INDOPOSCO.ID – Setelah sempat tertekan dalam beberapa bulan terakhir, harga telur ayam ras dan ayam hidup (broiler) di tingkat peternak mulai menunjukkan sinyal pemulihan. Pemerintah menilai perbaikan ini menjadi momentum penting untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak sekaligus mempertahankan kemandirian Indonesia sebagai negara produsen unggas.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menegaskan keseimbangan harga menjadi faktor utama agar para peternak tetap bergairah menjalankan usaha. Menurutnya, harga yang terlalu rendah berisiko membuat produksi menurun hingga membuka peluang ketergantungan terhadap impor.
“Sekarang harga sudah mulai naik, ini memang harus pemerintah lakukan. Kenapa? kita kan negara produsen, tentu harganya harus wajar. Jangan sampai peternak kita, petani kita, harganya jatuh dalam sekali. Nanti mereka tidak mau berproduksi, masa kita harus impor,” ujar Ketut dalam keterangannya, dikutip Kamis (23/7/2026).
Data Proyeksi Neraca Pangan Bapanas menunjukkan produksi unggas nasional masih berada pada jalur surplus. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, produksi telur ayam ras diperkirakan mencapai 4,17 juta ton, melampaui kebutuhan nasional yang berada di kisaran 3,8 juta ton.
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas daging ayam ras. Produksi selama tujuh bulan pertama tahun ini diproyeksikan mencapai 2,93 juta ton, lebih tinggi dibandingkan kebutuhan nasional yang diperkirakan sebesar 2,34 juta ton.
Meski pasokan melimpah, tekanan harga sempat dirasakan peternak. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks harga yang diterima peternak unggas terus melemah sejak Maret 2026. Dari posisi 138,19 pada Maret, indeks tersebut turun menjadi 127,23 pada Juni atau merosot hampir 11 poin. Angka tersebut menjadi yang terendah kedua sepanjang tahun ini.
Melihat kondisi itu, pemerintah mengaku terus berkoordinasi lintas kementerian untuk mengembalikan harga ke tingkat yang lebih sehat.
“Bapanas sekali lagi, sebagaimana arahan Bapak Kepala Bapanas beserta Kementerian Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, dan Kementerian Perdagangan, semua bergerak, agar bagaimana mengupayakan harga telur kembali mulai baik. Untuk harga ayam pun sama,” jelas Ketut.
Ia menjelaskan, anjloknya harga beberapa waktu lalu dipengaruhi melemahnya permintaan pasar. Salah satunya karena bertepatan dengan bulan Suro dan penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kebetulan pada saat kemarin, itu ada dua masalahnya. Pertama, bulan Suro. Kedua, libur MBG (Makan Bergizi Gratis). Tentu demand nya menurun. Harganya memang sangat turun. Nah sekarang sudah mulai berangsur-angsur naik. Ini permintaan akan lebih banyak, harga akan lebih bagus,” terangnya.
Berdasarkan pemantauan Bapanas hingga 21 Juli 2026, harga telur ayam ras di tingkat peternak telah naik menjadi rata-rata Rp23.676 per kg, meningkat 3,15 persen dibandingkan sepekan sebelumnya yang masih berada di Rp22.952 per kg.
Jawa Timur tercatat sebagai wilayah dengan harga telur peternak terendah, yakni Rp22.456 per kg. Sementara Sulawesi Utara menjadi daerah dengan harga tertinggi yang mencapai Rp28.240 per kg.
Adapun harga ayam broiler hidup di tingkat peternak secara nasional juga mengalami kenaikan menjadi rata-rata Rp22.477 per kg berat hidup atau naik 2,68 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang sebesar Rp21.891 per kg. Banten menjadi daerah dengan harga terendah sebesar Rp20.375 per kg berat hidup, sedangkan Sumatera Barat mencatat harga tertinggi mencapai Rp25.714 per kg.
Menurut Ketut, kenaikan harga yang mulai terjadi masih berada dalam batas yang aman sehingga tidak perlu dikhawatirkan akan memicu lonjakan inflasi.
“Kenaikan harga tentu dapat memberikan andil terhadap inflasi, tetapi ini perlu dilihat secara utuh. Sebelumnya masyarakat juga menikmati harga yang relatif murah. Tugas pemerintah adalah menjaga keseimbangan agar harga tidak melonjak terlalu tinggi, namun juga tidak jatuh terlalu rendah sehingga tetap melindungi kepentingan konsumen sekaligus memberikan kepastian usaha bagi peternak. Nah, sekarang ini memang mulai mengalami kenaikan, tetapi selama masih berada dalam koridor HAP, kondisinya relatif masih baik,” tambahnya. (her)


















