INDOPOSCO.ID – Universitas Terbuka (UT) kembali menggelar Program for International Joint Action Reinforcement (PIJAR) 2026 sebagai wadah kolaborasi mahasiswa internasional untuk membahas isu pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Program ini diikuti peserta dari 10 negara yang berasal dari berbagai kawasan dunia. Peserta PIJAR tahun ini datang dari Malaysia, Filipina, Mesir, Vietnam, Tiongkok, Uganda, Ghana, Madagaskar, serta sejumlah negara lainnya. Kehadiran mahasiswa dari Asia, Afrika, Eropa hingga Oseania menunjukkan semakin luasnya jaringan internasional yang berhasil dibangun UT.
Rektor UT Prof. Ali Muktiyanto menuturkan, pembukaan program menegaskan bahwa keberagaman peserta menjadi nilai penting dalam penyelenggaraan PIJAR. Menurutnya, setiap mahasiswa membawa pengalaman, budaya, dan perspektif berbeda yang dapat memperkaya proses pembelajaran bersama.
“Peserta hadir dengan latar belakang sosial dan tantangan pembangunan yang beragam. Pertukaran pengalaman tersebut diharapkan mampu melahirkan gagasan kolaboratif untuk menjawab berbagai persoalan global,” ujar Ali ditemui Indoposco.id, Selasa (2/6/2026).
Ia menambahkan, PIJAR tidak hanya berfungsi sebagai program akademik internasional. Tetapi juga menjadi sarana bagi generasi muda dari berbagai negara untuk membangun jejaring dan memperkuat kerja sama lintas budaya. “Ini untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan,” ucapnya.
Ia menambahkan, program ini merupakan bagian dari strategi UT dalam meningkatkan peran perguruan tinggi Indonesia di tingkat internasional. Melalui penguatan kerja sama akademik, pendidikan lintas budaya, dan kemitraan strategis dengan berbagai institusi pendidikan tinggi dunia.
“Kami berupaya memperluas kontribusinya dalam pengembangan pendidikan global,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Universitas Terbuka Prof. Dewi Artati Padmo menjelaskan, bahwa PIJAR dirancang tidak hanya berorientasi pada pembelajaran di ruang kelas.
“Peserta diajak memahami berbagai persoalan pembangunan melalui pengalaman langsung di masyarakat,” katanya.
Menurut Dewi, kombinasi antara diskusi akademik, kunjungan lapangan, dan interaksi dengan komunitas lokal memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat bagaimana berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan direspons dalam praktik nyata.
“Melalui pengalaman tersebut, peserta dapat memperoleh perspektif yang lebih luas sekaligus mengembangkan ide-ide kerja sama yang memiliki relevansi global,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LPPM UT sekaligus penanggung jawab PIJAR 2026, Heriani, mengatakan, rangkaian kegiatan program mencakup forum ilmiah, pertukaran gagasan antarbudaya, kunjungan ke sejumlah lokasi, hingga keterlibatan langsung dengan masyarakat.
Pendekatan tersebut, lanjut Heriani, diharapkan mampu membantu peserta memahami konsep SDGs secara lebih komprehensif, baik dari sisi teori maupun implementasinya di lapangan.
“Peserta tidak hanya mempelajari konsep pembangunan berkelanjutan, tetapi juga dapat menyaksikan secara langsung berbagai tantangan dan praktik penerapannya di Indonesia,” ujarnya. (nas)












