INDOPOSCO.ID – Bisnis naik kelas, mampu menembus pasar baru yang lebih luas, serta melipatgandakan omzet termasuk tujuan setiap pelaku usaha.
Namun, banyak target ekspansi yang gagal di tengah jalan bukan karena kekurangan konsumen, melainkan akibat salah memilih skema permodalan.
Memahami cara mengembangkan usaha dengan pembiayaan yang tepat menjadi fondasi penting agar bisnis tumbuh berkelanjutan tanpa bayang-bayang masalah di masa depan.
Lantas, bagaimana langkah konkret untuk memperbesar skala bisnis tanpa salah memilih mitra modal? Mari simak pembahasan lebih lanjut di artikel ini.
Cara Mengembangkan Usaha dengan Pembiayaan yang Tepat
Melakukan pengembangan usaha tanpa arah yang jelas justru berisiko merusak struktur keuangan internal. Nah, berikut ini adalah beberapa cara yang dapat diterapkan.
1. Sinkronisasi Struktur Tenor Finansial dengan Siklus Bisnis
Dalam hal ini, pastikan jenis pembiayaan yang diambil sejalan dengan karakteristik perputaran uang (cash conversion cycle) usaha.
Hindari utang jangka pendek untuk membiayai aset jangka panjang, seperti membeli tanah atau merenovasi tempat usaha agar arus kas tetap sehat.
Biasanya, lembaga keuangan resmi menyediakan dua skema utama bagi debitur sebagai opsi, yaitu:
- Kredit Investasi (Jangka Panjang): Termasuk opsi rasional jika tujuan ekspansi adalah peningkatan sistem digital, modernisasi mesin, atau membuka cabang baru yang memerlukan waktu tahunan untuk balik modal (break-even point).
- Kredit Modal Kerja (Jangka Pendek): Pilihan yang sesuai untuk menutup biaya produksi, mendanai piutang dagang yang macet, atau membeli dana bahan baku musiman.
2. Pemisahan Total Entitas Keuangan Pribadi dan Perusahaan
Setiap pelaku usaha harus paham bahwa mengembangkan usaha ke skala yang lebih besar menuntut akuntabilitas mutlak.
Jadi, sebelum mengajukan pembiayaan resmi, sebaiknya pisahkan catatan pembukuan, rekening bank, hingga aset pribadi dan perusahaan secara hukum dan administratif.
Pemisahan ini bisa melindungi aset pribadi dari risiko penyitaan jika bisnis mengalami kegagalan di tengah jalan dan memudahkan pengukuran metrik pertumbuhan dari modal baru.
3. Akses Program Kemitraan dan Pembiayaan Bersubsi dari Pemerintah
Para pelaku usaha yang mematuhi hukum memiliki hak untuk mengakses berbagai program stimulus ekonomi dari pemerintah melalui lembaga keuangan resmi.
Mengingat mendapatkan subsidi langsung, program-program tersebut umumnya menawarkan suku bunga lebih terjangkau dari rata-rata pasar.
Ini bisa menjadi cara mengembangkan usaha paling efisien karena menekan biaya modal (cost of capital) seminimal mungkin.
4. Penyusunan Proyeksi Keuangan Berbasis Data Riil
Selanjutnya, yaitu susun rencana bisnis tertulis yang memuat laporan keuangan setidaknya 2 tahun terakhir dan proyeksi arus kas masa mendatang setelah memperoleh suntikan dana.
Sebab, lembaga keuangan yang kredibel dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak akan mencairkan dana hanya berdasarkan intuisi.
Melalui langkah ini, pihak kreditur dan debitur bisa melihat secara objektif apakah kapasitas produksi yang baru mampu menghasilkan keuntungan yang cukup untuk membayar kewajiban bulanan tanpa mengganggu kestabilan operasional harian.
5. Membangun Jaring Pengaman Kas (Cash Buffer Management)
Memperoleh dana segar bukan berarti bisa dibelanjakan seluruhnya untuk ekspansi. Namun, alokasikan sebagian kecil (sekitar 10-15%) sebagai dana cadangan darurat operasional.
Ini penting untuk mengantisipasi jeda waktu antara proses eksekusi ekspansi dengan waktu terjadinya realisasi profit baru (time-to-market-gap) sehingga operasional inti tetap berjalan normal saat pasar sedang berfluktuasi.
6. Pemanfaatan Skema Agunan Berbasis Aset Produktif
Cara mengembangkan usaha lainnya, yakni mengoptimalkan aset yang telah dimiliki perusahaan atau pelaku usaha untuk mendapatkan leverage finansial lebih besar.
Biasanya, lembaga keuangan resmi mensyaratkan aset produktif sebagai agunan, seperti kendaraan operasional, gudang penyimpanan, mesin pabrik, dan lain sebagainya.
Alhasil, modal usaha terus berputar tanpa perlu mengorbankan likuiditas internal. Nah, salah satu pembiayaan yang cocok dijadikan pertimbangan adalah Gadai BPKB.
Pasalnya, layanan dari Pegadaian ini telah berizin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga tidak perlu diragukan lagi aspek legalitas dan kredibilitasnya.
Selain itu, Gadai BPKB menawarkan plafon besar dan sewa modal yang ringan dengan cukup menjaminkan BPKB kendaraan.
Nasabah bisa mengajukan transaksi ke kantor cabang Pegadaian terdekat atau melalui aplikasi Tring! by Pegadaian.
Tunggu apa lagi? Yuk, akses solusi pembiayaan usaha yang tepat dengan proses mudah sekaligus transparan di Pegadaian sekarang!









