INDOPOSCO.ID – Daya saing pekebun kelapa sawit tidak hanya ditentukan oleh penggunaan benih unggul atau penerapan teknik budidaya yang baik. Pengelolaan sarana dan prasarana kebun yang tepat juga menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas panen, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperkuat daya saing usaha perkebunan rakyat di tengah tantangan industri yang semakin kompleks.
Pemahaman tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pelatihan Sarana dan Prasarana Perkebunan Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Pelatihan diikuti 35 pekebun dari Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah (Sulteng) pada 6–11 Juli 2026 di Kota Palu.
Wakil Direktur AKPY, Idum Satia Santi, mengatakan bahwa pengelolaan sarana dan prasarana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan kelapa sawit rakyat.
Menurutnya, infrastruktur kebun yang terawat, peralatan yang digunakan secara efisien, serta penerapan teknologi yang tepat akan mendukung kelancaran aktivitas di lapangan, menjaga mutu tandan buah segar (TBS), sekaligus menekan biaya operasional.
“Materi kelas Sarana dan Prasarana Perkebunan Kelapa Sawit memberikan pemahaman mengenai pengelolaan infrastruktur kebun, perawatan peralatan, pemanfaatan teknologi secara efisien, serta penerapan standar lingkungan yang mendukung keberlanjutan usaha perkebunan,” ujar Idum.
Ia menegaskan bahwa peningkatan daya saing sawit Indonesia tidak hanya bergantung pada investasi fisik, tetapi juga pada kemampuan pekebun mengelola seluruh aspek usaha perkebunan secara profesional.
“Keberhasilan sawit Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk yang digunakan. Yang paling menentukan adalah kualitas manusianya, kualitas petaninya,” tegasnya.
Idum optimistis, apabila praktik budidaya dijalankan sesuai standar dan didukung pengelolaan sarana-prasarana yang baik, produktivitas kebun rakyat akan meningkat, distribusi hasil panen menjadi lebih efisien, kualitas TBS lebih terjaga, dan pada akhirnya pendapatan pekebun ikut meningkat.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Morowali Utara, Krispen H. Masu, menilai pengelolaan sarana dan prasarana yang efektif menjadi salah satu tantangan utama yang harus dijawab pekebun agar mampu mengembangkan usaha secara mandiri.
Menurutnya, sektor perkebunan kelapa sawit memiliki peran strategis dalam menggerakkan perekonomian daerah.
Namun, peningkatan produktivitas tidak akan tercapai tanpa didukung kemampuan pekebun dalam mengelola kebun secara profesional, termasuk memastikan infrastruktur dan fasilitas pendukung berfungsi secara optimal.
“Perkebunan sawit saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari peningkatan produktivitas, pengelolaan sarana dan prasarana yang efektif, hingga persoalan pertanahan. Karena itu kapasitas pekebun harus terus ditingkatkan agar mampu mengelola kebunnya secara lebih profesional dan mandiri,” katanya.
Krispen menambahkan, pengembangan perkebunan sawit rakyat tidak boleh hanya bertumpu pada perusahaan besar.
Pekebun swadaya juga harus memiliki kemampuan mengelola kebun secara efisien sehingga mampu menghasilkan panen berkualitas, memperkuat posisi tawar, dan meningkatkan daya saing di pasar.
Ia berharap seluruh peserta memanfaatkan pelatihan untuk menyerap pengetahuan sekaligus berbagi pengalaman sehingga setelah kembali ke daerah masing-masing mampu menerapkan pengelolaan sarana dan prasarana yang lebih baik di kebunnya.
Melalui pelatihan yang didukung BPDP dan Ditjenbun tersebut, AKPY berharap lahir pekebun yang tidak hanya menguasai aspek budidaya, tetapi juga mampu mengelola infrastruktur kebun secara efektif.
Dengan demikian, kualitas panen dapat dipertahankan, proses logistik menjadi lebih efisien, biaya usaha dapat ditekan, dan daya saing perkebunan kelapa sawit rakyat Indonesia semakin meningkat. (srv)

















