INDOPOSCO.ID – Konsumsi rokok di kalangan anak Indonesia masih menjadi persoalan serius. Hasil survei terbaru yang dirilis Ruang Kebijakan Kesehatan (RUKKI) Foundation mengungkap sebanyak 2,03 juta anak Indonesia mengonsumsi sekitar 4,14 miliar batang rokok sepanjang 2025. Dari kebiasaan tersebut, total pengeluaran anak-anak untuk membeli rokok diperkirakan mencapai Rp4,5 triliun.
Pegiat perlindungan konsumen sekaligus Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, menilai temuan tersebut sangat masuk akal dan memperkuat data nasional mengenai tingginya prevalensi perokok anak.
“Hasil studi yang dilakukan oleh RUKKI itu sangat rasional dan faktual, sebab jika merujuk pada hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi perokok anak di Indonesia mencapai 7,4 persen atau sekitar 6 juta anak,” kata Tulus melalui gawai, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, survei RUKKI menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia semakin terjebak dalam adiksi nikotin, baik dari rokok konvensional maupun rokok elektronik.
Ia mengingatkan bahwa persoalan tersebut tidak hanya mengancam kesehatan generasi muda, tetapi juga memperbesar beban ekonomi keluarga. Sebab, sebagian besar anak usia sekolah belum memiliki penghasilan sendiri sehingga kebutuhan membeli rokok dipenuhi dari uang saku yang diberikan orang tua.
“Dari sisi ekonomi, tingginya volume konsumsi rokok pada anak akan menjadi beban tambahan bagi orang tua. Anak usia sekolah belum memiliki penghasilan selain uang saku. Tidak sedikit anak meminta tambahan uang dengan berbagai alasan, padahal digunakan untuk membeli rokok,” ujarnya.
Tulus mengatakan fenomena ini justru banyak terjadi pada kelompok masyarakat menengah ke bawah yang selama ini diketahui mengalokasikan lebih dari 23 persen pendapatannya untuk membeli rokok.
Ia menegaskan, apabila kondisi tersebut tidak segera ditangani secara serius, Indonesia berpotensi kehilangan bonus demografi akibat meningkatnya jumlah generasi muda yang mengalami gangguan kesehatan sejak usia dini.
“Fenomena yang amat mengkhawatirkan ini harus segera dimitigasi oleh multipihak. Jika tidak ada upaya mitigasi yang serius, maka masa depan anak Indonesia akan menjadi taruhannya dan angka prevalensi merokok akan terus meningkat,” tegas Tulus.
Ia pun mengingatkan bahwa cita-cita mewujudkan Generasi Emas Indonesia akan sulit tercapai apabila angka perokok anak terus meningkat.
“Jangan bermimpi tentang target Generasi Emas jika anak dan remaja justru menjadi tumbal kepentingan industri rokok. Bonus demografi hanya akan menghasilkan generasi muda yang sakit-sakitan akibat perilaku dan gaya hidup yang tidak sehat,” tambahnya. (her)


















