INDOPOSCO.ID – Huruf G diidentikkan dengan angka sembilan. Sedang S mewakili angka delapan. Dan J sebagai angka tujuh. Jokowi jadi presiden ketujuh. Subianto menjadi presiden ke delapan. Berarti Ganjar terlalu cepat mencapreskan diri di tahun 2024. Apakah ia punya peluang mewakili angka sembilan di tahun 2029? Belum tentu. Ada nama lain yang huruf depannya juga G –misalnya Gubrak.
Dari situ pula mulai muncul ramesan jangka panjang. Presiden kesepuluh akan jatuh ke nama yang berhuruf depan S. Bisa jadi itu Sudaryono. Atau Sahlan Siskan. Yang kedua itu rasanya tidak mungkin: umur Sahlan kini sudah 76 tahun.
Jalan panjang untuk Sudaryono itu kini sudah mulai membuka: Selasa lalu ia dipromosikan menjadi kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sepeninggal Nanik S. Deyang. Itu jabatan setingkat menteri. Sangat strategis untuk era kepresidenan Prabowo Subianto. Yakni lembaga yang anggarannya lebih besar dari umumnya kementerian.
Kalau MBG (Makan Bergizi Gratis) sukses di tangan Sudaryono, itu prestasi yang menakjubkan. ”Sukses” di situ termasuk bisa menggalakkan ekonomi di pedesaan: berasnya dari desa setempat. Telurnya. Ikannya. Buahnya. Tempe tahunya. Semuanya.
Kalau itu bisa terjadi rasanya tidak ada yang keberatan MBG menghabiskan dana APBN ratusan miliar rupiah. Uang itu beredar di bawah.
Sudaryono sudah ”sekolah” pertanian selama hampir dua tahun menjabat wakil menteri pertanian. Ia tahu bagaimana mengaitkan MBG dengan pertanian, peternakan, dan perikanan.
Saya melihat logika berpikir Sudaryono sangat baik. Caranya berkomunikasi juga pas. Tidak kurang juga tidak berlebihan. Sudaryono mengaku sebagai ”anak telur”: masa kecilnya banyak makan telur. Itu karena orang tuanya, orang desa Tambirejo, Toroh, kabupaten miskin Grobogan, memelihara ayam di pekarangan.
Sebagai anak yang bergizi cukup, Sudaryono bisa masuk SMA unggul Taruna Nusantara. Ia berhasil lulus terbaik pula di angkatannya. Lalu kuliah di Jepang. Doktornya dari IPB Bogor.
Kini Sudaryono terjun ke lembaga yang bermandikan oli. Ia bisa tergelincir atau digelincirkan.
MBG kini di tangan anak muda yang pintar, cerdas, tegas, dan dekat dengan Presiden Prabowo. Dalam pisau analisis politik, Sudaryono berada di kelompok ”Hambalang Boys”: kader sejati Prabowo yang rumahnya di Hambalang dekat Sentul.
Sebagai ”Hambalang Boys”, Sudaryono tahu persis keinginan Prabowo di MBG: anak-anak dapat makan bergizi seperti dirinya di waktu kecil. Lalu ekonomi rakyat bergerak.
Setelah tahu yang ”naik” ke jabatan itu Sudaryono saya menilai pengunduran diri Deyang adalah baik. Deyang telah memberi jalan kepada orang yang lebih muda dan lebih potensial.
Setidaknya Deyang telah jadi tukang bongkar-bongkar di saat menjabat wakil kepala BGN. Sampai-sampai orang seperti Sufmi Dasco Ahmad, salah satu tokoh andalan Prabowo, mengenang Deyang sebagai orang yang rajin keliling dapur MBG untuk melihat apa yang tidak benar. Maka orang seperti Jendral Polisi Sony Sonjaya, wakil kepala BGN yang kini jadi tersangka, menilai Deyanglah yang menjebloskan mereka ke tahanan. Anda sudah tahu: tiga orang pimpinan BGN diberhentikan dan kini ditahan di kejaksaan agung.
Sepanjang hari kemarin saya berkomunikasi dengan para pengusaha yang punya dapur MBG. Di Jateng dan Jatim. Salah satunya punya empat dapur. Menurut mereka sebulan terakhir terjadi perubahan besar. “Investasi dapur MBG sekarang tidak bisa lagi Rp 700 juta atau Rp 800 juta. Sudah menjadi Rp 1,2 miliar,” katanya. “Pelet untuk menaruh karung beras pun kini harus stainless steel,” kata sahabat Disway itu. “Tidak boleh lagi kayu,” tambahnya.
