INDOPOSCO.ID – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia dan fluktuasi harga komoditas global, perekonomian Indonesia menunjukkan daya tahan yang kuat sepanjang Mei 2026. Berbagai indikator utama mengirimkan sinyal positif bahwa aktivitas ekonomi nasional masih berada di jalur yang sehat dan mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan eksternal.
Salah satu kabar menggembirakan datang dari sektor manufaktur. Setelah sempat berada di zona kontraksi, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali masuk ke zona ekspansi dengan mencapai level 50,0 pada Mei 2026, naik dari 49,1 pada bulan sebelumnya.
Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan menilai peningkatan tersebut didorong oleh menguatnya permintaan domestik yang berdampak pada bertambahnya pesanan baru dan meningkatnya aktivitas produksi.
“Naiknya PMI menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur nasional kembali bergerak ke arah yang lebih positif. Permintaan dalam negeri menjadi faktor utama yang mendorong pemulihan sektor ini,” demikian tulis DJSEF dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).
Prospek ekspor Indonesia juga mendapat dukungan dari kondisi manufaktur negara-negara mitra dagang utama yang relatif tetap kuat. Di kawasan ASEAN, PMI manufaktur tercatat pada level 51,5. Sementara India berada di level 55,0, Taiwan 56,1, Amerika Serikat 55,1, Jepang 54,5, dan Korea Selatan 54,8. Meski demikian, beberapa negara masih mengalami kontraksi, seperti Malaysia, Myanmar, dan Prancis.
Dari sektor perdagangan internasional, Indonesia kembali mencatat surplus neraca perdagangan pada April 2026 sebesar USD0,09 miliar. Surplus tersebut ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang menghasilkan surplus USD3,53 miliar dan mampu menutup defisit migas sebesar USD3,44 miliar.
Secara kumulatif, surplus perdagangan Indonesia selama Januari hingga April 2026 telah mencapai USD5,64 miliar.
Kinerja ekspor juga menunjukkan tren yang menjanjikan. Nilai ekspor April 2026 mencapai USD25,30 miliar dengan pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 23,36 persen secara tahunan. Produk industri pengolahan masih menjadi motor utama ekspor nasional, terutama komoditas lemak dan minyak hewani maupun nabati, produk nikel, kendaraan bermotor beserta komponennya, serta berbagai produk kimia.
“Peningkatan ekspor menunjukkan pentingnya strategi hilirisasi dan penciptaan nilai tambah dalam menjaga daya saing produk Indonesia di pasar global,” jelas DJSEF.
Di sisi lain, impor tumbuh 22,49 persen secara tahunan, terutama berasal dari kelompok bahan baku dan barang modal. Kondisi ini mencerminkan aktivitas produksi dalam negeri yang masih berlangsung kuat dan kebutuhan industri yang terus meningkat.
Sementara itu, inflasi nasional pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan, sedikit lebih tinggi dibandingkan April yang berada di level 2,42 persen. Kenaikan inflasi terutama dipicu oleh kelompok pangan bergejolak atau volatile food yang mencapai 6,24 persen.
Harga cabai merah dan bawang merah menjadi penyumbang utama inflasi akibat penurunan produksi yang dipengaruhi cuaca ekstrem. Meski demikian, sejumlah komoditas lain seperti daging ayam, telur ayam, dan bawang putih justru mengalami penurunan harga karena pasokan yang melimpah.
Tekanan inflasi juga datang dari kelompok administered prices yang naik menjadi 2,07 persen. Kenaikan tersebut dipengaruhi penyesuaian tarif angkutan udara akibat meningkatnya harga avtur serta naiknya harga BBM nonsubsidi di tengah tingginya harga minyak dunia.
Untuk inflasi inti, angka tercatat sebesar 2,59 persen secara tahunan. Peningkatan ini dipengaruhi oleh naiknya harga beberapa produk elektronik yang terdampak tekanan harga komoditas global. Namun, penurunan harga emas perhiasan turut membantu menahan laju inflasi pada bulan berjalan.
Optimisme terhadap kondisi ekonomi juga tercermin dari tingkat kepercayaan konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen pada April 2026 meningkat menjadi 123,0 dibandingkan 122,9 pada bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut didukung membaiknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi ekonomi ke depan.
Aktivitas ekonomi domestik pun menunjukkan pemulihan yang semakin kuat pasca-Lebaran. Penjualan mobil melonjak 55,0 persen secara tahunan, sementara penjualan sepeda motor tumbuh 28,1 persen. Konsumsi semen domestik meningkat 35,6 persen dan penjualan listrik naik 19,0 persen.
Konsumsi listrik sektor bisnis tumbuh 11,9 persen, sedangkan sektor industri meningkat 17,1 persen. Angka-angka tersebut menjadi indikasi bahwa konsumsi masyarakat dan aktivitas produksi nasional masih bergerak positif.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Berbagai langkah pengendalian inflasi akan terus dilakukan melalui operasi pasar, intervensi harga, serta pengawasan distribusi bahan pangan.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan sejumlah stimulus ekonomi guna menjaga momentum pertumbuhan, terutama menjelang periode libur sekolah. Stimulus tersebut mencakup berbagai diskon transportasi, termasuk tiket pesawat, serta upaya menjaga harga BBM subsidi tetap terjangkau bagi masyarakat.
“Selain itu, untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya dalam mengoptimalkan momentum liburan sekolah, Pemerintah juga menyiapkan berbagai program stimulus ekonomi berupa diskon transportasi, termasuk diskon tiket pesawat pada masa libur sekolah, di samping terus memastikan harga BBM subsidi tetap terjangkau,” tambah keterangan tersebut.(her)












