INDOPOSCO.ID – Kalangan industri pertambangan menyambut positif rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memberikan relaksasi produksi batu bara. Kebijakan yang tengah disiapkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tersebut dinilai dapat menjadi instrumen penting untuk menjaga daya tahan sektor pertambangan di tengah berbagai tekanan ekonomi global.
Asosiasi Pertambangan Indonesia-Indonesian Mining Association (API-IMA) menilai langkah pemerintah dengan memberikan relaksasi produksi batu bara tersebut hadir pada momentum yang tepat, terutama ketika pelaku usaha harus menghadapi lonjakan biaya operasional akibat penguatan dolar Amerika Serikat.
Direktur Eksekutif API-IMA, Sari Esayanti, mengatakan kebijakan relaksasi produksi batu bara yang diterapkan secara terukur akan membantu industri tetap beroperasi optimal sekaligus mempertahankan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
“Kebijakan relaksasi produksi ini menjadi semakin relevan bagi pelaku usaha di tengah tren penguatan kurs dolar AS saat ini. Di satu sisi, kenaikan dolar memang menguntungkan karena transaksi ekspor batu bara menggunakan mata uang dolar, sehingga pendapatan yang dikonversi ke Rupiah akan meningkat. Namun, di sisi lain, pelaku usaha juga tengah menghadapi beban pembengkakan biaya operasional (operational cost),” ujar Sari dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa menguatnya mata uang dolar tidak sepenuhnya membawa keuntungan bagi industri. Sebab, berbagai kebutuhan utama kegiatan pertambangan masih bergantung pada produk impor yang nilainya ikut terkerek.
“Kita tahu bahwa komponen utama operasional tambang, seperti bahan bakar, alat berat, dan suku cadang, sangat bergantung pada impor yang harganya terkerek naik akibat kuatnya dolar,” sambungnya.
Menurutnya, relaksasi produksi dapat menjadi solusi untuk menjaga keseimbangan usaha di tengah meningkatnya biaya operasional yang harus ditanggung perusahaan.
“Jika melihat situasi nyata di lapangan, tekanan biaya operasional yang tinggi dan penurunan kuota produksi telah membuat beberapa tambang terpaksa menghentikan produksinya. Kebijakan relaksasi dari Kementerian ESDM ini menjadi angin segar yang dapat menjamin keberlanjutan operasi pertambangan dan sangat penting untuk mencegah potensi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja),” tutur Sari.
API-IMA juga menilai kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada keberlangsungan perusahaan tambang, tetapi juga berpotensi menjaga stabilitas tenaga kerja di sektor tersebut. Dengan aktivitas produksi yang tetap berjalan, risiko penghentian operasi dan pengurangan pekerja dapat ditekan.
Lebih jauh, asosiasi melihat kombinasi antara harga komoditas yang masih menarik, penguatan dolar AS, dan relaksasi produksi berpotensi memberikan efek positif terhadap penerimaan negara dari sektor pertambangan.
“Kami mendukung penuh pemerintah untuk menjalankan kebijakan ini secara terukur demi kepentingan nasional,” tambahnya.
Menurut API-IMA, implementasi kebijakan yang tepat sasaran akan menjadi faktor penting untuk memastikan sektor batu bara tetap kompetitif, sekaligus menjaga kontribusinya terhadap pendapatan negara dan perekonomian nasional di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. (her)