Demikian juga telenan –alas untuk mengiris bawang atau cabe– tidak boleh lagi kayu. Harus plastik. “Pokoknya alat yang diperkirakan bisa menjadi penyebab munculnya jamur tidak boleh dipakai,” katanya.
Yang paling mahal adalah pengolahan limbah. Kini pengolahannya harus lima step –lima pengendapan air. Di tahap terakhir air limbahnya harus diisi ikan. Ikannya harus hidup pertanda tidak ada racun.
“Berarti tidak bisa lagi setahun balik modal?”
“Dulu delapan bulan bisa balik modal. Sekarang 1,5 tahun,” jawabnya.
“Masih baguslah…” komentar saya.
“Iya, masih bagus”.
Sudaryono tidak punya waktu lagi untuk trial and error. Ia sudah harus langsung tancap gas. Sudah telanjur terlalu banyak petani/peternak yang tergantung ke MBG –harga telur, sayur, dan ayam jatuh saat MBG diliburkan di saat liburan panjang sekolah.
Anak cukup gizi kini yang mengurus makan anak bergizi. Juga yang urus dana ratusan triliuan yang membuat orang seperti Deyang ngeri sendiri. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 23 Juli 2026: Sakit Jantung
Irary Sadar
Saya lebih cenderung ke pola pikir Abah. Jika sudah pamit sama Bos dan diterima, ya sudah. Tidak perlu pamit juga di medsos. Memangnya Anda selebriti. Tentu Anda pejabat bekerja untuk rakyat, tapi pertanggungjawabannya ke Plesident, ya sudah, mengundurkan diri cukup ke Beliau. Kalaupun mau pamit di medsos, cukup dua atau tiga kalimat saja. Cukup itu. Itu. Menurut saya, sih…
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
OLI, PERSEPSI, DAN SENI ATAU CARA “PAMIT”.. Perumpamaan “berlumuran oli” terasa pahit. Tetapi itulah cara kerja persepsi publik. Dalam ilmu psikologi ada “halo effect” dan ada “confirmation bias”. Sekali seseorang berada di lingkungan yang dicurigai, publik cenderung mencari bukti yang menguatkan kecurigaannya. Yang bersih pun ikut dianggap berminyak. Adil atau tidak, begitulah “pengadilan opini”. Karena itu, pengunduran diri pejabat bukan sekadar urusan administrasi. Ia juga soal etika komunikasi. Ketika surat sudah diterima dan diputuskan atasan, biarkan fakta berbicara lebih dulu. Media sosial bukan ruang sidang. Di sana, penjelasan sering berubah menjadi perdebatan. Makin panjang klarifikasi, kadang makin panjang pula kolom komentar. Pak Dahlan seperti sedang mengajarkan satu hal sederhana: “Tidak semua keputusan harus diumumkan dengan narasi panjang”. Ada saatnya diam lebih komunikatif daripada seribu kata. Toh, sejarah lebih sering mengingat alasan seseorang mundur daripada gaya ia mengucapkan selamat tinggal. Dan, di era media sosial, “tanda titik” sering lebih bijaksana daripada tiga paragraf penjelasan.
Sugi
Keputusan untuk periksa mahal di awal adalah revolusi dunia kedokteran dalam negeri. Mungkin cocok untuk pasien kaya. Sedangkan pasien tidak kaya mestinya dibantu pemerintah kan ya Bah? Kadang bingung juga di luar negeri kok bisa banyak negara maju yang menggratiskan biaya kesehatan warganya ya? Tapi pajaknya tinggi juga sih hampir mendekati 50%. Dampak pajak sepadan layanan negara. Apakah negara kita bisa mengarah atau diarahkan ke sana juga Bah? Serius tanya.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
ADA ETIKA BERMEDSOS BAGI BIROKRAT: BETULKAH TIDAK SEMUA WARTAWAN COCOK JADI BIROKRAT Media sosial memberi kebebasan berbicara. Tetapi jabatan publik menuntut disiplin berbicara. Di situlah banyak orang terpeleset. Yang terasa spontan bagi pemilik akun, bisa terbaca kurang pantas oleh publik. Apalagi saat mengumumkan pengunduran diri dari jabatan negara. Akibatnya, substansi tenggelam. Gaya penyampaian yang menjadi berita. Pak Dahlan juga menyentil hal yang lebih dalam. Menjadi wartawan dan menjadi birokrat membutuhkan naluri yang berbeda. Wartawan dibesarkan untuk bertanya, mengkritik, dan mengusik kemapanan. Birokrat justru dituntut menjaga tata kelola, prosedur, dan kehati-hatian. Tidak banyak orang mampu berganti “sistem operasi” hanya karena “berganti kursi”. Maka, ketika Deyang menjadi bulan-bulanan media sosial, yang diadili bukan hanya keputusan mundurnya? Tetapi juga cara ia berpamitan. Di era digital, publik sering lebih cepat menilai “kemasan” daripada “isi”. Itulah risiko komunikasi. (((Sebuah unggahan yang diniatkan sebagai penjelasan, bisa berubah menjadi ruang sidang tanpa hakim, tanpa palu, tetapi dengan jutaan jaksa))).
