INDOPOSCO.ID – Setelah hampir satu dekade tanpa penjualan gas dari wilayah operasinya di Provinsi Jambi, Pertamina EP akhirnya membuka babak baru pengelolaan energi nasional. Melalui keberhasilan monetisasi gas bumi dari Lapangan Sengeti, perusahaan tidak hanya menghidupkan kembali potensi lapangan tersebut, tetapi juga membuka jalan bagi pemanfaatan cadangan gas yang selama ini belum tergarap akibat keterbatasan pasar dan infrastruktur.
Lapangan Sengeti menyimpan cadangan gas sebesar 14,76 BSCF. Dari jumlah tersebut, sekitar 13,4 BSCF telah dikontrak untuk dipasarkan dalam periode tujuh tahun. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk terpilih sebagai pembeli setelah melalui proses evaluasi dan seleksi yang telah ditetapkan.
Sepanjang masa kontrak, nilai penjualan gas secara bruto diproyeksikan mencapai sekitar Rp1,6 triliun. Selain memberikan nilai tambah bagi perusahaan, proyek ini juga akan berkontribusi terhadap penerimaan negara melalui skema bagi hasil migas, perpajakan, serta ketentuan fiskal lainnya.
General Manager Pertamina Hulu Rokan Zona 1, Mefredi, menilai pencapaian tersebut memiliki arti lebih dari sekadar transaksi bisnis. Menurutnya, keberhasilan Sengeti menjadi tonggak awal dalam strategi pengembangan lapangan gas yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal.
“Pengalaman mulai dari pematangan teknis, penyusunan skema rencana komersialisasi, market intelligence, proses pemilihan dan penetapan pembeli, hingga proses pengajuan permohonan Penetapan Alokasi dan Harga Gas kepada Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) melalui SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi), diharapkan menjadi pembelajaran penting dalam mempercepat pengembangan potensi gas yang selama ini belum termanfaatkan,” kata Mefredi dalam keterangannya, dikutip Minggu (26/7/2026).
Ia menjelaskan, proyek Sengeti juga diposisikan sebagai pilot project pengembangan stranded gas di Field Jambi. Pengalaman tersebut nantinya akan menjadi acuan untuk mempercepat komersialisasi sejumlah lapangan lain, seperti Sungai Gelam, Puspa, Puspa Asri, Simpang Tuan, hingga Meruap.
Tak hanya berdampak bagi sektor energi, proyek ini juga diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Kehadiran investasi baru diperkirakan mampu menciptakan lapangan kerja, membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM lokal, sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi selama masa konstruksi maupun operasional.
Pemerintah daerah pun dilibatkan dalam pengembangan proyek, terutama dalam sinkronisasi perizinan, kesesuaian tata ruang, serta penyelarasan dengan program pembangunan wilayah.
Gas yang diproduksi dari Lapangan Sengeti selanjutnya akan dimanfaatkan oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk untuk memenuhi kebutuhan pelanggan industri dan pembangkit listrik, termasuk di kawasan Batam serta berbagai sektor strategis lainnya.
Keberhasilan Sengeti juga menjadi pijakan bagi percepatan proyek gas berikutnya. Saat ini, Pertamina EP tengah menyiapkan tahapan komersialisasi sejumlah lapangan lain dengan progres yang berbeda-beda.
“Saat ini perusahaan juga tengah mempercepat proses komersialisasi beberapa lapangan lain, di antaranya Sungai Gelam yang saat ini sedang menunggu Penetapan Alokasi dan Harga serta izin prinsip tie in, Puspa dan Puspa Asri yang sedang diajukan permohonan Penetapan Alokasi dan Harga kepada Menteri ESDM, serta Simpang Tuan yang masih dalam tahap pematangan aspek teknis dan keekonomian,” jelas Mefredi.
Ia menegaskan, keberhasilan monetisasi Sengeti merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mengoptimalkan sumber daya migas nasional secara berkelanjutan.
“Monetisasi Lapangan Sengeti tidak hanya menjadi keberhasilan penjualan gas pertama setelah hampir satu dekade di Field Jambi, tetapi juga menjadi fondasi bagi percepatan pengembangan stranded gas lainnya guna meningkatkan nilai tambah bagi perusahaan, mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, serta memperkuat ketahanan energi Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Senior Manager Commercial Regional 1 PT Pertamina Hulu Rokan, Rahmat Keslani, melihat keberhasilan Sengeti sebagai pemicu terbentuknya ekosistem industri berbasis gas di Provinsi Jambi.
“Semakin banyak lapangan gas yang berhasil dikomersialkan, semakin besar pula peluang hadirnya industri berbasis gas serta pembangunan infrastruktur energi yang dapat meningkatkan daya saing daerah,” tuturnya.(her)


















