• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Viralitas Media Sosial sebagai Jembatan Pemasaran Hasil Pertanian

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Jumat, 19 Juni 2026 - 14:31
in Ekonomi
Share on FacebookShare on Twitter

oleh: Muhammad Fajry Novriandi, mahasiswa prodi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kalau kita mau jujur melihat realitas di lapangan, sistem distribusi komoditas pangan di wilayah Sumatera dan area kepulauan sekitarnya itu sebenarnya masih kacau dan tidak efisien. Sampai detik ini, mata rantai perdagangan kita masih saja terbelenggu oleh pola-pola lama yang sangat merugikan pihak produsen hulu.

BacaJuga:

PGN Dorong Pemanfaatan Gas Bumi Rumah Tangga lewat Program Bedah Dapur GasKita 2026

Strategi Bisnis Berkelanjutan ANTAM Diakui, Masuk Tiga Indeks ESG KEHATI Sekaligus

Industri Halal Sumbang 27 Persen PDB, BPJPH dan ESQ Bersinergi Perkuat Fondasi SDM

Ada satu kondisi yang sangat timpang dan mempribatinkan di depan mata kita: para petani di wilayah pedesaan sudah mencurahkan segenap waktu, biaya, bahkan tenaga mereka hanya untuk mengolah lahan pertanian agar tetap produktif, tetapi anehnya margin keuntungan terbesar justru dinikmati oleh jaringan pedagang perantara atau tengkulak.

Skema perdagangan konvensional yang tidak adil ini secara nyata perlahan-lahan mematikan kesejahteraan para produsen di sektor hulu secara sistemik tanpa ada upaya perlindungan yang konkret dari pemangku kebijakan daerah.

Ketika keringat para petani kita terus-menerus dihargai dengan sangat murah oleh pasar, dampak buruknya langsung merembet ke mana-mana, terutama pada penurunan minat generasi muda untuk menekuni dunia pertanian secara profesional. Akhirnya, bidang agribisnis di tingkat daerah selalu saja dipandang sebelah mata serta dinilai rendah karena dianggap sama sekali tidak mampu menjanjikan kemandirian finansial yang mapan bagi masa depan anak muda.

Kondisi dilematis tersebut kian diperparah oleh kuatnya pandangan miring yang telanjur mengakar di tengah kehidupan masyarakat mengenai eksistensi profesi petani itu sendiri yang sering kali diidentifikasi dengan keterbelakangan ekonomi dan ketidakpastian pendapatan bulanan.

Publik secara umum cenderung mengasosiasikan aktivitas bercocok tanam sebagai corak pekerjaan kelas bawah yang kotor, melelahkan, penuh lumpur, dan lekat dengan kemiskinan struktural yang sulit diputus perilakunya. Persepsi keliru inilah yang memicu mayoritas pemuda terdidik di daerah lebih memilih untuk mengadu nasib ke kota-kota besar demi mengejar status sosial sebagai pekerja kantoran ataupun buruh industri pabrik.

Padahal, jika kita mau sedikit membuka mata dan menyentuhnya dengan manajemen bisnis modern, potensi produk pertanian lokal di Jambi maupun wilayah Kepulauan Riau memiliki nilai jual yang sangat kompetitif dan menjanjikan keuntungan yang melimpah jika dikelola dengan strategi pemasaran yang tepat sasaran.

Namun, kalau kita perhatikan belakangan ini, arah angin perubahan tampaknya mulai berembus seiring dengan masifnya pemanfaatan platform virtual oleh para pelaku usaha muda di sektor pertanian. Media sosial berbasis visual seperti TikTok, Instagram Reels, serta platform X kini menjelma menjadi sebuah infrastruktur ekonomi baru yang sangat potensial bagi seluruh ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir.

Hasil penelitian perilaku produsen menunjukkan bahwa pergeseran ini didorong oleh fakta ilmiah bahwa sebanyak 51 persen petani dari generasi muda kini menggunakan platform digital sebagai sumber informasi utama sekaligus instrumen vital untuk memperluas jaringan bisnis mereka secara mandiri tanpa sekat geografis.

Lewat dukungan sistem algoritma video pendek dan efek penyebaran informasi yang sangat cepat, hasil bumi kini dapat dipasarkan secara langsung dari area perkebunan menuju tangan konsumen akhir di pusat kota. Keunggulan mutlak dari platform digital ini terletak pada kemampuannya untuk mengeliminasi rantai pasok yang terlalu panjang, yang selama ini menekan pendapatan bersih para petani kecil di pedesaan.

Riset ekonomi pertanian menunjukkan memotong rantai pasok tradisional lewat pemasaran digital berbasis komunitas terbukti secara signifikan dapat meningkatkan pendapatan petani kecil berkisar antara 25 hingga 26 persen dibandingkan mereka yang bertahan dengan model konvensional.

