INDOPOSCO.ID – PT ESGIN Global Partners resmi memperkuat komitmennya dalam pengembangan ekonomi hijau (green economy) melalui investasi pada sektor pertanian dan industri pengolahan singkong di Provinsi Lampung. Langkah tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) bersama Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPD HKTI) Provinsi Lampung dan Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI).
Penandatanganan MoU dilakukan dalam rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) DPD HKTI Provinsi Lampung sekaligus pelantikan 15 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) HKTI kabupaten se-Lampung. Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (DPN) HKTI Abdul Kadir Karding, yang juga menjabat Kepala Badan Karantina Indonesia, mewakili Ketua Umum DPN HKTI Sudaryono, yang kini menjabat Wakil Menteri Pertanian RI.
Nota kesepahaman ditandatangani oleh Vice President & Indonesia Regional Head PT ESGIN Global Partners Yayang Ruzaldy, Ketua DPD HKTI Provinsi Lampung yang juga Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, serta Sekretaris PPTTI Haru, yang mewakili Ketua Umum PPTTI Welly Soegiono.
Kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem ekonomi hijau yang mengintegrasikan sektor pertanian, industri pengolahan, investasi, teknologi digital, serta pasar karbon ke dalam satu rantai nilai yang berkelanjutan.
Melalui kerja sama ini, ESGIN menegaskan perannya sebagai Green Project Investor sekaligus Green Economy Infrastructure Developer yang akan mengembangkan proyek-proyek ekonomi hijau secara menyeluruh, mulai dari penyusunan studi kelayakan (feasibility study), investasi proyek, pembangunan infrastruktur, implementasi sistem Digital Measurement, Reporting and Verification (Digital MRV), pengembangan proyek karbon, hingga monetisasi kredit karbon dan green asset.
Pada sektor pertanian, ESGIN bersama HKTI Lampung akan mengembangkan penerapan Climate Smart Agriculture (CSA), pemanfaatan biochar, serta metode Alternate Wetting and Drying (AWD) pada lahan sawah. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, memperbaiki kesehatan tanah, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.
Selain memberikan manfaat lingkungan, pendekatan tersebut juga diharapkan membuka peluang pendapatan baru bagi petani melalui mekanisme Nilai Ekonomi Karbon.
Sementara di sektor industri, ESGIN bersama PPTTI akan mengembangkan Methane Removal Project pada pabrik-pabrik pengolahan tepung tapioka. Proyek ini memanfaatkan teknologi methane capture untuk mengubah limbah cair menjadi biogas sebagai sumber energi terbarukan, sekaligus mengurangi emisi gas metana yang memiliki potensi pemanasan global jauh lebih tinggi dibanding karbon dioksida.
Selain menghasilkan energi bersih, proyek tersebut juga berpotensi menghasilkan kredit karbon yang dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi industri pengolahan singkong.
Seluruh proyek akan didukung penerapan Digital MRV berbasis teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), citra satelit resolusi tinggi, Internet of Things (IoT), drone, dashboard digital, hingga teknologi blockchain.
Sistem tersebut dirancang untuk memastikan proses pengukuran, pelaporan, dan verifikasi emisi dilakukan secara transparan, akurat, dan memenuhi standar nasional maupun internasional.
Provinsi Lampung dipilih sebagai lokasi awal implementasi karena memiliki potensi besar sebagai pusat pertanian dan agroindustri nasional. Lampung merupakan produsen singkong terbesar di Indonesia dengan produksi sekitar 7,5 juta ton per tahun, sekaligus memiliki industri pengolahan tepung tapioka yang menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah.
Program ini juga sejalan dengan implementasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement serta Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 mengenai Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon yang mendorong pembangunan rendah karbon, perdagangan karbon, dan pembiayaan iklim di Indonesia.
Vice President & Indonesia Regional Head PT ESGIN Global Partners, Yayang Ruzaldy, mengatakan perusahaan tidak hanya berperan sebagai pengembang proyek karbon, tetapi juga sebagai investor yang membangun infrastruktur ekonomi hijau secara terintegrasi.
“Lampung memiliki seluruh fondasi untuk menjadi pusat Green Economy berbasis pertanian di Indonesia. ESGIN berkomitmen berinvestasi pada proyek-proyek strategis yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus manfaat lingkungan, mulai dari Climate Smart Agriculture, Biochar, hingga Methane Removal Project pada industri pengolahan tepung tapioka. Melalui integrasi investasi, Digital MRV, Artificial Intelligence, blockchain, Green Finance, dan Carbon Market, kami ingin menciptakan model pembangunan yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat daya saing industri, serta mendukung pencapaian target Net Zero Emission Indonesia,” ujar Yayang, dikutip Sabtu (1/8/2026).
Menurutnya, kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana investasi hijau mampu menghubungkan sektor pertanian, industri, teknologi, dan pembiayaan dalam satu ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut dari penandatanganan MoU, ketiga pihak akan segera menyusun studi kelayakan, mengidentifikasi lokasi proyek prioritas, menyusun dokumen proyek karbon, mengimplementasikan Digital MRV, serta merancang skema pembiayaan hijau untuk mempercepat realisasi investasi.
Melalui kerja sama tersebut, ESGIN, HKTI Provinsi Lampung, dan PPTTI berharap dapat menghadirkan model pengembangan Green Project berbasis pertanian dan agroindustri yang tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Lampung sebagai pelopor implementasi Nilai Ekonomi Karbon di Indonesia. (rmn)


















