INDOPOSCO.ID – Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menegaskan pentingnya Qonun Asasi sebagai landasan bagi Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, Qonun Asasi merupakan ruh yang menjadi pijakan organisasi sejak awal berdirinya NU.
Hal itu disampaikan Gus Kikin seusai menghadiri acara Sholawat Kebangsaan dan sosialisasi Qonun Asasi di Gedung MPR RI, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Dia mengatakan, dokumen Qonun Asasi NU secara lengkap baru berhasil diperoleh dalam tiga tahun terakhir setelah cukup lama tidak muncul dan digunakan.
“Qonun Asasi itu sudah lama tidak muncul, sudah lama tidak digunakan, dan tiga tahun terakhir ini alhamdulillah kita mendapatkan semua dokumen Qonun Asasi empat bab,” kata Gus Kikin.
Dia menjelaskan, dokumen tersebut kemudian disusun dan diperkenalkan kepada para pengurus NU. Menurutnya, sosialisasi Qonun Asasi menjadi penting karena dokumen tersebut merupakan bagian fundamental dari sejarah dan perjalanan NU.
“Itu merupakan dokumennya Nahdlatul Ulama yang dulu disusun dari awal berdirinya Nahdlatul Ulama. Maka oleh karena itu penting karena Qonun Asasi itu merupakan ruh daripada Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Gus Kikin menyebut kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pengurus cabang dan pengurus wilayah NU. Mereka berkumpul untuk mengikuti sosialisasi sekaligus mengingat kembali landasan dasar organisasi.
Di sisi lain, Gus Kikin turut menanggapi dinamika menjelang Muktamar NU, khususnya terkait sejumlah nama yang mulai muncul sebagai kandidat Ketua Umum PBNU. Dia menegaskan bahwa penentuan Ketua Umum PBNU sepenuhnya bergantung pada mekanisme Muktamar dan keputusan para muktamirin.
“Nanti tergantung dari mekanisme dari apa pemilihan. Nanti begitu Muktamar kan ada tatib yang perlu dibahas. Dari tatib itu nanti bagaimana mekanismenya. Nah itu nanti siapa yang jadi Ketum ya itu tergantung dari muktamirin,” jelasnya.
Gus Kikin mengakui dirinya juga masuk dalam daftar nama yang dimunculkan untuk memimpin PBNU. Selain dirinya, sejumlah tokoh lainnya juga disebut-sebut masuk dalam bursa, di antaranya Ketua Umum PBNU saat ini Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Kiai Zulfa Mustofa, Gus Rozin, dan Gus Salam.
“Ada banyak, ya saya termasuk dimunculkan. Kemudian ada Gus Yahya, Ketum yang sekarang. Ada kemudian Prof. Nasaruddin, ada Kiai Zulfa Mustofa, ada Gus Rozin, ada Gus Salam, cukup banyak,” tuturnya.
Meski demikian, Gus Kikin berharap seluruh proses menuju Muktamar berjalan lancar dan menghasilkan keputusan terbaik bagi masa depan NU. Dia menekankan pentingnya keputusan yang mampu membawa NU semakin memberikan manfaat dan kemaslahatan bagi umat.
“Harapan kami semuanya lancar dan itu tadi menghasilkan keputusan-keputusan baik, sehingga ke depan lagi NU akan lebih baik, manfaat dan maslahah bagi umat,” ujarnya.
Terkait sosialisasi Qonun Asasi yang waktunya berdekatan dengan pelaksanaan Muktamar NU, Gus Kikin membantah jika kegiatan tersebut sengaja disiapkan sebagai bagian dari agenda Muktamar.
Dia menjelaskan, kajian mengenai Qonun Asasi sebenarnya telah dimulai sekitar tiga tahun lalu karena menjadi objek disertasi istrinya saat menempuh pendidikan di Universitas Airlangga (Unair). Ujian terbuka disertasi tersebut bahkan telah digelar pada 30 Juni 2026 kemarin.
“Sebetulnya tidak, karena itu Qonun Asasi itu dipakai istri saya untuk kuliah di Unair, itu disertasinya Qonun Asasi. Kemudian berakhir kuliahnya itu ujian terbuka di bulan Juni, 30 Juni,” katanya.
Menurut Gus Kikin, kedekatan waktu antara sosialisasi Qonun Asasi dengan Muktamar NU yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Agustus hanya kebetulan. “Kebetulan keputusan Muktamar itu di akhir Agustus, jadi seolah-olah ini kita menyiapkan padahal tidak,” tegasnya. (nas)


















