INDOPOSCO.ID – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengingatkan generasi muda agar tidak menjadikan kecerdasan buatan (AI) sebagai jalan pintas dalam belajar. Di tengah pesatnya adopsi AI di hampir seluruh bidang kehidupan, kemampuan berpikir kritis dinilai menjadi bekal utama agar manusia tidak tergantikan oleh teknologi.
Pesan tersebut disampaikan Stella di hadapan 240 penerima beasiswa Tanoto Foundation dalam Tanoto Scholars Gathering di Riau, pada Kamis (30/7/2026). Ia menegaskan, AI memang mampu memberikan jawaban dengan cepat, tetapi manusia tetap harus menjalani proses berpikir agar mampu menilai kualitas setiap informasi yang dihasilkan.
“Secanggih-canggihnya AI, kalau kalian bisa menentukan apakah luaran dari AI itu benar atau tidak, akurat atau tidak, bagus atau tidak, kalian tidak akan tergantikan,” ujar Stella.
Menurutnya, mahasiswa dan pelajar tidak boleh menyerahkan seluruh proses belajar kepada AI. Tanpa kemampuan bernalar, seseorang akan kesulitan membedakan informasi yang benar dan keliru ketika teknologi tersebut tidak lagi tersedia.
Stella kemudian mengaitkan fenomena AI dengan sejumlah gelembung ekonomi dalam sejarah. Ia mencontohkan demam tulip di Belanda pada abad ke-17 hingga dotcom bubble pada awal perkembangan internet, ketika masyarakat berbondong-bondong mengikuti tren yang akhirnya runtuh.
“Economic bubble adalah fenomena yang membentuk kehidupan manusia di dunia ini. Pertanyaannya, bagaimana kita tahu bahwa kita saat ini sedang berada di dalam bubble? AI ini bubble juga atau bukan?“ kata Stella.
Ia menilai hampir semua persoalan kini diarahkan kepada AI. Karena itu, menurutnya, penting untuk mempertanyakan apakah perkembangan tersebut akan terus berkelanjutan atau justru mengalami nasib seperti gelembung ekonomi sebelumnya.
“Kalau bubble, itu akan pecah. Atau kalau ini bukan bubble, terus menerus akan bertumbuh. Ini menarik, tapi saya yakin kalau Anda memberikan pertanyaan apapun, jawabannya pasti AI,” ujarnya.
Di balik kemampuannya, Stella mengingatkan adanya biaya besar yang harus ditanggung dunia. Berdasarkan sejumlah riset, konsumsi energi AI diperkirakan mencapai 1-1,3 persen penggunaan energi global dan dapat meningkat hingga 4,5 persen. Tahun lalu, konsumsi energinya disebut setara kebutuhan listrik negara Latvia selama setahun.
“Mungkin 1 persen-1,3 persen dan akan naik sampai 4,5 persen dari pemakaian energi di dunia. Tahun lalu pemakaian energi oleh AI itu sama dengan pemakaian energi selama satu tahun dari negara Latvia,” ungkapnya.
Bahkan, proyeksi menunjukkan konsumsi energi AI dalam beberapa tahun mendatang akan terus meningkat hingga melampaui kebutuhan listrik sejumlah negara Eropa.
“Diperkirakan Tahun 2030, tidak ada satu negara pun di Eropa yang pemakaian energinya selama satu tahun itu bisa dibandingkan atau menopang pemakaian energi AI,” jelas Stella.
Ia juga menyoroti bahwa kemampuan AI saat ini masih sebatas menghasilkan jawaban dan belum mampu merealisasikan solusi nyata. “AI belum bisa menyembuhkan kanker, belum bisa membangun perusahaan yang masuk Fortune 500,” ungkapnya.
Stella menilai perguruan tinggi menghadapi tantangan besar karena sebagian pekerjaan mulai terdampak otomatisasi AI. Namun solusi bukan dengan menghapus program studi dan menggantinya menjadi pembelajaran AI semata.
Menurutnya, universitas harus memperkuat tiga fungsi utama, yakni menciptakan pengetahuan, mentransmisikan pengetahuan, dan mengkurasi pengetahuan.
Pada aspek penciptaan pengetahuan, Stella menegaskan manusia harus menentukan ruang yang tidak bisa digantikan AI.
“Pengetahuan seperti apa yang akan diciptakan oleh manusia dan pengetahuan seperti apa yang akan diciptakan oleh AI. Kalau tidak bisa menjawab pertanyaan itu, tentu saja manusia akan digantikan oleh AI,” kata Stella.
Sementara pada fungsi transmisi pengetahuan, ia menilai kampus perlu mengevaluasi kembali cara penyebaran ilmu karena masyarakat kini dapat mengakses berbagai informasi melalui AI.
“Ini pertanyaan pelik yang harus dijawab oleh universitas dan harus kalian jawab juga sebagai civitas dan menjadi bagian krusial dari universitas,” tuturnya.
Di sisi lain, kemampuan mengkurasi pengetahuan menjadi semakin penting agar sivitas akademika mampu memilih, memverifikasi, sekaligus memberi makna terhadap banjir informasi.
“Jika seseorang dengan pendidikan tinggi tidak bisa menjawab pengetahuan apa yang harus diciptakan, pengetahuan apa yang harus ditransmisikan, dan bagaimana mengkurasinya, pendidikan tinggi tidak akan berkelanjutan di era AI,” papar Stella.
“Tapi sebaliknya, jika manusia-manusia unggulan ini mampu menciptakan, mentransmisi, dan mengkurasi pengetahuan, kalian pasti tidak akan tergantikan oleh AI atau teknologi apapun di dunia ini,” sambungnya.
Pada tingkat individu, Stella juga mengingatkan bahwa berbagai penelitian menunjukkan penggunaan AI secara berlebihan justru dapat menurunkan kemampuan berpikir pelajar.
“Sekarang sudah banyak bukti-bukti ilmiah yang memperlihatkan jika ketika mahasiswa , murid SMA, SMP, SD, menggunakan AI, kemampuannya untuk membuat pekerjaan itu menjadi lebih buruk. Karena begitu AI tidak ada, ia menjadi tergantung dan tidak terjadi proses berpikir bagaimana sulitnya membuat suatu pekerjaan,” tuturnya.
Menutup paparannya, Stella menegaskan masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat menggunakan AI, melainkan oleh mereka yang tetap mampu berpikir kritis, menciptakan pengetahuan baru, dan memberi makna terhadap informasi.
“Kemampuan-kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk tetap relevan dan mampu memimpin di tengah perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat,” tambahnya. (her)


