Kehadiran media sosial sukses mendobrak sekat pembatas tersebut melalui penyediaan fitur transaksi langsung antara produsen dan konsumen secara transparan (Direct-to-Consumer). Skema penjualan daring yang dipadukan dengan metode prapesan (pre-order) memberikan kedaulatan penuh bagi pelaku agribisnis untuk menentukan nilai jual produk mereka sendiri tanpa intervensi pihak luar.

Mereka tidak lagi memiliki ketergantungan yang tinggi atau terpaksa menerima harga murah yang ditetapkan sepihak oleh para tengkulak di pasar induk, sehingga keadilan ekonomi dapat tercipta secara langsung di ruang digital secara berkelanjutan.

Tidak kalah penting, ekosistem digital ini turut membuka keran kreativitas bagi lahirnya produk hilirisasi pertanian yang bernilai tambah tinggi bagi komoditas lokal. Melalui paparan tren yang bergerak cepat di media sosial, generasi muda pelaku agribisnis terstimulasi untuk tidak lagi menjual komoditas dalam bentuk mentah yang harganya sangat fluktuatif di pasaran.

Mereka mulai mengolah hasil panen menjadi produk siap konsumsi, seperti keripik buah premium, bubuk cabai berkualitas tinggi, hingga minuman herbal kekinian yang dikemas secara modern. Dalam studi perilaku konsumen perkotaan, elemen informasi visual dan kredibilitas konten yang dibagikan secara berkala oleh petani terbukti menjadi faktor penentu utama yang paling berpengaruh dalam mendorong keputusan pembelian langsung.

Jika kita melakukan komparasi global dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat atau negara anggota Uni Eropa, pemanfaatan media sosial di sektor hulu pertanian mereka sudah melangkah jauh ke arah pembentukan ekosistem industri yang mapan. Di negara maju, media sosial diintegrasikan secara profesional untuk membangun reputasi merek jangka panjang, kampanye keberlanjutan lingkungan (sustainability marketing), serta pengembangan sektor agritourism yang terintegrasi.

Petani di luar negeri memanfaatkan video pendek sehari-hari untuk melakukan storytelling marketing yang mengedukasi konsumen tentang proses penanaman yang etis, higienis, dan ramah lingkungan, sehingga konsumen bersedia membayar jauh lebih mahal karena faktor kepercayaan. Selain itu, mereka aktif menggunakan komunitas digital untuk bertukar data mengenai prediksi cuaca, analisis hama secara real-time, hingga integrasi dengan teknologi pintar berbasis satelit (Smart Farming).

Namun, di balik semua kelebihan dan rasa optimisme tersebut, kita tetap harus mengkritisi persoalan ketimpangan penetrasi teknologi yang melanda wilayah pedalaman Indonesia. Cukup ironis menyaksikan jembatan ekonomi digital yang canggih ini baru bisa diakses secara optimal oleh pelaku agribisnis di kawasan perkotaan atau pinggiran kota saja.

Faktanya, sebagian besar petani gurem di area pedalaman masih kesulitan menghadapi arus digitalisasi akibat minimnya literasi gawai, mahalnya kuota internet, serta keterbatasan infrastruktur sinyal di sektor hulu. Dampak dari ketimpangan sarana teknologi ini adalah lahirnya jurang kesenjangan sosial-ekonomi baru yang membuat petani pelosok rentan terus menjadi sasaran eksploitasi tengkulak konvensional.

Guna mengatasi persoalan besar tersebut, jalan keluar jangka panjang yang wajib diimplementasikan adalah program edukasi digital secara berkesinambungan melalui sinergi erat Dinas Pertanian daerah beserta jajaran akademisi perguruan tinggi. Pelatihan kelompok tani di tingkat pedesaan harus berani menyentuh sektor hilir seperti manajemen pemasaran digital, teknik pemotretan produk yang menarik minat konsumen, serta sistem pembukuan keuangan digital yang akurat.

Pada poin inilah mahasiswa agribisnis dituntut mengambil peran nyata di lapangan sebagai motor penggerak pembaruan desa melalui program pengabdian masyarakat, sekaligus mendorong pendirian koperasi modern untuk mengelola promosi digital secara kolektif agar mampu bersaing di pasar nasional.

Kesimpulannya, masa depan dari ketahanan pangan di tingkat regional tidak lagi ditakar dari seberapa luas area persawahan yang tersisa di desa. Keberlanjutan sektor pertanian kini sangat bertumpu pada seberapa jeli kita mengoptimalkan fungsi ruang siber demi melindungi hak ekonomi para produsen pangan lokal kita.

