• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

URI URI

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Sabtu, 1 Agustus 2026 - 08:00
in Disway
disway
Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Anda sudah tahu: pemimpin yang baik adalah yang bisa mengajak rakyatnya ikut membangun.

Ups…tidak sepenuhnya bagitu. Itu terlalu lambat. Pemimpin bisa tidak sabar.

BacaJuga:

Pulih Percaya

Independensi Habibie

Abu Putih

Apalagi kalau bergegas menginginkan hasil: yang bisa dipakai modal untuk merebut periode kedua.

Ada istilah lama yang saya hampir lupa: partisipasi. Itu salah satu mantra Orde Baru. Kata partisipasi sangat populer sampai ke desa –sering diplesetkan jadi partisisapi. Sama populernya dengan kata ”proyek”. Ayah saya termasuk yang bisa mengucapkan ”partisipasi” dan ”proyek” tapi tidak tahu arti kedua kata itu.

Suatu saat ayah, tidak lulus SD, memanggil saya untuk duduk dekat di sebelahnya. “Dakelan,” katanya lirih memanggil nama saya, “kok orang-orang sering ngomong ‘proyek’, itu artinya apa?” ujar ayah dalam bahasa Jawa setengah berbisik.

“Gak usah dipikir pak,” jawab saya. “Yang penting bapak kan rajin partisisapi” tambah saya.

Maka ketika di Dismoring Rabu lalu saya usul agar proyek Universitas Republik Indonesia dicangkokkan ke universitas ternama yang sudah ada itu dalam rangka membangun partisipasi itu. Agar tidak semua program bersifat top down.

Ide membangun URI pastilah baik. Agar terbentuk calon pemimpin yang siap pakai. Pemimpin harus disiapkan. Bukan datang begitu saja. Bukan karena takdir atau wangsit.

Kalau benar ide URI terinspirasi dari ENA-nya Prancis (Lihat Disway 27 Juli 2026: Abu Putih), universitas yang ada tidak perlu merasa akan dapat saingan baru. URI tidak menerima lulusan SMA. Mahasiswa URI setidaknya sudah S-1. Bisa saja S-2 bahkan S-3. Bisa juga yang sudah berstatus pejabat pusat maupun daerah. Atau eksekutif di perusahaan swasta maupun BUMN. Bisa juga yang sudah berdinas di militer.

Yang penting lulus tes masuk. Seleksinya ketat. Yang dicari adalah bibit unggul calon pemimpin siap pakai.

Pemimpin di segala tingkatan.

Maka hasil URI sudah pasti tidak untuk dipakai senjata merebut periode kedua. URI lebih punya peluang untuk dipakai percontohan membangun lewat partisipasi.

Gubernur URI-lah yang merumuskan target yang harus dicapai program itu.

Termasuk merumuskan ”kurikulum” untuk mencapai target.

Setelah itu adakan tender terbuka. Peserta tender adalah lembaga pendidikan tinggi yang sudah ada. Baik PTNBH maupun swasta.

Termasuk IPDN dan Akademi Militer.

Dalam dokumen tender disertakan target capaian dan besarnya anggaran yang akan diberikan oleh negara.

Kalau tidak ada lembaga pendidikan tinggi yang ikut tender barulah pemerintah melaksanakan sendiri.

Tender serupa juga bisa dilaksanakan kalau pemerintah tertarik untuk membuat universitas riset. Tentukan riset apa saja yang dianggap prioritas untuk kemajuan bangsa ke depan. Targetnya seperti apa. Biaya yang disiapkan APBN berapa. Maka akan terwujud cepat keinginan untuk memiliki universitas riset.

Sekarang ini prioritas universitas adalah “sebanyak-banyaknya dapat mahasiswa baru”. Terutama sejak pemerintah mengurangi anggaran. Mau tidak mau universitas mengandalkan pendapatan dari mahsiswa.

Mulailah PTNBH jadi semacam “vacum cleaner”: menyedot sebanyak mungkin calon mahasiswa. Akibatnya: perguruan tinggi swasta menjerit-jerit.

Maka keinginan untuk memiliki universitas riset pun kian jauh.

