INDOPOSCO.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu wilayah prioritas dalam program revitalisasi satuan pendidikan. Kebijakan tersebut menyasar sekolah-sekolah yang berada di wilayah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T).
Menurut Mu’ti, revitalisasi sarana dan prasarana pendidikan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memenuhi arahan Presiden Prabowo Subianto dalam pelaksanaan Wajib Belajar 13 Tahun.
“Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu wilayah yang diprioritaskan dalam program revitalisasi karena memiliki sejumlah sekolah yang berada di daerah 3T,” kata Mu’ti dalam keterangan, Sabtu (12/9/2026).
Pada 2026, ia menyebut sebanyak 1.487 satuan pendidikan di NTT menjadi sasaran revitalisasi dengan total anggaran mencapai Rp1,208 triliun. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya sekaligus menjadi cakupan revitalisasi terbesar yang pernah dilakukan di NTT.
Program tersebut, menurutnya, mencakup seluruh jenjang pendidikan. Sekolah dasar (SD) menjadi penerima terbanyak, yakni 644 sekolah dengan anggaran Rp702,88 miliar. Berikutnya 603 PAUD senilai Rp232,46 miliar, 136 SMP Rp161,51 miliar, dan 69 SMA Rp72,71 miliar.
“Dukungan juga diberikan kepada 13 SMK dengan anggaran Rp12,16 miliar, 14 SLB sebesar Rp21,72 miliar, serta delapan PKBM/SKB senilai Rp5,25 miliar,” bebernya.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas PNFI) Gogot Suharwoto menambahkan, setiap anak berhak mendapatkan lingkungan belajar yang aman dan layak, tanpa melihat lokasi tempat tinggalnya.
“Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk terus memperluas pemerataan layanan pendidikan, terutama bagi sekolah-sekolah yang masih membutuhkan peningkatan sarana dan prasarana,” ujar Gogot.
Dia mengatakan, revitalisasi tidak berdiri sendiri. Program tersebut berjalan beriringan dengan digitalisasi pembelajaran, peningkatan kapasitas guru, dan berbagai upaya peningkatan kualitas proses belajar mengajar.
Ia menyebut, pada 2025 lalu dukungan digitalisasi pembelajaran di NTT telah menjangkau 8.985 satuan pendidikan dengan nilai bantuan lebih dari Rp297,27 miliar.
“Anak-anak kita membutuhkan ruang belajar yang aman dan nyaman, tetapi pada saat yang sama mereka juga berhak mendapatkan akses terhadap pembelajaran yang semakin berkualitas dan relevan dengan perkembangan zaman,” katanya. (nas)















