INDOPOSCO.ID – Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional, pemanfaatan sumber energi baru terbarukan terus menjadi salah satu solusi untuk mendukung ketahanan energi. Salah satunya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yang memanfaatkan aliran sungai untuk menghasilkan listrik secara berkelanjutan. PT North Sumatera Hydro Energy (PT NSHE) memperkenalkan teknologi yang diterapkan pada PLTA Batangtoru, yakni sistem run-of-river, yang memanfaatkan aliran Sungai Batang Toru sebagai sumber energi utama.
Sebelum memasuki masa operasional, pengembangan PLTA Batangtoru melalui berbagai tahapan, mulai dari kesiapan infrastruktur, pengujian sistem, penerapan standar keselamatan, hingga pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Seluruh proses tersebut dilakukan untuk memastikan pembangkit dapat beroperasi secara aman dan sesuai standar.
Manager Design Construction PT NSHE, Arwan Kahfi, mengatakan setiap tahapan dipersiapkan secara menyeluruh agar seluruh sistem pembangkit berfungsi optimal saat mulai beroperasi.
“Setiap tahapan dipersiapkan secara menyeluruh untuk memastikan seluruh sistem pembangkit dapat berfungsi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Kesiapan tersebut tidak hanya mencakup infrastruktur dan peralatan, tetapi juga berbagai aspek pendukung yang menjadi bagian dari keseluruhan proses pembangunan,” ujar Kahfi.
PLTA Batangtoru merupakan pembangkit listrik tenaga air berkapasitas terbesar di Pulau Sumatra yang dikembangkan menggunakan sistem run-of-river dengan dukungan daily pondage atau kolam tandon harian. Melalui sistem tersebut, aliran Sungai Batang Toru dimanfaatkan sebagai sumber energi utama dengan pengaturan harian sehingga mampu menghasilkan kapasitas pembangkitan yang besar.
Menurut Kahfi, salah satu keunggulan PLTA Batangtoru adalah kemampuan high ramping rate, yakni mampu meningkatkan daya secara cepat ketika sistem kelistrikan membutuhkan tambahan pasokan listrik.
“Melalui pendekatan ini, PT NSHE tidak hanya berupaya menghadirkan pembangkit yang mendukung penyediaan energi baru terbarukan, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan sistem kelistrikan melalui karakter pembangkit yang responsif. Kemampuan ramping rate yang tinggi memungkinkan pembangkit dapat segera beroperasi ketika dibutuhkan, sehingga berperan dalam menopang keandalan dan stabilitas sistem kelistrikan,” katanya.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu karakter penting PLTA Batangtoru dalam mendukung sistem interkoneksi Sumatra, terutama ketika sistem membutuhkan tambahan pasokan listrik dalam waktu singkat. Dengan teknologi tersebut, pembangkit diharapkan mampu membantu menjaga keandalan dan stabilitas pasokan listrik di Pulau Sumatra.
Selain itu, sistem run-of-river dengan pengaturan harian memungkinkan penggunaan waduk yang relatif lebih kecil karena tidak berfungsi sebagai waduk tahunan. Dengan pendekatan tersebut, PLTA Batangtoru tetap mampu menghasilkan kapasitas pembangkitan yang besar sekaligus mengedepankan aspek keselamatan dan pengendalian risiko operasional.
Di samping aspek teknis, pembangunan PLTA Batangtoru juga memperhatikan aspek lingkungan dan sosial sebagai bagian dari prinsip pembangunan berkelanjutan. Berbagai program pengelolaan lingkungan serta pemberdayaan masyarakat dijalankan agar pengembangan proyek dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat di sekitar kawasan proyek.
Kahfi mengatakan, pengembangan PLTA Batangtoru merupakan bagian dari upaya menghadirkan energi baru terbarukan yang tetap memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan pelestarian lingkungan.
“Dalam sistem interkoneksi Sumatra yang masih didominasi suplai oleh pembangkit fosil, khususnya batu bara, kehadiran PLTA Batangtoru dapat menghasilkan penurunan emisi gas CO2 hingga 1,9 juta ton per tahun,” pungkasnya.
Melalui pengembangan proyek tersebut, PT NSHE berharap masyarakat semakin memahami cara kerja pembangkit listrik tenaga air, mulai dari tahap pembangunan hingga operasional. Kehadiran PLTA Batangtoru juga diharapkan dapat mendukung penyediaan energi bersih, memperkuat keandalan sistem kelistrikan nasional, serta berkontribusi terhadap upaya penurunan emisi karbon secara berkelanjutan.(ibs)

