rid kc
Nanik S Deyang mundur dari ketua BGN dan berobat keluar negeri itu hanya alasan saja. Sebenarnya menurut pandangan saya Nanik ingin menenangkan diri dari hiruk pikuk mega korupsi BGN ini. Pastinya Nanik paham betul kondisi BGN karena sejak awal sudah menjadi pejabat di BGN. Nanik tidak bisa menutup mata dan mengingkari hati nuraninya makanya Nanik lebih baik mundur. Semoga lekas sembuh Nanik S Deyang
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
DOKTER BOLEH DIKENAL, TAPI TIDAK BOLEH BERDAGANG JANJI?? Usul Pak Dahlan menarik. Dulu, etika profesi kedokteran memang membatasi promosi diri. Tujuannya baik: menjaga martabat profesi dan mencegah persaingan yang menjurus pada janji kesembuhan. Jadi, yang dibatasi bukan informasi tentang dokter, melainkan iklan yang berlebihan. Kini zamannya berubah. Masyarakat membutuhkan informasi dan “edukasi” yang terbuka. Kompetensi, subspesialisasi, jadwal praktik, pengalaman tindakan, hingga publikasi ilmiah semestinya dapat diketahui publik secara wajar dan terukur. Transparansi berbeda dengan promosi. Soal papan nama, ketentuannya lebih banyak berasal dari etika profesi dan aturan daerah perizinan. Dulu identik dengan papan putih sederhana. Kini banyak klinik memasang papan besar bertuliskan “Dental Care” atau “Skin Clinic”. Yang dipromosikan adalah institusinya, bukan janji bahwa dokter tertentu pasti paling hebat. Di sinilah batas halusnya. 1) Dokter boleh dikenal. 2) Klinik boleh memperkenalkan layanan. 3) Tetapi profesi medis tidak boleh berubah menjadi perlombaan slogan. Karena pasien datang bukan “membeli” janji, melainkan mencari ilmu, pengalaman, dan kepercayaan. (((Barangkali yang diperlukan sekarang bukan mencabut etika lama, melainkan memperbaruinya agar sesuai dengan zaman digital tanpa kehilangan kehormatan profesi)))..
Bahtiar HS
Abah menulis: Di zaman sekarang ini operasi jantung sudah semudah khitan. Eh, Bah. Coba saya tanya, menakutkan mana: khitan atau operasi jantung? Ya jelas khitan, Bah. Coba jarang sekali, atau bahkan tidak ada, seorang yang khitan berkali-kali. Tp begitu banyak orang yang setelah operasi jantung, mau operasi lagi. Karena jantungnya bocor lagi. Pecah pembuluh darahnya lagi. Atau gagal lagi jantungnya. Jadi, khitan lebih menakutkan. Sampai tidak ada yang mau khitan dua kali. Coba tanya Rano Karno (4 ring) atau Pak Jusuf Kalla (3 ring). Kedua beliau operasi pasang ring jantung lebih dari sekali. Tp coba tanya, berapa kali khitan? Paling hanya sekali. Mengapa? Lebih menakutkan! :)) Jadi nggak isok dibanding2ke.
Otong Sutisna
Yang harusnya menjadi pemegang rekor, pasang ring jantung terbanyak adalah Abah DI, menurut kabar dia pasang 672 ring, dalam kasus pecah pembuluh darah pas sedang umroh…. Jadi pantes, dia umpama kan, operasi jantung, sama seperti sunat… Padahal sunat menurut kami para lelaki sejati, sakit nya luar biasa, sampai gak ada yang mau mengulang…..
