INDOPOSCO.ID – Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, mendesak Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) untuk segera memperbarui sistem pemeringkatan desil ekonomi yang menjadi dasar penyaluran program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Menurut Fikri, pembaruan data sangat penting agar calon mahasiswa dari keluarga kurang mampu tidak kehilangan kesempatan memperoleh bantuan pendidikan akibat perubahan status desil yang tidak mencerminkan kondisi ekonomi riil mereka.
Ia mengaku menerima banyak laporan dari calon mahasiswa yang gagal memperoleh KIP Kuliah karena nilai desil ekonomi mereka meningkat secara otomatis dalam sistem, meski kondisi ekonomi keluarga tidak mengalami perbaikan.
Ia menjelaskan bahwa sistem desil membagi masyarakat ke dalam 10 kelompok berdasarkan tingkat pendapatan. Persoalan muncul ketika terjadi penurunan pendapatan secara drastis di suatu wilayah, misalnya akibat bencana. Kondisi tersebut dapat memengaruhi distribusi data nasional sehingga masyarakat di daerah lain yang pendapatannya tetap justru terdorong masuk ke kelompok desil yang lebih tinggi.
“Ada yang bukan karena naik pendapatannya tapi desilnya naik. Itu karena ada daerah yang tiba-tiba turun. Ada bencana atau apa kemudian itu naik, karena dibagi sepuluh,” ujar Fikri dalam keterangan, Minggu (7/6/2026).
Politikus Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menilai mekanisme tersebut berpotensi menimbulkan ketidakadilan dalam penentuan penerima bantuan pendidikan. Pasalnya, keluarga yang secara ekonomi masih tergolong membutuhkan bantuan bisa dianggap lebih mampu hanya karena perubahan distribusi data nasional.
Karena itu, Fikri meminta Kemendiktisaintek dan BPS melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pemeringkatan desil serta meningkatkan sinkronisasi data agar penyaluran KIP Kuliah lebih tepat sasaran.
“Nah ini saya kira juga perlu serius antara Kemendiktisaintek dengan BPS. Supaya ini desil ini tadinya desil empat tiba-tiba lima. Kenapa? Karena ada daerah lain yang tiba-tiba turun sehingga dia naik peringkatnya,” tegasnya.
Fikri berharap perbaikan sistem segera dilakukan agar mahasiswa dari keluarga kurang mampu tidak dirugikan akibat perubahan status desil yang terjadi karena faktor statistik semata, bukan karena peningkatan kesejahteraan keluarga mereka.(nas)










