INDOPOSCO.ID – Pemanfaatan hidrogeokimia semakin mendapat perhatian sebagai salah satu pendekatan penting dalam eksplorasi sumber daya alam (SDA) berkelanjutan. Metode ini dinilai mampu mendukung pencarian mineral kritis dan strategis, sekaligus membantu pengelolaan lingkungan serta mitigasi bencana geologi.
Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Iwan Setiawan, mengatakan, kajian hidrogeokimia dapat memberikan informasi mengenai interaksi air dan batuan, distribusi unsur kimia, hingga indikasi keberadaan mineral bernilai ekonomi yang tersebar di suatu wilayah.
Menurutnya, riset hidrogeokimia juga berpotensi memetakan kualitas air serta lapisan akuifer dari permukaan hingga bawah tanah. Hasil pemetaan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengetahui kesesuaian kualitas dan distribusi air tanah sebagai sumber air minum.
“Selain itu riset hidrogeokimia dapat menjadi bentuk mitigasi dan monitoring kelayakan ekosistem dan mitigasi menurunnya kesehatan lingkungan. Misal memahami asal muasal unsur dan air dalam ekosistem perairan,” terang Iwan dalam keterangan, Rabu (3/6/2026).
Ia menambahkan, penelitian hidrogeokimia juga berkontribusi dalam percepatan pengembangan energi panas bumi. Melalui pemahaman karakteristik dan proses pembentukan sistem fluida panas bumi. Potensi energi tersebut dapat dimanfaatkan baik untuk pembangkit listrik maupun penggunaan langsung.
Selain hidrogeokimia, BRIN juga menyoroti meningkatnya pemanfaatan radon dalam penelitian ilmu kebumian. Gas radioaktif alami tersebut dinilai memiliki peran penting sebagai indikator dalam berbagai studi geologi, hidrogeologi, mitigasi bencana, dan eksplorasi sumber daya alam.
“Riset mengenai aplikasi radon berpotensi untuk eksplorasi panas bumi terutama memanfaatkan anomali konsentrasi gas radon tinggi,” katanya.
“Selain itu dapat digunakan untuk pemetaan struktur geologi atau sistem rekahan yang berhubungan dengan sumber panas pada sistem panas bumi vulkanik maupun nonvulkanik,” imbuhnya.
Iwan menjelaskan, anomali gas radon juga dapat dimanfaatkan sebagai instrumen mitigasi bencana geologi. Konsentrasi radon yang tinggi pada zona patahan aktif dapat menjadi indikator aktivitas gempa tektonik maupun vulkanik.
Lebih lanjut, BRIN mendorong peningkatan kapasitas dan kolaborasi riset antara peneliti, praktisi, dan kalangan industri. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat pengembangan teknologi instrumentasi dan sistem pemantauan geokimia yang terintegrasi dengan teknologi modern seperti Internet of Things (IoT) dan machine learning.
Menurut Iwan, teknologi deteksi gas radon dan pemantauan air tanah secara real-time dapat diterapkan di wilayah rawan bencana, terutama kawasan patahan aktif dan daerah yang rentan mengalami gerakan tanah.
“Pemanfaatan hasil riset geokimia juga dapat menjadi basis data dalam penyusunan kebijakan tata ruang dan perlindungan lingkungan yang berkelanjutan,” katanya. (nas)