Wilwa
Niat Presiden Prabowo memang mulia. Tapi caranya amburadul. Tak punya visi bagaimana niat itu dijalankan. Akibatnya “diakali” oleh para bawahan dan para pelaksananya untuk dikorupsi. MBG harus dirombak total agar tidak diplesetkan Maling Berkedok Gizi. Usulan saya adalah petakan yang mau dibantu. Kalau yang mau dibantu adalah anak sekolah dari PAUD sampai SMU maka dirikan SPPG di sekolah. Sekalian renovasi sekolah kalau bangunannya sudah bobrok. Kalau yang mau dibantu ibu hamil dan menyusui serta anak balita maka SPPG harus berdiri di Puskesmas. Kalau belum ada Puskesmas di daerah terpencil sekalian saja bangun puskesmasnya menjadi satu dengan dapur SPPG. Swasta dipersilahkan bantu membangun dapur SPPG berikut puskesmasnya. Jadi BGN harus kolaborasi dengan Mendik dan Menkes serta swasta sebagai sumber dana selain dana dari APBN. Sehingga tak perlu habiskan ratusan T setahun. Puluhan T sudah cukup. Sekedar usulan.
Ahmed Nurjubaedi
Di Amerika atau Eropa ada istilah kurang lebih begini: Pengacara akan merampok. Dokter akan merampok dan sesekali membunuh. Jaga diri baik-baik agar tidak berurusan dengan mereka.
djokoLodang
-o– … “Di zaman sekarang ini operasi jantung sudah semudah khitan,” kata saya lagi. Tentu itu saya lebih-lebihkan agar dia tidak takut…. *) Bukankah yang dikhitan itu laki-laki? ~ O iya, khitan pada laki-laki itu sejatinya dimaksudkan untuk membahagiakan pasangan. Kepekaan berkurang, sehingga bisa lebih tahan lama. *) Lalu, bagaimana halnya dengan kaum Hawa? Dengan memakai giwang/subang. Lho? Untuk bisa memakai subang itu, daun telinga harus ditindik –dilubangi, walau setitik. ~ Ini lah sesungguhnya yang dituju: Balita perempuan yang daun telinganyi dilubangi efeknya akan mengurangi gairahnyi ketika saatnya tiba kelak. Sehingga bisa dipuaskan oleh pasangannyi. –0-
Muh Nursalim
Dokter indonesia itu tawadhu. Ndak mau nonjolkan diri. Yg kenceng iklan justru pengobatan alternatif. Pake testimoni segala. Efeknya mereka laris manis. Padahal bsnyak yg hoax. Tirulah para rasul. Sebelum bla bla bla k umat. Menyatakan diri dengan sangat PD. ” aku adalah rasul yg dpt dipercaya”. Dengan cara gitu saja masih lebih banyak yg tdk percaya. Monggo para dokter yg hebat2. Proklamirkan diri anda memang layak menjadi rujukan.
Sadewa 19
Dari sekian banyak pidato Prabowo sepanjang menjabat sebagai presiden, ada satu yg paling saya setuju. Prabowo pernah bilang “TIDUR ITU PENTING”. Tidur yg cukup bisa mengurangi resiko penyakit jantung.
WASITH channel
Informasi dari satu orang kepada orang lain, dan diteruskan berantai pada orang lain lagi, bisanya disebut dengan istilah “dari mulut ke mulut”. Namun kali ini Abah DI memakai istilah “dari mulut ke telinga”. Jadi agak janggal meski nampak ada upaya untuk rasionalisasi. Bukankah ucapa/suara itu dari mulut kepada telinga? Bukan dari mulut kepada mulut? Cerdas koreksinya, tapi belum lumrah.
Em Ha
Disini lain cerita Bang Bahtiar. Sudah 2 tahun kami bolak balik RS. Sebelumnya kami ucapkan terimakasih banyak BPJS. Sejak keluar hasil biopsi RS di kota Madinah. Dunia seakan-akan terbalik. Adik kami mengidap penyakit yang sangat ditakuti kaum hawa. Segera kami minta ia kembali ke tanah air. CT Scan. MRI. Bone Scan. USG. Rekam jantung. Cek darah. Kemotrapi. Terapi sinar. Tambah darah. Rawat inap. Rawat jalan. Semua sudah. RS Hermina Bekasi, Depok, Pekanbaru. RSPAD Gatot Subroto. RS Awal Bros Pekanbaru. Semua sudah. Dan BPJS Semua. Usaha sembuh adalah ikhtiar kita. Penyakit tidak ada yang mau. Jadi kalau ada keluarga atau sahabat kita yang sedang sakit. Maka tidak elok ada yang komentar “Makanya Jangan Sakit”.