Saya sendiri sulit menilai mana yang lebih prioritas: universitas riset atau Universitas Republik Indonesia –yang singkatannya bisa saja sama. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 31 Juli 2026: Sadean Internasional

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
TERNYATA KABUR JUGA BUTUH SILABUS.. CHDI hari ini diam-diam memberi pelajaran baru. Ternyata “kabur” itu ada ilmunya. Salah memilih arah, bisa masuk berita. Salah memilih tujuan, bisa masuk masalah. Tapi memilih kabur untuk belajar, berdagang, dan membangun jaringan, bisa masuk Disway. He.. he.. Datuk Dimyani membuktikan itu. Awalnya hanya jualan kerupuk. Ujungnya keliling 53 negara. Rumusnya menarik: semakin banyak orang bepergian, semakin banyak yang berburu oleh-oleh. Datuk justru membuat orang lain tidak perlu berburu. Oleh-olehnya sudah datang lebih dulu ke Malaysia. Kata ilmu dagang, ini disebut mendekatkan produk ke pasar agar biaya transaksi dan distribusi lebih efisien. Bahasa warungnya lebih sederhana: Pembeli jangan disuruh capek. Yang lucu, nama perusahaannya sejak awal sudah “Internasional”. Untung benar-benar jadi internasional. Bayangkan kalau tidak. Nanti tetangga bisa nyeletuk, “Internasional kok ekspornya baru sampai kecamatan sebelah?” Syukurlah, yang berkembang bukan hanya nama, tetapi juga usahanya. Itulah humor terbaik dalam dunia bisnis: Papan nama akhirnya kalah hebat oleh kenyataan.

Ibnu Ukkasyah
Mohon izin Abah. Raden Datuk Mohammad Iman Hascarya Kusumo merupakan Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia. Adapun Datuk Dim, menggunakan nama Datuk Diraja Dimyani.

Kuswandi Furoda
Setelah 438 kali landing di changi,(sejak 2012), saya Pernah 4 kali ke rumah+gudang datuk di selangor. Dan 1 kali ke rumahnya di Tulungagung. Se pelemparan bola kasti dari stasiun. Bantal leher saya pun tertinggal di sana. Ngelmu ekspor+impor, pergudangan, kelola minimarket, dll. Namun, belum dipraktekkan, jadi harus ke selangor lagi nih. Siapa tahu dapat leh oleh sombrero.. Inginnya jastip JKT-SPORE bisa berkembang jadi JKT-KL, Jkt-hk, jkt-taipei

Nimas Mumtazah
Syeikh Ibnu Harjo Al-Jawi dikenal dengan Mbah Riyan. ” sosok kuli bangunan” yang Karya²nya dijadikan rujukan akademisi muslim internasional. Penolakannya terhadap penganugerahan MUI Award, menegaskan integritas keilmuan, kepakaran sejati, serasi dengan kesederhanaan. Kemaren, kami “kenalkan”beliau dikelas. Anak² antusias ingin tahu lebih “dekat”. Abah… Ada salam anak murid kami.. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang sosok sufi yang memilih jalan sunyi.

Fa Za
Saya pingin kabur ke Iran. Mumpung masih ada perang di sana. Pingin jualan bambu runcing. Biar perangnya tambah heroik, kayak di negara mana gitu…

istianatul muflihah
Damri Ponorogo Tulungagung, sebelum era efisiensi ada 2 trayek. Jam 7 dan 13. Setelah efisiensi tinggal 1 trayek, jam 7 dari Seloaji, jam 13 dari Gayatri. 1 kali perjalanan pulang pergi. Harga tiketnya 16.000 saja. Perjalanan biasa di tempuh 3 jam. Membelah hutan. Dan selalu mampir di warung tengah alas di daerah Sooko. Anginnya silir. Pemandangan sekitarnya hijau. Penuh pohon pinus. Sambil memandang alam sekitar, bisa makan jajan khas di warung tengah alas itu, getuk goreng.

Prieyanto
Tulisan ini mengingatkanku pada dua momen kebersamaan dengan @Datuk. Pertama, saat berkunjung ke rumah beliau di Tulungagung. Saat itu sudah ada Perusuh yunior, Mba @ISTImewa, dan kami berempat—termasuk ibunya anakku—diajak makan siang di warung Botokan tepi sawah di Boyolangu. Lanjut mengantar seseorang ke terminal yang hendak naik bus Damri, melewati jalur tikus-nya Cak @Hasyim pada komentar pilihan berjudul Anda sudah tahu. Kedua, saat acara anniversary emas anak Pak Iskan dan Galuh Banjar di Bandung, by Kang @Yana. Selepas acara, kami masih melanjutkan menginap di sebuah hotel kecil dekat stasiun, bertiga sekamar. “Setannya” adalah Dab @Eddie S. Otak Perusuh pasti langsung menduga: kami tak punya uang, atau pelit dan ngirit. Apalagi malamnya kami dinner cuma lalapan di kaki lima depan hotel, padahal demi agenda utama kami: ngobrol sampai pagi. berlanjut….

