INDOPOSCO.ID – Upaya memperkuat kepedulian lingkungan di lingkungan Kantor Urusan Agama (KUA) terus digencarkan Kementerian Agama (Kemenag). Salah satunya melalui Program GEMAH (Gerakan Jumat KUA ASRI: Aman, Sehat, Resik, dan Indah).
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Kemenag Ahmad Zayadi mengatakan, GEMAH merupakan langkah nyata untuk menciptakan lingkungan KUA yang bersih, sehat, nyaman, dan mendukung peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, program tersebut merupakan implementasi Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Nomor 002 Tahun 2026 tentang GEMAH sekaligus bagian dari pelaksanaan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 244 Tahun 2025 mengenai Program Prioritas Menteri Agama 2025–2029, khususnya penguatan ekoteologi.
“Ekoteologi harus diwujudkan melalui tindakan sederhana dan berkelanjutan, termasuk menjaga kebersihan serta merawat lingkungan kantor. Melalui GEMAH, KUA tidak hanya memberikan layanan keagamaan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Zayadi dalam keterangan, Sabtu (13/6/2026).
Ia menilai posisi KUA yang berada hingga tingkat kecamatan sangat strategis untuk membangun kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai agama. Karena itu, penghulu, penyuluh, dan seluruh petugas KUA diharapkan menjadi teladan dalam membudayakan hidup bersih dan sehat.
“KUA harus menjadi contoh bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan. Lingkungan KUA yang aman, sehat, resik, dan indah akan memperkuat kualitas layanan sekaligus menghadirkan manfaat yang langsung dirasakan umat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bandung, Muhammad Ali Abdul Latif, menegaskan, peningkatan kualitas lingkungan kerja harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi penghulu.
Menurut dia, perkembangan layanan pencatatan nikah yang kini berbasis digital, meningkatnya tren pernikahan sederhana di KUA, hingga bertambahnya pernikahan antarnegara menuntut penghulu untuk lebih adaptif dan profesional.
“Perubahan terjadi begitu cepat, dari pendaftaran nikah yang dahulu dilakukan secara luring hingga sekarang berbasis daring,” katanya.
“Pernikahan campuran juga semakin biasa, sehingga penghulu harus memiliki pengetahuan dan keterampilan komunikasi yang memadai,” imbuhnya.
Sebelumnya, Program GEMAH digelar di KUA Babakan Ciparay, Kota Bandung. Kegiatan yang diisi dengan olahraga bersama dan kerja bakti tersebut sekaligus menjadi penutup Short Course Penguatan Kapasitas Penghulu dan Pejabat Kepenghuluan Wilayah Jawa Barat yang berlangsung sejak 9 hingga 12 Juni 2026 kemarin.(nas)










