INDOPOSCO.ID – Ekonomi nasional masih menjaga laju. Di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda, pemerintah tetap menaruh keyakinan besar terhadap prospek pertumbuhan Indonesia sepanjang 2026. Optimisme tersebut tidak hanya ditopang oleh aktivitas ekonomi yang terus bergerak, tetapi juga oleh kondisi fiskal yang dinilai tetap sehat dan mampu menjaga kepercayaan pelaku usaha maupun investor.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengatakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 diperkirakan masih berada di atas lima persen. Meski lajunya sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan pertama, berbagai indikator menunjukkan roda perekonomian nasional masih berputar dengan baik.
“Pertumbuhan di triwulan II ini sedikit lebih rendah dibanding triwulan I, tetapi gairah ekonomi masih berjalan dengan baik. PMI (Purchasing Managers’ Index atau Indeks Manajer Pembelian) sudah menunjukkan ekspansi, sementara impor barang modal dan bahan baku meningkat, yang menandakan aktivitas produksi dan investasi terus tumbuh,” ujar Juda dalam keterangannya, Rabu (5/8/2026).
Pemerintah pun tetap meyakini target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 di kisaran 5,6 hingga 6,0 persen masih realistis untuk dicapai. Beragam stimulus yang digulirkan pada paruh kedua tahun ini, terutama bagi sektor manufaktur dan otomotif, diharapkan mampu memberikan dorongan tambahan bagi aktivitas ekonomi.
Optimisme tersebut juga didukung oleh kondisi daya beli masyarakat yang dinilai masih terjaga. Juda menegaskan deflasi yang terjadi pada Juli 2026 tidak mencerminkan pelemahan permintaan, melainkan lebih dipengaruhi oleh turunnya harga sejumlah komoditas, seperti bawang merah dan emas.
“Kalau dilihat data kemarin, deflasi itu kan lebih banyak disebabkan oleh penurunan harga pangan khususnya bawang merah dan juga harga emas turun. Ini tidak terlalu tidak mengindikasikan bahwa demand lemah. Apalagi ditambah PMI-nya naik,” jelasnya.
Selain aktivitas ekonomi yang terus bergerak, pemerintah juga menilai fondasi fiskal nasional tetap berada dalam kondisi yang solid. Kinerja APBN hingga semester pertama 2026 dinilai mampu menjaga ruang fiskal sekaligus mendukung belanja negara secara optimal.
Juda menyebut penerimaan negara mencatat pertumbuhan yang signifikan sehingga memberikan ruang lebih besar bagi pemerintah untuk menjalankan berbagai program pembangunan tanpa mengabaikan disiplin fiskal.
“Dari sisi revenue ada kenaikan yang cukup signifikan 24 persen, kemudian ini yang kemudian juga membuka ruang fiskal sehingga belanjanya juga bisa tumbuh 17 persen sekitar itu, dan perlu dicatat, defisit kita sampai dengan bulan Juni, artinya satu semester ya, satu semester itu masih 0,76 persen, itu sangat terjaga, terkelola dengan baik lah, fiskal kita yang memang sangat prudent,” tutur Juda.
Menurutnya, pengelolaan fiskal yang disiplin menjadi salah satu faktor penting yang menjaga kepercayaan investor terhadap Indonesia. Hal itu tercermin dari tetap terpeliharanya peringkat kredit Indonesia serta tingginya minat investor terhadap instrumen pembiayaan pemerintah.
“Artinya kita mampu tumbuh tinggi tanpa mengorbankan stabilitas. Inflasi terjaga, fiskal tetap sehat, dan ekonomi tetap bertumbuh di atas 5 persen. Inilah yang menjadi dasar kepercayaan investor terhadap Indonesia,” jelas Juda.
Menjelang penyampaian Nota Keuangan RAPBN Tahun Anggaran 2027, pemerintah memastikan APBN akan tetap difungsikan sebagai instrumen utama untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan kesinambungan fiskal. Kebijakan fiskal tahun depan tetap diarahkan bersifat ekspansif, namun dijalankan secara terukur dengan defisit yang semakin terkendali.
“Jadi intinya 2027 kita tetap ekspansi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan terukur,” tambahnya. (her)


