Datuk Diraja Dimyani
Datuk, saya senang sekali membantu. Mengingat Datuk memang berasal dari Ariyojeding, saya bisa menyusun sejarah desa ini dalam bentuk yang lebih lengkap dan runtut. Sejarah Desa Ariyojeding Desa Ariyojeding terletak di Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, sekitar 25 km di sebelah timur pusat kota Tulungagung. Letaknya sangat strategis karena berada di jalur penghubung Tulungagung–Blitar dan di tepi Sungai Brantas. Sejak dahulu wilayah ini menjadi daerah persinggahan sekaligus kawasan pertanian yang subur. 1. Asal-usul nama Ariyojeding Menurut tradisi lisan, nama Ariyojeding berasal dari penggabungan dua wilayah, yaitu: Aryoblitar Jeding Pada masa lalu kedua wilayah tersebut merupakan desa yang berbeda. Setelah melalui perkembangan pemerintahan desa, keduanya digabung sehingga lahirlah nama Ariyojeding yang digunakan hingga sekarang. 2. Jejak Kadipaten Aryo Blitar Di Ariyojeding terdapat situs yang dipercaya masyarakat sebagai bekas Kadipaten Aryo Blitar, yang menurut tradisi dipimpin oleh tiga tokoh: Nilo Suwarno (Aryo Blitar I) Ki Ageng Sengguruh Joko Kandung Walaupun sebagian kisah ini masih berupa tradisi lisan dan belum seluruhnya dibuktikan melalui penelitian arkeologi, situs tersebut menjadi bagian penting dari identitas sejarah masyarakat setempat. Beginilah sejarah asal usul Desa kelahiran saya Pak Adi????

Datuk Diraja Dimyani
Ohh Pak Herry mengikuti juga ya live YT pakde chef Dancuk menjemput saya di bandara Charleston ketika sy berkunjung ke resto pakde tahun lalu di Summerville West Virginia? Bulan lalu sy kesana lagi di restoran kedua di Ripley masih di negara bagian West Virginia. Resto pertama namanya Benji, yang kedua namanya Osaka, jarak keduanya perjalanan pakai mobil sendiri sekitar 2.5jam. Karena sesama Wong Tulungagung, InsyaAllah saya mau kolaborasi dengan pakde chef Dancuk bikin restoran di JLS Tulungagung. Mohon doanya semoga segera dimulai pembangunan fisiknya. Terimakasih

Herry Isnurdono
Pernah lihat YT Datuk Dimyani Malaysia setahun yg lalu pergi ke Amerika. Ceritanya Dimyani dijemput orang Indonesia yg sukses di USA. Yg jemput juga punya YT dan terkenal. Yaitu Ricky Bobby Chef/Chef Dancuk. Orang Indonesia berasal dari Tulungagung, Jatim. Di video tsb. masih di West Virginia. Sekarang chef Dancuk sudah pindah ke kota lain di USA, jadi owner restoran Jepang. Dari 1 restoran berkembang jadi 2 restoran. Ada yg lebih hebat lagi, orang Indonesia punya 18 restoran di USA. Chef Dancuk ini uniknya dari bawah karier di dunia Chef. Dari tukang cuci piring sampai jadi Chef restoran Jepang. Menunya antara lain nasi goreng, yg dihidangkan dan dimasak didepan tamunya. Asal tahu gaji tukang cuci piring ini di USA, Rp. 50 juta an. Apalagi Chef bisa sekitar Rp. 90 juta an. Chef Dancuk ini sudah punya rumah dan mobil di USA. Sekarang dia berpartner dgn Chef dari Bali, bikin restoran Jepang sendiri. Banyak orang Indonesia di USA sukses kerja di restoran jadi Chef, tapi restoran Jepang. Dimana pemiliknya menyediakan rumah tersendiri, utk karyawannya. Jadi utk pegawainya ditanggung semua dari makan sampai tempat tinggalnya. Banyak dari mereka punya YT yang bisa berbagi pengalaman dan cerita ttg kehidupan di USA.