Bahtiar HS
Bbrp waktu lalu sempat bezuk kawan yang lagi terbaring di salah satu RS di Jawa Timur. Kakinya bengkak karena menumpuknya cairan. Ginjalnya tidak bekerja sebagaimana mestinya. Ketika kita gali apa yang sudah diberikan dokter, cuma bs mengelus dada. Sbg pasien B*JS golongan sekian, dia mendapatkan asupan obat yang mungkin menyesuaikan plafon dari sono. Obat utk menguras cairannya keliatannya tidak/blm diberikan. Meski sudah beberapa hari ngamar di situ dan cairan semakin menumpuk di bagian2 tubuhnya. Napasnya pasti terganggu. Saya masuk RS kemarin nggak papa, kok sekarang malah sesek? Begitu keluhnya. Meski kami juga mafhum, penyakit yg dideritanya bukan terjadi dalam semalam. Sudah tumpukan dari sejarah yg panjang tt pola makan, pola hidup, dll. Tp sekian hr di RS dg cairan yg semakin membuatnya bengkak & sesak tentu memprihatinkan. Ketika memberanikan diri menjumpai dokternya, beliau lalu jujurly bilang sbg dokter menjadi serba salah dg sistem ini. Scr profesional, ada bbrp item obat/tindakan yg harus dilakukann thd pasien. Tp ada batas yang tidak boleh dia tabrak atau risiko kembali ke dirinya dan juga RS. Ketika kami minta dibuatkan resep obat mana saja yg sehrsnya diberikan, tp tdk dicover; beliau jg gak bs kasih. Sebab sdh pernah kejadian spt itu, malah keluarga pasien yg protes: sdh byr B*JS kok msh suruh beli obat lain? Dia dan RS nya yg kena semprit. Di sinilah dokter mengalami tekanan tidak sj scr profesional, tp juga nurani/perasaan. Cuma taruhannya berat: nyawa.
mario handoko
selanat siang bp thamrin, bp agus, bp mul, bp jo, sobat yea, bp em ha, bp haji jokosp, bp udin, sobat irary, bp haji hasyim dan teman2 rusuhwan. “rangkap 3 jabatan. modus korupsi eks dirut kbs.” demikian berita di cnnindonesia.com. abah, bp mul dan rusuhwan2 yang berdomisili di surabaya. tentu sudah mendengar betapa menyedihkan nasib satwa2 penghuni kebun binatang surabaya. kurus2 akibat kurang makan. baru terungkap saat ini. bahwa satwa satwa di kbs kurus2, karena gizi makanan jatah mereka, dikorupsi choirul anwar, mantan dirut, rangkap direktur operasional sekaligus direktur keuangan kbs. ada2 saja kejadian di negeri ini. selain mbg untuk siswa, mbg untuk satwa pun di korupsi. betul2 sifat dirut kbs ini lebih binatang dari binatang yang ada di kbs. amsyong tenan
Definisi Mewah
Ada 2 (dua) TRIK RAHASIA, yang bisa membuat seorang PRIA memiliki KINERJA JANTUNG yang bagus, hingga usia 100 tahun (centenary). Trik-nya, saya namai, RMWB: RMWB-1: “Rutin Mengkonsumsi Wine Bersama”, terutama Red Wine, dalam jumlah takaran yang moderat, bersama orang terdekat. RMWB-2: “Rutin Menyapa Wanita Baru”, terutama wanita menarik 9i, setiap hari, di berbagai tempat. Penjelasan ilmiahnya? Ini. WINE. Para ilmuwan tertarik pada dua senyawa alami dari kulit anggur, terutama anggur merah, yaitu resveratrol dan polifenol yang ikut larut selama proses fermentasi wine. Dalam jumlah moderat, dua senyawa ini bekerja layaknya “perisai”, bagi sistem kardiovaskular (jantung). Pembuluh darah jadi lentur, dan tidak akan ada cerita arteri tersumbat. Paket senyawa bioaktif dari setengah gelas red wine, sudah teruji saintifik mendukung fungsi alami pembuluh darah dan jantung. Ditambah dengan kehadiran orang terdekat, kawan karib atau sahabat, jadilah killer-combo bagi hormon stress (kortisol). Kemudian… WANITA. Nah ini yang menarik. Silakan jawab jujur. Setiap kali Anda berpapasan dengan wanita cantik menarik, berapa kali, Anda mengalami desir, untuk menyapa, berkenalan, berbincang, bercakap, dan berkenalan? Pasti tidak terhitung. Lalu jawab jujur lagi. Berapa kali tiba-tiba Anda menekan keinginan alami untuk berinteraksi secara kasual tersebut, dengan kalimat: “Ah, nanti dia terganggu. Ah, nanti dia illfeel. Ah, nanti cowoknya/suaminya muncul”? Pasti ribuan kali.
