INDOPOSCO.ID – Pasar modal Indonesia dinilai memiliki ruang yang semakin besar untuk menjadi salah satu penggerak utama pembiayaan pembangunan. Pemerintah pun mendorong agar penguatan pasar keuangan tidak berhenti pada bertambahnya jumlah investor, tetapi berlanjut pada terciptanya pasar yang lebih dalam, likuid, transparan, dan terpercaya.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan, pasar modal memiliki posisi strategis karena mempertemukan kebutuhan pembiayaan dunia usaha dengan dana yang tersedia di masyarakat.
“Pasar modal memegang peran strategis sebagai sumber pembiayaan swasta. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat. Ia adalah sumber pembiayaan yang efisien, transparan, dan berkeadilan,” ujar Juda dalam keterangan yang diterima, Selasa (11/8/2026).
Besarnya potensi tersebut tercermin dari dana yang berhasil dihimpun melalui pasar modal. Sepanjang semester I 2026, nilainya telah menembus lebih dari Rp125 triliun. Pada saat yang sama, jumlah investor pasar modal telah mencapai 28 juta investor.
Namun, capaian tersebut menurut Juda bukan alasan bagi industri untuk berhenti berbenah. Justru, pertumbuhan tersebut harus menjadi pijakan untuk memperluas partisipasi masyarakat sekaligus memperkuat kualitas pasar keuangan nasional.
“Kita perlu terus memperluas basis investor, menambah keragaman instrumennya, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat tata kelola pasar modal Indonesia,” jelas Juda.
Dorongan tersebut menjadi semakin penting di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan dan target pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pasar modal yang semakin dalam dinilai dapat memberikan lebih banyak pilihan pembiayaan bagi korporasi sekaligus membuka ruang investasi yang lebih beragam bagi masyarakat.
Karena itu, pemerintah menginginkan ekosistem pasar modal yang bukan hanya besar dari sisi jumlah investor dan nilai penghimpunan dana, tetapi juga memiliki kualitas transaksi, instrumen, serta tata kelola yang semakin kuat.
Juda mengatakan pemerintah menyambut berbagai langkah reformasi yang saat ini dijalankan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI). Agenda tersebut mencakup penguatan likuiditas, peningkatan transparansi, penguatan tata kelola, hingga upaya memperdalam pasar keuangan.
“Pemerintah menyambut baik agenda reformasi yang tengah dijalankan oleh OJK dan BI, mulai dari penguatan likuiditas, peningkatan transparansi, penguatan tata kelola, hingga pendalaman pasar yang tercakup dalam rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia,” tambahnya.
Dengan basis investor yang terus membesar dan penghimpunan dana yang semakin kuat, pemerintah berharap pasar modal Indonesia mampu memainkan peran yang lebih besar dalam menopang investasi dan pembiayaan sektor swasta. Tantangannya kini bukan lagi sekadar bagaimana membuat pasar modal tumbuh, melainkan bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut menghasilkan pasar yang semakin sehat, likuid, kredibel, dan mampu menjadi fondasi pembiayaan ekonomi nasional dalam jangka panjang. (her)




