Mencontoh peta jalan digitalisasi pertanian di negara maju, transformasi ini membutuhkan kolaborasi kelembagaan yang kuat, bukan sekadar pergerakan individu petani yang sporadis. Viralitas media sosial telah menjelma menjadi instrumen pasar yang adil bagi siapa saja yang memiliki produk bermutu tinggi, sehingga agribisnis daerah akan tumbuh menjadi sektor yang mandiri, dihormati, serta sejahtera.*

Tags: Hasil Pertanianmedia sosialMuhammad Fajry Novriandi

Berita Terkait.

Kinerja Andal Rig PDSI#11.2 Dorong Tambahan Produksi Minyak di Papua Barat Daya
Ekonomi

PGN Dorong Pemanfaatan Gas Bumi Rumah Tangga lewat Program Bedah Dapur GasKita 2026

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:05
Strategi Bisnis Berkelanjutan ANTAM Diakui, Masuk Tiga Indeks ESG KEHATI Sekaligus
Ekonomi

Strategi Bisnis Berkelanjutan ANTAM Diakui, Masuk Tiga Indeks ESG KEHATI Sekaligus

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:05
Industri Halal Sumbang 27 Persen PDB, BPJPH dan ESQ Bersinergi Perkuat Fondasi SDM
Ekonomi

Industri Halal Sumbang 27 Persen PDB, BPJPH dan ESQ Bersinergi Perkuat Fondasi SDM

Jumat, 19 Juni 2026 - 13:05
Konservasi Mangrove Berbuah Manis, Warga Pasar Rawa Nikmati Peluang Usaha dan Ekowisata
Ekonomi

Konservasi Mangrove Berbuah Manis, Warga Pasar Rawa Nikmati Peluang Usaha dan Ekowisata

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:05
Kinerja Andal Rig PDSI#11.2 Dorong Tambahan Produksi Minyak di Papua Barat Daya
Ekonomi

Kinerja Andal Rig PDSI#11.2 Dorong Tambahan Produksi Minyak di Papua Barat Daya

Jumat, 19 Juni 2026 - 11:02
Kementerian UMKM Perkuat Ekosistem Halal untuk Dongkrak Daya Saing Produk Lokal
Ekonomi

Kementerian UMKM Perkuat Ekosistem Halal untuk Dongkrak Daya Saing Produk Lokal

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:07

BERITA POPULER

  • Hasil Piala Dunia: Qatar Buyarkan Kemenangan Swiss, Brasil Gagal Tumbangkan Maroko

    Hasil Piala Dunia: Qatar Buyarkan Kemenangan Swiss, Brasil Gagal Tumbangkan Maroko

    7135 shares
    Share 2854 Tweet 1784
  • Hantavirus Ramai Dibahas, Benarkah Bisa Jadi Pandemi Baru

    1776 shares
    Share 710 Tweet 444
  • Purbaya Siapkan APBN Hadapi Tantangan Global, Prioritas Nasional Tetap Jalan

    1044 shares
    Share 418 Tweet 261
  • Peringatan Dini BMKG, Jakarta Diguyur Hujan Merata Hari Ini

    994 shares
    Share 398 Tweet 249
  • Jadi Tulang Punggung Mobilitas Warga, Penyesuaian Tarif TransJakarta Dinilai Rasional

    1108 shares
    Share 443 Tweet 277
Ismael Kone
Olahraga

Piala Dunia 2026: Kemenangan Kanada Diwarnai Cedera Horor Ismael Kone, Jesse Marsch Prihatin

Editor Ali Rachman
Jumat, 19 Juni 2026 - 11:37

INDOPOSCO.ID - Kemenangan tim nasional (Timnas) Kanada atas Timnas Qatar dalam laga kedua grup B Piala Dunia 2026 di BC...

SelengkapnyaDetails
Hasil Piala Dunia: Bungkam Korsel 1-0, Meksiko Pastikan Langkah ke 32 Besar

Hasil Piala Dunia: Bungkam Korsel 1-0, Meksiko Pastikan Langkah ke 32 Besar

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:47
Piala Dunia 2026: Hugo Broos Puas Afsel Tampil Lebih Agresif saat Imbangi Ceko

Piala Dunia 2026: Hugo Broos Puas Afsel Tampil Lebih Agresif saat Imbangi Ceko

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:01
Hasil Piala Dunia: Kanada Gunduli Qatar, Swiss Menang Meyakinkan atas Bosnia

Hasil Piala Dunia: Kanada Gunduli Qatar, Swiss Menang Meyakinkan atas Bosnia

Jumat, 19 Juni 2026 - 08:23
Hasil Piala Dunia: Comeback Afsel Gagalkan Misi Sempurna Ceko di Matchday Kedua

Hasil Piala Dunia: Comeback Afsel Gagalkan Misi Sempurna Ceko di Matchday Kedua

Jumat, 19 Juni 2026 - 08:08
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.