INDOPOSCO.ID – Upaya mewujudkan kemandirian ekonomi pesantren terus dilakukan oleh Pesantren Darunnajah 14 Nurul Ilmi. Melalui kolaborasi strategis bersama tim ahli, dosen, dan mahasiswa pascasarjana IPB University, pesantren ini menyelenggarakan Program Pelatihan Kewirausahaan dan Pemasaran Digital yang bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola unit usaha pesantren agar mampu bersaing di era ekonomi digital pada Minggu (7/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Pesantren Darunnajah 14 Nurul Ilmi tersebut menjadi langkah konkret dalam memperkuat fondasi ekonomi pesantren melalui pengembangan sumber daya manusia, penguatan legalitas usaha, pemanfaatan teknologi digital, serta peningkatan kemampuan manajerial dan pemasaran.
Pimpinan kegiatan menyampaikan bahwa penguatan unit usaha pesantren tidak lagi cukup mengandalkan metode konvensional. Di tengah perubahan perilaku konsumen dan pesatnya perkembangan teknologi, pesantren dituntut untuk mampu beradaptasi dan memanfaatkan peluang ekonomi digital secara optimal.
Pelatihan menghadirkan empat materi utama yang saling terintegrasi. Materi pertama membahas legalitas produk dan perizinan UMKM yang disampaikan oleh Dr. Rafnel Azhari, S.P., M.Si. dan Dr. Uci Sulandari, S.Si., M.Si. Dalam sesi ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya Nomor Induk Berusaha (NIB), izin PIRT, sertifikasi halal, serta berbagai aspek legal yang menjadi syarat utama untuk meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperluas akses pasar.
Selanjutnya, Rizma Ilfi, M.I.Kom. membawakan materi Strategi Komunikasi Pemasaran Produk Unggulan Berbasis Potensi Lokal. Peserta diperkenalkan pada berbagai konsep pemasaran modern seperti AIDA (Attention, Interest, Desire, Action), STP (Segmentation, Targeting, Positioning), dan Marketing Mix 4P. Menariknya, pendekatan pemasaran yang diberikan tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan bisnis, tetapi juga mengedepankan nilai-nilai pesantren seperti amanah, keikhlasan, dan kemandirian sebagai identitas utama produk.
Dalam sesi tersebut, peserta juga diajak memahami pentingnya membangun brand awareness secara berkelanjutan. Produk pesantren dinilai memiliki keunggulan tersendiri karena membawa nilai sosial dan pendidikan yang dapat menjadi daya tarik kuat di mata konsumen.
Materi ketiga mengenai Social Media Branding untuk Pemasaran Produk disampaikan oleh Rabiah Putri, S.Pd., CTT. Sesi ini menjadi salah satu yang paling diminati karena peserta mendapatkan praktik langsung membuat akun bisnis profesional, teknik fotografi produk menggunakan smartphone, penyusunan konten promosi yang menarik, hingga strategi memanfaatkan marketplace seperti Shopee dan Tokopedia untuk meningkatkan penjualan.
Sementara itu, Abdullah Alhayad Arafah, S.T., pada sesi keempat membahas pengelolaan keuangan usaha yang meliputi perhitungan pajak, laporan laba-rugi, dan penyusunan neraca tahunan. Materi tersebut diperkuat dengan pemanfaatan bahasa pemrograman Python untuk membantu proses perhitungan dan penyusunan laporan keuangan secara lebih efektif, efisien, dan akurat.
Tidak hanya berfokus pada aspek bisnis, seluruh materi pelatihan dirancang dengan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman yang menjadi karakter utama pesantren. Produk yang dihasilkan diharapkan tidak hanya unggul dari sisi kualitas, tetapi juga memiliki nilai kebermanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat.
“Konsumen tidak hanya membeli produk. Mereka membeli nilai dan cerita di balik produk itu,” demikian pesan yang disampaikan dalam sesi branding, merefleksikan filosofi bahwa kekuatan terbesar produk pesantren justru terletak pada identitas dan kepercayaan yang telah melekat selama bertahun-tahun.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para pengelola unit usaha, santri, dan pengurus pesantren aktif mengikuti sesi diskusi maupun praktik. Mereka juga dibekali rencana aksi selama 30 hari sebagai langkah awal implementasi hasil pelatihan, mulai dari pembentukan identitas merek, pembukaan toko digital, hingga evaluasi performa pemasaran secara berkala.
Kolaborasi antara pesantren dan perguruan tinggi ini diharapkan menjadi model pengembangan ekonomi pesantren yang dapat direplikasi di berbagai daerah. Melalui penguatan kapasitas kewirausahaan dan pemanfaatan teknologi digital, pesantren diyakini mampu berkembang tidak hanya sebagai pusat pendidikan dan pembinaan karakter, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat yang mandiri dan berdaya saing.
Dengan semangat inovasi dan kolaborasi, Pesantren Darunnajah 14 Nurul Ilmi menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan unit-unit usaha yang profesional, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman, “Menuju Pesantren Mandiri, Berdaya Saing, dan Bermanfaat”.(srv)










