INDOPOSCO.ID – Delegasi Uni Eropa bersama para duta besar dan pejabat tinggi dari 12 negara anggota Uni Eropa mengunjungi Minahasa Utara, Sulawesi Utara, untuk meninjau pelaksanaan program konservasi laut dan penguatan perikanan pesisir di kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), Sabtu (18/7/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program Marine Biodiversity and Support of Coastal Fisheries in the Coral Triangle yang didanai Uni Eropa melalui Bank Pembangunan Jerman (KfW) dan dilaksanakan bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), serta Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program.
Delegasi yang terdiri dari perwakilan Belanda, Austria, Prancis, Spanyol, Bulgaria, Lithuania, Belgia, Portugal, Republik Ceko, Irlandia, Denmark, Finlandia, serta Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia meninjau kawasan konservasi laut sekaligus berdialog dengan masyarakat pesisir di Desa Gangga Dua, Bahoi, Lihunu, Tarabitan, Bulutui, dan Galo-Galo.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Karena itu, Uni Eropa melalui strategi Global Gateway terus mendukung berbagai upaya pelestarian ekosistem laut yang berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Indonesia memiliki peran penting bagi dunia karena menjadi rumah bagi salah satu ekosistem laut terkaya di bumi. Melalui strategi Global Gateway, Uni Eropa mendukung pemulihan terumbu karang, penguatan sektor perikanan, dan penciptaan peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa menjaga kelestarian alam dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Denis Chaibi.
Program yang telah berjalan sejak 2019 tersebut bertujuan memperkuat pengelolaan kawasan konservasi perairan, tata kelola perikanan berkelanjutan, serta meningkatkan penghidupan masyarakat pesisir di Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Program ini juga menjadi bagian dari upaya perlindungan ekosistem laut di kawasan Segitiga Terumbu Karang yang mencakup Indonesia dan Filipina.
Mewakili Direktur Jenderal KSDAE, Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE Nandang Prihadi mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, Uni Eropa, KfW, WCS, dan seluruh mitra yang telah berkontribusi dalam program tersebut.
Menurutnya, kunjungan lapangan menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama internasional sekaligus memperlihatkan praktik-praktik terbaik dalam pengelolaan kawasan konservasi dan pemberdayaan masyarakat di Sulawesi Utara.
Selama pelaksanaannya, program ini telah mendukung pembentukan dan penguatan pengelolaan 21 kawasan konservasi perairan seluas 1,63 juta hektare di Sulawesi Utara, Maluku Utara, Aceh, dan Nusa Tenggara Barat. Kawasan tersebut mencakup perlindungan 16.613 hektare terumbu karang, 14.318 hektare mangrove, dan 10.582 hektare padang lamun.
Di sektor perikanan berkelanjutan, empat kawasan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem berhasil menjaga kesehatan stok 27 spesies ikan utama, termasuk kakap, kerapu, dan ikan pelagis kecil. Salah satu capaian terlihat di Desa Gangga Dua, di mana penerapan penutupan musim penangkapan ikan bagan yang disepakati nelayan mampu meningkatkan pendapatan dari sekitar Rp20 juta menjadi Rp48 juta per musim.
Program ini juga mendorong tumbuhnya usaha berbasis konservasi di masyarakat pesisir. Sebanyak 29 Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) dan 19 komunitas pesisir kini mengembangkan berbagai usaha, seperti pengolahan hasil laut hingga produk olahan pangan yang turut meningkatkan pendapatan dan memperkuat peran ekonomi perempuan.
Di sektor pariwisata, kelompok sadar wisata di Desa Bahoi dan Lihunu mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat melalui kegiatan snorkeling, homestay, dan jasa pemandu wisata. Desa Lihunu bahkan masuk dalam daftar 500 Desa Wisata Terbaik Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024.
Secara keseluruhan, program ini telah memberikan manfaat langsung kepada 5.752 orang dan menjangkau sekitar 24.542 penerima manfaat tidak langsung melalui peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan, dan pengembangan mata pencaharian berkelanjutan.
Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus menyampaikan apresiasi atas dukungan Uni Eropa dan para mitra internasional terhadap upaya konservasi di daerahnya.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, saya menyampaikan selamat datang kepada Delegasi Uni Eropa. Kunjungan ini merupakan kehormatan bagi kami karena menegaskan kuatnya sinergi internasional dalam mendukung agenda keberlanjutan global di Sulawesi Utara,” kata Yulius.
Melalui kunjungan tersebut, Uni Eropa bersama pemerintah dan para mitra menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pengelolaan perikanan berkelanjutan, ekonomi biru (blue economy), dan pariwisata berbasis alam. Kolaborasi ini diharapkan mampu menjaga keanekaragaman hayati laut Indonesia sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan. (srv)


















