INDOPOSCO.ID – Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dikmendiksus), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Tatang Muttaqin, menegaskan pelaksanaan Tracer Study SMK 2026 menjadi langkah penting untuk memperkuat penyusunan kebijakan pendidikan kejuruan berbasis data.
Penelusuran tamatan melalui Tracer Study SMK 2026 tersebut, menurutnya, dilakukan agar pemerintah memastikan setiap kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kondisi lulusan di lapangan.
“Melalui Pelaksanaan Penelusuran Tamatan (Tracer Study) SMK Tahun 2026, mari kita memperkuat ekosistem penyusunan kebijakan berbasis data (evidence-based policy),” ujar Tatang saat merilis dan menyosialisasikan Pelaksanaan Tracer Study SMK Tahun 2026 yang digelar Direktorat SMK, Kamis (30/7/2026).
“Langkah ini sebagai bagian dari komitmen bersama untuk menghadirkan data yang akurat, berkualitas, dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai dasar penyusunan kebijakan pendidikan kejuruan,” sambung Tatang.
Menurutnya, tracer study merupakan implementasi dari Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi. Program tersebut tidak hanya berfokus pada penguatan kurikulum, kemitraan dengan dunia kerja, dan peningkatan kompetensi guru, tetapi juga membangun sistem informasi yang mampu menggambarkan kondisi lulusan secara menyeluruh.
“Melalui tracer study kami memperoleh data mengenai lulusan yang bekerja, berwirausaha, maupun melanjutkan pendidikan,” ungkapnya.
Selain itu, lanjut dia, dari tracer study akan diketahui masa tunggu memperoleh pekerjaan, tingkat kesesuaian pekerjaan dengan kompetensi yang dipelajari di SMK, hingga berbagai faktor yang memengaruhi transisi lulusan ke dunia kerja.
Tatang menjelaskan, data hasil tracer study memiliki nilai strategis karena akan digunakan sebagai dasar penyusunan indikator kebekerjaan lulusan SMK pada Rapor Pendidikan, Standar Pelayanan Minimal pemerintah daerah, evaluasi mutu pendidikan kejuruan, hingga penyusunan program pembinaan dan pengembangan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri serta potensi daerah.
“Ke depan, kami akan mendorong integrasi data tracer study dengan berbagai sistem informasi pasar tenaga kerja nasional. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan dengan dunia usaha dan dunia industri,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan Tracer Study SMK Tahun 2026 sebagai gerakan bersama untuk membangun ekosistem kebekerjaan lulusan yang kuat, terintegrasi, dan berkelanjutan.
“Informasi dari alumni tidak boleh berhenti sebagai laporan statistik semata, tetapi harus menjadi umpan balik untuk meningkatkan kualitas kurikulum, pembelajaran, dan memastikan kompetensi lulusan tetap relevan dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan pasar kerja,” tegasnya.
Ia menambahkan, peluncuran Pelaksanaan Tracer Study SMK 2026 menjadi penanda dimulainya penelusuran tamatan secara nasional. Ia berharap seluruh SMK di Indonesia berpartisipasi aktif agar data yang dihasilkan berkualitas dan menjadi landasan penyusunan kebijakan pendidikan kejuruan yang lebih tepat sasaran. (nas)


















