INDOPOSCO.ID – Kongres Luar Biasa (KLB) Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) menetapkan Yenny Wahid sebagai Ketua Umum baru organisasi perempuan tertua dan terbesar di Indonesia. Terpilihnya Yenny menjadi penanda dimulainya babak baru bagi KOWANI menjelang satu abad perjalanan organisasi yang selama ini menjadi wadah perjuangan dan pemberdayaan perempuan Indonesia.
KLB yang digelar di Gedung The Tribrata, Jakarta, Rabu (3/6/2026), berlangsung dengan mekanisme pemungutan suara yang memenuhi kuorum konstitusional. Yenny Wahid memperoleh dukungan lebih dari dua pertiga anggota aktif KOWANI, sesuai ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.
Dalam pidato usai terpilih, Yenny menegaskan bahwa mandat yang diterimanya bukan sekadar amanah untuk memimpin organisasi, tetapi juga tanggung jawab besar untuk memastikan KOWANI tetap relevan dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia saat ini.
“Ini bukan kemenangan satu orang. Ini kemenangan seluruh perempuan Indonesia yang tidak ingin melihat rumah besar mereka runtuh. KOWANI adalah amanah, dan di abad kedua ini amanah itu akan kami emban dengan lebih kuat, lebih luas, dan lebih inklusif,” ujar Yenny.
Ia menegaskan kepengurusan baru akan berfokus pada penguatan tata kelola organisasi melalui prinsip transparansi, akuntabilitas, dan kebersamaan. Menurutnya, KOWANI harus menjadi rumah bersama bagi seluruh organisasi anggota tanpa ada pihak yang merasa ditinggalkan atau tidak didengar.
Selain pembenahan internal, Yenny juga menaruh perhatian besar pada pemberdayaan ekonomi perempuan. KOWANI akan didorong menjadi jembatan strategis yang membuka akses pelatihan, pengembangan kewirausahaan, teknologi digital, pembiayaan, hingga perluasan jaringan usaha bagi perempuan di berbagai daerah.
Di bidang perlindungan perempuan dan anak, KOWANI berkomitmen memperkuat perannya sebagai mitra pemerintah dan kekuatan moral masyarakat dalam menghadapi tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak. Organisasi akan memperkuat advokasi kebijakan, mendorong langkah-langkah pencegahan, serta memperluas sistem pendampingan yang berpihak kepada korban.
Yenny juga menegaskan pentingnya mempersiapkan generasi baru pemimpin perempuan Indonesia. Karena itu, KOWANI akan membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan muda dari berbagai latar belakang untuk terlibat aktif dalam gerakan dan kepemimpinan organisasi.
Di tingkat global, KOWANI di bawah kepemimpinan Yenny bertekad mengembalikan peran strategis Indonesia dalam gerakan perempuan dunia. Sebagai organisasi yang memiliki status konsultatif di ECOSOC Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), KOWANI akan memperkuat partisipasi dalam berbagai forum internasional serta membawa suara perempuan Indonesia dalam isu-isu global.
KLB sendiri digelar sebagai langkah konstitusional untuk merespons berbagai persoalan tata kelola organisasi yang dinilai telah menyimpang dari ketentuan AD/ART. Sebelum kongres berlangsung, Kementerian Hukum RI telah memberikan klarifikasi bahwa 19 anggota Dewan Pimpinan yang menginisiasi KLB tetap memiliki legitimasi hukum, sehingga seluruh proses kongres memiliki dasar legal yang kuat.
Yenny menyatakan langkah pertama yang akan dilakukan adalah memperbaiki tata kelola organisasi, membangun sinergi lintas generasi, serta memulihkan posisi dan reputasi KOWANI di tingkat internasional. Salah satu target yang akan segera diwujudkan adalah memastikan kehadiran kembali KOWANI dalam forum Commission on the Status of Women (CSW) PBB pada tahun mendatang.
Sosok Yenny Wahid sendiri bukan nama baru dalam gerakan perempuan dan pemberdayaan masyarakat. Selama lebih dari dua dekade memimpin Wahid Foundation, ia aktif menjalankan berbagai program yang berfokus pada perdamaian, toleransi, dan pemberdayaan perempuan. Melalui Program Desa Damai, sedikitnya 176 ribu perempuan di 31 desa telah merasakan manfaat berbagai program penguatan kapasitas dan ekonomi yang dijalankan lembaga tersebut.
Atas kiprahnya tersebut, Yenny menerima penghargaan Gusi Peace Prize pada 2025 sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya dalam pemberdayaan perempuan dan pembangunan perdamaian.
Dengan kepemimpinan baru yang lahir melalui proses demokratis dan konstitusional, KOWANI kini bersiap memasuki fase baru sebagai organisasi perempuan yang lebih inklusif, adaptif, dan berpengaruh, baik di tingkat nasional maupun internasional. (dil)












