Referensi (HR) emas juga mengalami kenaikan menjadi USD 4.098,75 per troy ounce (t oz), dari sebelumnya USD 4.072,12 per t oz.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana menjelaskan, kenaikan harga emas dipengaruhi penurunan suku bunga acuan global yang membuat instrumen seperti deposito menjadi kurang menarik.
“Hal ini mendorong investor untuk memindahkan likuiditasnya ke komoditas emas untuk melindungi nilai aset,” ujar Tommy dalam keterangan, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, perpindahan investasi tersebut berdampak langsung terhadap meningkatnya permintaan emas di pasar dunia. Di sisi lain, pasokan emas yang terbatas membuat harga logam mulia terus merangkak naik.
Tidak hanya itu, pelemahan mata uang utama dunia serta turunnya imbal hasil obligasi internasional turut menjadi faktor yang mendorong kenaikan harga emas.
Tommy mengungkapkan, selama periode pengumpulan data, harga emas tercatat meningkat sebesar 0,65 persen.
Penetapan HPE dan HR emas tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1716 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar.
Ia menambahkan, penetapan harga dilakukan berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang mengacu pada publikasi London Bullion Market Association (LBMA).
Selain itu, lanjut dia, proses penetapan juga melibatkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, serta Kementerian Perindustrian.
“Dengan berbagai faktor global yang masih berpotensi memengaruhi pasar keuangan, emas diperkirakan masih akan menjadi salah satu instrumen investasi yang paling diminati dalam waktu dekat,” ujarnya. (nas)























