INDOPOSCO.ID – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan menyusul tingginya konsentrasi hotspot. Di sisi lain, kondisi positif terlihat di Riau dan Jambi yang pada pemantauan terakhir tercatat nihil hotspot high confidence.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri, Kemenhut Ristianto Pribadi mengatakan, pengendalian karhutla terus dilakukan bersama tim gabungan dengan memperkuat patroli, pemadaman darat, hingga operasi udara.
“Terutama di wilayah Kalimantan yang pada pemantauan terakhir menunjukkan konsentrasi hotspot relatif tinggi,” ujar Ristianto dalam keterangan, Sabtu (12/9/2026).
Berdasarkan data SiPongi Kemenhut yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Jumat (11/9) pukul 21.15 WIB terdapat 688 hotspot high confidence secara nasional. Angka itu meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 569 titik.
Ia menyebut, Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas, yakni 271 titik, meningkat tajam dari 96 titik. Dan, Kalimantan Barat tercatat 51 titik, naik dari 39 titik, sedangkan Kalimantan Selatan mencapai 47 titik, meningkat dari sebelumnya 9 titik.
Sementara itu, lanjut dia, di Sumatera Selatan terpantau 11 titik, turun dari 34 titik. Riau dan Jambi masing-masing nihil hotspot high confidence, dari sebelumnya 18 titik dan 2 titik.
Ia mengatakan, Kemenhut bersama Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pihak terus melakukan groundcheck, pemadaman, penyekatan penjalaran api, mopping up, serta pendinginan.
“Untuk memperkuat operasi udara, pemerintah sebelumnya telah menyiagakan 53 armada di enam provinsi prioritas. Sebanyak 34 armada digunakan untuk water bombing, sementara 19 armada lainnya mendukung patroli udara dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC),” ungkapnya.
Ia menambahkan, kemampuan tersebut kini diperkuat dengan dukungan Pemerintah Jepang melalui tiga helikopter CH-47 Chinook milik Japan Ground Self-Defense Force (JGSDF). Ketiga helikopter telah tiba di Terminal Kijing, Kalimantan Barat, dan dipersiapkan untuk mendukung operasi water bombing.
“Dukungan Jepang juga melibatkan sekitar 180 personel. Sebelum digunakan, ketiga helikopter akan menjalani persiapan teknis dan flight test guna memastikan aspek keselamatan dan kesiapan operasional,” katanya.
Ia menegaskan, dukungan tersebut menjadi bagian dari kerja sama Indonesia-Jepang dalam bidang Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR). Operasi helikopter akan diawasi TNI, sementara misi penerbangan dikoordinasikan bersama BNPB.
“Dukungan Jepang bersifat memperkuat kemampuan nasional yang telah dikerahkan dan akan diintegrasikan dengan keseluruhan operasi pengendalian karhutla pemerintah,” jelasnya.
Ia mengingatkan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak otomatis menunjukkan satu kejadian kebakaran. Karena itu, setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi di lapangan.
Di kawasan gambut, dikatakan dia, pemadaman dan pendinginan juga dilakukan secara berkelanjutan karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan meski api tidak lagi terlihat.
Sementara itu, lanjut dia, kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan masih menjadi perhatian. Berdasarkan pemantauan PM2,5, sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang, namun terdapat sejumlah area dengan kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Bahkan, menurutnya, beberapa wilayah Kalimantan terpantau berada pada kategori berbahaya. “Kami mengimbau masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat yang menemukan asap, titik api, maupun indikasi kebakaran diminta segera melapor agar dapat ditangani sedini mungkin,” katanya. (nas)














