INDOPOSCO.ID — Semangat persatuan yang pernah melahirkan tonggak sejarah pergerakan nasional kembali digaungkan melalui Gema Pemuda 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, 30 Mei–1 Juni 2026.
Kegiatan yang digelar Ikatan Ketua Pejuang Perempuan Indonesia (IKPPI) bersama sekitar 60 organisasi perempuan ini menjadi bagian dari peringatan 100 tahun Kongres Pemuda Pertama 1926. Sekitar 5 ribu pemuda dari berbagai daerah hadir mengikuti rangkaian kegiatan yang memadukan budaya, pemberdayaan ekonomi, ketahanan pangan, hingga dialog langsung dengan perwakilan 12 kementerian.
Dukungan juga datang dari berbagai pihak, termasuk Pupuk Kaltim, perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta sejumlah lembaga kepemimpinan pemuda di kawasan ASEAN.
Ketua IKPPI, Sinda Sutadisastra, mengatakan keterlibatan berbagai pihak diharapkan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas bagi generasi muda Indonesia.
“Diharapkan dengan dukungan PBB dan Pupuk Kaltim ke depannya pemuda Indonesia dapat menjadi jembatan terciptanya kerja sama di berbagai bidang, seperti International Trade Center dengan petani-petani kopi Indonesia,” kata Sinda saat puncak acara, Senin (1/6/2026).
“Kemarin dari lembaga ASEAN bagian kerja sama kepemimpinan muda mengajak bekerja sama antara Indonesia dan Filipina untuk membangun bangsa dan pemudanya,” sambungnya.
Sinda juga menyampaikan apresiasi kepada pimpinan daerah, anggota DPRD dari sejumlah provinsi, serta perwakilan Kantor Komunikasi Kepresidenan yang hadir memberikan dukungan.
“Kami juga mengucapkan terima kasih atas kehadiran perwakilan dari Kantor Komunikasi Kepresidenan,” jelasnya.
Menurut Sinda, Gema Pemuda 2026 dirancang sebagai ruang pemberdayaan perempuan sekaligus penguatan kapasitas generasi muda. Menariknya, sebagian besar panitia berasal dari kalangan pelajar SMA dan mahasiswa berusia di bawah 21 tahun.
“Kami mempromosikan pemberdayaan perempuan sebagai mentor kepemimpinan dan ketahanan keluarga. Sebagian besar panitia merupakan pelajar SMA dan mahasiswa berusia di bawah 21 tahun. Mereka dilibatkan langsung dalam penyelenggaraan acara nasional agar memiliki pengalaman memimpin,” tutur Sinda.
Sebanyak 12 kementerian turut hadir memberikan pembinaan di bidang ketahanan pangan, pertanian, kehutanan, UMKM, ekonomi kreatif, sosial, hingga komunikasi publik.
“Semua hadir untuk membimbing generasi penerus bangsa agar siap menghadapi berbagai tantangan masa depan,” ungkapnya.
Bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, kegiatan ini sekaligus menghidupkan kembali semangat Kongres Pemuda Pertama yang digelar pada 1926.
Penasehat Gema Pemuda 2026, Utje Gustaaf, menilai sejarah Kongres Pemuda Pertama belum banyak dikenal dibandingkan Sumpah Pemuda 1928.
“Kita sering fokus pada Sumpah Pemuda 1928. Padahal, Kongres Pemuda Pertama tahun 1926 merupakan fondasi awal persatuan pemuda Indonesia. Dalam situasi penjajahan yang sulit, para pemuda mampu bersatu. Semangat itulah yang ingin kami bangkitkan kembali untuk memperkuat persatuan dan kemandirian ekonomi bangsa,” kata Utje.
Selama tiga hari, peserta mengikuti beragam kegiatan mulai dari parade silat pendekar Nusantara, pertunjukan seni tradisional bernuansa modern, fashion show batik dan tenun, mentoring bersama BPJS Ketenagakerjaan dan Kementerian Pekerjaan Umum, hingga bazar kuliner Nusantara.
Pada hari kedua, fokus kegiatan diarahkan pada penguatan UMKM dan ketahanan pangan. Melalui forum diskusi bersama 12 kementerian, peserta mendapat pembekalan mengenai pemasaran produk, pemanfaatan platform digital, peluang ekspor, serta strategi pengelolaan ketahanan pangan keluarga.
Adapun puncak acara diisi dengan pertunjukan pencak silat dari berbagai daerah, Pawai Obor Nasional bertajuk “Satu Obor, Satu Tekad” bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), serta workshop pembuatan lampu hias berbahan pipa pralon dan produk ramah lingkungan.
Menutup rangkaian kegiatan, Sinda menegaskan bahwa Gema Pemuda 2026 dibangun sebagai ruang kolaborasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Acara ini bukan untuk seremonial pejabat, tetapi untuk masyarakat. Kami ingin diskusi berlangsung santai, efisien, dan menghasilkan manfaat nyata. Pemuda harus bersatu tidak hanya dalam semangat, tetapi juga melalui karya yang bermanfaat bagi Indonesia,” tutup Sinda. (her)