Leong Putu
Saya mungkin juga alami gangguan jantung. Jantung selalu berdebar jika duduk mepet admin kantor saat makan siang. Harus periksa di mana?
Johannes Kitono
MCU di Kuching. Setiap tahun beta MCU ( Medical Check up ) di Borneo Medical Centre, Kuching, Sarawak. Sudah berlangsung 8 tahun berturut. Bukan tidak nasionalis tapi lebih praktis. Setelah bikin appointment. Pagi pagi naik Air Asia Jakarta-Kuching 1,5 jam. Dari bandara ke BMC naik Grab 15 menit only RM 15,- Sesuai SOP. Teng jam 13.00 cek tensi, ambil darah , urine, treadmill didamping dr Kardiolog. Rontgen dsbnya selesai semua dalam 3 jam. Kardiolog jelaskan sekilas kondisi jantung. Besok pagi tinggal ambil hasil dan konsultasi sama dr. Biaya MCU Eksekutip RM.850,- x Rp.4.500,= Rp.3.825.00,-, silahkan banding dengan di Jakarta. Harus diakui bahwa dokter pintar dan jago banyak di Jakarta. Tapi apakah rakyat biasa gampang ketemu mereka. Tidak heran 50 % pasien Timberland dan BMC dari Indonesia. Konon Medical Turisme ini sudah dipersiapkan Dr Muh Mathatir 40 tahun yang lalu. RS Kuching dan Penang ada Agennya di Pontianak dan Jakarta. Pasien Indonesia yang mau kontrol ulang. Tinggal lapor Agen dan ambulan RS sudah tunggu dan jemput pasien di bandara. Sebelum kurs RM naik dari 3.500 rb ke 4.500 rb. Biaya berobat di Makaysia lebih murah 30 % dibanding Jakarta. Selesai MCU di Kuching bisa naik mobil pulkam ke Sanggau via Entikong. Tentu jangan lupa ciak Bak Kut Tea dulu di jalan Laksamana Chengho. Ayo manteman MCU di Kuching.Cukup bawa 10 jt dan masih ada sisa buat oleh oleh. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.
yea aina
Karena mau berobat ke LN, NSD pilih undur diri sebagai kepala BGN. Sebuah badan nasional setingkat menteri, dengan kucuran APBN ratusan Ton. Jabatan tinggi. Anggaran besar. Ia diangkat sebagai kepala BGN, setelah 3 orang level pimpinannya dicokok APH, dugaannya skandal mark up dan korupsi. 45 hari menjadi kepala tukang cuci ompreng “pesta” BGN, memang berat. “Bancakan” yang sudah usai, atau masih akan berlanjut lagi.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
SEPULUH TAHUN LEBIH MUDA, MITOS ATAU SAINS? Ucapan Prof. Habibie bahwa setelah operasi jantung terasa “10 tahun lebih muda” bukanlah ukuran ilmiah. Tidak ada penelitian yang menyatakan operasi jantung dapat mengurangi umur biologis tepat 10 tahun. Angka itu lebih merupakan metafora tentang perubahan kualitas hidup. Namun, sains memberi pijakan. Banyak penelitian menunjukkan pasien pascaoperasi jantung mengalami peningkatan nyata pada kapasitas fisik, energi, dan kualitas hidup. Bahkan, pasien usia lanjut sering merasakan perbaikan yang paling besar. Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah “subjective age”. Yaitu usia yang kita rasakan. Saat nyeri dada hilang, napas kembali lega, dan aktivitas normal pulih, seseorang memang dapat merasa jauh lebih muda daripada umur di KTP. Rasa itu berkorelasi dengan kualitas hidup yang lebih baik. Jadi, “10 tahun lebih muda” bukan rumus matematika. Itu “bahasa pengalaman”. Tetapi pengalaman itu bukan sekadar perasaan. Ada dasar ilmiahnya: Ketika jantung kembali bekerja optimal, tubuh dan pikiran ikut merasakan kehidupan yang seperti mendapat babak baru.

