Ahmed Nurjubaedi
KABUR KABAR– Saat SD aku kabur ke sawah di desa sebelah/ Mencari belut sepulang sekolah/ Masa SMP kabur ke hutan tepi kecamatan/ Mencari entung jati snack penuh gizi/ Saat STM kabur hingga Lasem dan Rembang/ Ngamen bersama teman-teman menuruti rasa ingin tahu/ Tentu saja lagu-lagu Koes Plus yang kami dendangkan// Lulus STM adalah waktu kebingungan/ Kabur ke Surabaya demi sejumput mimpi/ Bekerja apa saja// Do’a Ibuk dan Bapak itulah perlindungan Tuhan/ Hingga wilayah kabur menjadi Asia Tenggara/ Tentu saja aku ingin seperti Pak Gaek yang tinggal di Taman Sakura itu/ Berkeliling dunia seperti ngelayap antar desa belaka// Tapi aku sedang bingung sekarang/ Sebab kepala suku-ku minta kritikus yang cinta negara/ Angkat kaki saja dari negeri tercinta/ Dan kata kabur,
mendengung setiap saat di telinga//

Sadewa 19
Kabur ke Malaysia jadi Datuk Kabur ke Yaman jadi Habib Kabur ke Jordan jadi Presiden Kabur ke Solo jadi Raja Jawa Lho kok bisa ? Karena jika sudah sampai Solo, yg dicari bukan lagi jalan pulang, melainkan jalan menuju kekuasaan….hihi…

Em Ha
Selamat pagi om Mario. Rumbia itu pohon sagu. Sejak dulu hingga sekarang. Selatpanjang, kampung kita dulu. Penghasil sagu terbesar di Indonesia. Batang pohonnya dipanen. Dipotong-potong bertual-tual. Dirakit memanjang, ditarik pakai pompong menyusuri sungai dan selat. Di kilang diolah menjadi tepung sagu. Mi sagu hasil olahannya adalah makan sehat untuk orang diabetes. Enak dimakan dan menjadi makanan khas kampung itu.

Datuk Diraja Dimyani
Betul sekali abah salah kutip Dato’ Raden Mohammad Imam Hascarya Kusumo memang Dubes RI utk Malaysia. Sy waktu ke Pacet Cerita sedang buat buku autobiography yang mana nantinya Pak Dubes nulis pengantar nya dibuku tsb, eh di tulisan CHDI hari ini nama dubes terselip jadi nama saya????

Irary Sadar
@Bung Em Ha: Salah satu mie kegemaran saya adalah Mie Sagu. Juga Sagu yang di sangrai. Kalo di tempat kami namanya Sagu Ghendang. Mie Sagu ini sangat murah dan gampang memasaknya. Hanya tidak semua kedai makan -di tempat saya tinggal sekarang- bisa memasak mie Sagu dengan benar. Kebanyakan air jadi lembek, kurang air jadi keras. Jika ingin mie yang sehat, cobalah Mie Sagu. Ianya rendah Lemak dan bebas Gluten.

Murid SD Inpres
kalau ada satu hal yang harus saya kritik dari Presiden, jawabannya sudah jelas: kemampuan public speaking-nya yang masih sering blunder. serius, beliau harus stop dulu melakukan pidato di mana pun. dan biarkan Mas Wapres saja yang pidato. setidaknya Mas Wapres masih sedikit lebih tertata, dalam hal artikulasi verbal. untuk Presiden, lebih baik beliau, kalau memang harus pidato, dalam bahasa Inggris saja, lebih well delivered. atau fokus menyampaikan gagasan kebangsaan dan pencapaian pemerintahan dalam bentuk tulisan supaya bisa kapan saja dibukukan. Pak Sufmi Dasco baca komen saya, kan?

Murid SD Inpres
satu hal yang paling saya syukuri dari Presiden Prabowo Subianto, adalah satu hal ini: beliau pembaca buku akut keren dan gagasan Sekolah Rakyat yang inklusif plus Sekolah Garuda-nya yang fokus ke Science, Technology, Engineering, Mathematics, itu lebih keren lagi tinggal program MBG sama KDMP nih, yang masih bikin saya pening dan pijit pijit kening tolong dong, Om Sudaryono sebagai Ketua BGN saat ini, improvement MBG fokus ke food safety nya dulu, target “zero keracunan” dulu, lokalisir SPPG mana saja yang masih berkontribusi menciptakan kasus keracunan, dari situ izin bisa langsung dievaluasi tajam dengan kesempatan perbaikan 1 kali.

Murid SD Inpres
seri kisah perusuh disway (1) Cak Mul dan Bli Leong janjian ketemuan di sebuah kafe kopi… Bli Leong datang lebih awal, dan sudah lebih dulu memesankan secangkir kopi untuk Cak Mul… “ndak usah pesan lagi, Cak… sudah tak pesankan secangkir kopi buat sampeyan, silakan diminum”, sahut Bli Leong dengan senyum menyeringai… Cak Mul langsung bergidik, menelan ludah, ragu… Pertanyaannya: apakah Cak Mul bersedia menyeruput secangkir kopi yang dipesan lebih dulu tersebut? (bersambung)

MULIYANTO KRISTA
Pak Bahtiar isoe ngompori thok tapi gak WANI nglakoni. .. #memberISTIsoale. Wkwkwkwk…. ..

