INDOPOSCO.ID – Peringatan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) ke-33 yang diperingati pada 29 Juni Tahun 2026 bukan sekadar agenda seremonial. Momentum ini menjadi pengingat nasional bahwa keluarga adalah fondasi utama pembangunan sumber daya manusia dan penentu kualitas generasi Indonesia ke depan, di tengah ancaman nyata seperti kekerasan remaja, perundungan, penyalahgunaan narkoba, dan pergaulan bebas.
Sekretaris Utama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Prof. Budi Setyono, menegaskan bahwa ketahanan keluarga kini bukan pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
“Keluarga yang kuat akan melahirkan generasi yang sehat, berkarakter, dan berdaya saing. Sebaliknya, keluarga yang rapuh akan semakin rentan menghadapi berbagai persoalan sosial yang berdampak pada masa depan bangsa,” tegasnya.
Mengangkat tema “Ayah Wajib Hadir”, HARGANAS tahun ini secara khusus menyoroti peran strategis ayah dalam pengasuhan anak. Prof. Budi mengutip hasil meta-analisis terbaru (Zheng et al., 2026) yang menggabungkan 65 penelitian dengan lebih dari 154.000 anak. Hasilnya konsisten: keterlibatan langsung, kehangatan, dan kemampuan ayah menunjukkan kasih sayang berkorelasi signifikan dengan perkembangan sosial-emosional anak yang lebih baik. Temuan itu diperkuat data akademik lain. Penelitian Jeynes dkk. (2014) melalui meta-analisis terhadap 66 studi menemukan bahwa keterlibatan ayah berkorelasi positif dengan prestasi akademik anak.
“Peran ayah tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Kehadiran ayah secara fisik dan emosional memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter, kepercayaan diri, serta kesehatan mental anak,” ujar Prof. Budi.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia saat ini berada pada fase bonus demografi, yakni kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif jauh melampaui usia nonproduktif. Namun ia mengingatkan peluang ini tidak otomatis menguntungkan. “Bonus demografi tidak otomatis menjadi keuntungan. Keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang kita miliki,” katanya.
Untuk itu, pemerintah mendorong pembangunan kualitas SDM melalui tiga pilar utama dalam keluarga: kesehatan keluarga dengan prioritas pencegahan stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, pendidikan karakter yang menanamkan integritas dan tanggung jawab sejak dini, serta ketahanan mental dan spiritual agar rumah menjadi ruang aman bagi seluruh anggota keluarga.
Prof. Budi turut menyoroti ancaman disrupsi digital yang masuk langsung ke ruang-ruang keluarga. Ia meminta orang tua tidak pasif menghadapi perkembangan teknologi. “Gadget dan internet harus dimanfaatkan sebagai sarana belajar, berkarya, dan berinovasi, bukan menjadi penyebab renggangnya hubungan dalam keluarga,” tegasnya.
Pemerintah, lanjut Prof. Budi, berkomitmen memperkuat kebijakan yang berpihak pada keluarga, memperluas akses layanan dasar, serta mendukung terwujudnya keluarga Indonesia yang berkualitas. Ia mengajak seluruh ayah di Indonesia untuk meluangkan waktu berkualitas bersama keluarga dan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.
“Tidak akan ada sumber daya manusia unggul tanpa keluarga yang kuat. Tidak akan ada Indonesia Emas 2045 tanpa generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing. Mari kita jadikan keluarga sebagai fondasi utama pembangunan bangsa,” pungkasnya. (ney)

