Bahtiar HS
Satu lagi: Pergi vs Pulang nggak ada beda. Ke Indonesia bisa disebut Pergi, bisa disebut Pulang. Ke Malaysia juga demikian. Lebih mantap lagi jika rumah di Indonesia dengan rumah di Malaysia ada yang ngramut. Dan keduanya beda orang, asal sama-sama wanita aja. Wkwkwk. Rak yo ngono Bli Utup Ngeol? Isok ngalahno Abah iki.

Bahtiar HS
Datuk Dimyani ini contoh main di “dua kaki” yang bagus dan patut ditiru. Main di Indonesia vs Malaysia. Cari barang di Indonesia. Jual sendiri di Malaysia. Main sebagai Eksportir vs Importir sekaligus. Eksportir di Indonesia. Importir di Malaysia. Masuk dari kantong kanan, keluar dari kantong kiri. Mengurangi hidden cost. Harga jual di Malaysia bisa bersaing. Bisnis vs Halan-halan. Ketoke bisnis, tp sejatinya halan-halan. Kelihatannya jalan-jalan, padahal sambil bisnis. Betul-betul-betul!

Ulik Kopi
Salah satu kompil CHD beberapa hari yang lalu berupa keluhan. Belakangan ini CHD banyak membahas masalah dalam negeri. Dan itu dianggap sebagai demotivasi. Hari ini, tak lama setelah, itu Abah mendapat kesempatan emas. Mengangkat topik dalam negeri yang sangat memotivasi. Dan ternyata optimisme itu letaknya di luar negeri. Dan keberhasilan sang Datuk memang bukan hasil dari program dari Pemerintah. Jadi, apa memang harus kabur dulu aja?

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
SEKALI KABUR, LANGSUNG SUKSES.. Kalimat CHDI hari ini menggelitik: Datuk sukses karena “kaburnya” bukan ke Yaman. Ya, karena belio kabur ke Malaysia. Di Malaysia beliau tidak sekadar mencari nafkah, tetapi membaca peluang. Di Indonesia bikin CV dan kemudian PT Sadean Internasional. Di Malaysia bikin minimarket Indogrosir. Dari Indonesia PT Sadean Internasional mengekspor barang “Indomaret”. Importirnya di Malaysia juga perusahaan pak Dhim, yaitu Indogrosir. Konsep toko Indogrosir, 99% copy paste Indomaret. Malaysia berpenduduk 34,2 juta orang. Di dalamnya, termasuk sekitar 6,2 juta orang Indonesia yang menetap di sana, baik yang legal maupun yang ilegal. Dan merekalah target market utama Indogrosir. Pasarnya sudah tersedia. Tinggal menyediakan barang yang dirindukan para perantau. Sehingga tidak perlu heran kalau pembeli di Indogrosir 60% orang “Indomal”. Yaitu orang “Indonesia”, tapi cari nafkah di “Malaysia”. Jadi, Indogrosir, bukan sekadar menjual mi instan, sambal, atau kecap cap Sawi. Tetapi juga menjual rasa pulang kampung. Di situlah letak kecerdasan bisnisnya: menjadikan kerinduan sebagai peluang usaha. Sukses terus ya, Pak!

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Pulih Percaya

Kamis, 30 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Independensi Habibie

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Abu Putih

Senin, 27 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Satpam MBG

Sabtu, 25 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Anak Telur

Jumat, 24 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Dua Menit

Rabu, 22 Juli 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • Jasad

    Kasus Pembunuhan Satpam Waduk Jatiluhur, DPR Tekankan Keadilan dan Perlindungan Keluarga Korban

    2060 shares
    Share 824 Tweet 515
  • Industri Sawit Nasional Miliki Fondasi Kuat dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja

    1993 shares
    Share 797 Tweet 498
  • Blak-blakan Soal Keputusannya Gabung Persib, Mariano Peralta Tegaskan Hal Ini

    1028 shares
    Share 411 Tweet 257
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    3143 shares
    Share 1257 Tweet 786
  • Sertifikasi Mutu KKP Dorong Belut Kalimantan Tembus Pasar Global

    819 shares
    Share 328 Tweet 205
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.