INDOPOSCO.ID – Tim peneliti dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengembangkan inovasi obat batuk berbasis nanogold yang diklaim mampu meningkatkan efektivitas penghantaran zat aktif obat ke dalam tubuh.
Inovasi tersebut diperkenalkan dalam kegiatan “Presentasi dan Uji Klinik Obat Batuk Berbasis Nanogold Untuk Kebutuhan Riil Masyarakat Terkini Pascapandemi” di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School, Parung, Bogor, Jawa Barat, Jumat (29/5/2026).
Pengembangan obat batuk berbasis nanogold tersebut dilakukan sebagai respons atas meningkatnya keluhan batuk, flu, pilek, hingga gangguan pernapasan berkepanjangan yang dirasakan masyarakat setelah pandemi Covid-19. Perubahan cuaca ekstrem dan dampak long Covid disebut membuat serangan penyakit pernapasan terasa lebih berat dibandingkan sebelumnya.
Ketua peneliti sekaligus Guru Besar Program Studi (Prodi) Kimia FMIPA UNESA, Prof. Dr. Titik Taufikurohmah mengatakan, penelitian tersebut berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat yang kini lebih sering mengalami batuk dan sakit tenggorokan dalam waktu lama.
“Keluhan tersebut tidak hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga berdampak pada produktivitas kerja, aktivitas belajar, dan kegiatan harian masyarakat,” kata Titik ditemui Indoposco.id, Jumat (29/5/2026).
Dalam riset tersebut, nanogold dimanfaatkan sebagai drug delivery atau penghantar material aktif obat menuju reseptor di dalam tubuh. Menurutnya, sistem penghantaran obat menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas formula obat.
“Intinya memanfaatkan salah satu aktivitas nanogold sebagai drug delivery, yaitu penyampai material aktif obat pada reseptor obat dalam tubuh pengguna,” ujarnya.
Ia menjelaskan, proses penyembuhan dimulai ketika material aktif obat bertemu dengan reseptor di dalam tubuh pasien. Semakin banyak zat aktif yang berhasil mencapai reseptor, maka proses pemulihan dinilai berpotensi berlangsung lebih cepat.
Ia menuturkan, tidak semua senyawa aktif obat dapat dengan mudah mencapai reseptor karena adanya berbagai hambatan, mulai dari ukuran molekul obat, kepolaran, sifat fisikokimia, hingga bentuk molekul. “Nanogold mengurangi bahkan meniadakan halangan tersebut,” jelasnya.
Melalui teknologi tersebut, efektivitas obat batuk diharapkan meningkat tanpa harus menaikkan dosis bahan aktif secara berlebihan. Menurutnya, peningkatan dosis obat kimia tanpa kajian ilmiah yang tepat justru berpotensi meningkatkan efek samping.
“Dengan konsentrasi obat yang sama, khasiat bisa menjadi berlipat. Ini juga bisa untuk menurunkan dosis obat, tetapi khasiat tidak turun bahkan naik,” katanya.
Penelitian obat batuk berbasis nanogold ini dilakukan dalam dua tahap besar, yakni sintesis dan formulasi, serta uji klinik formula obat. Data hasil uji klinik nantinya akan digunakan sebagai bagian dari persyaratan pendaftaran izin edar ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Pada tahun pertama, tim peneliti menargetkan luaran berupa paten dan purwarupa produk obat batuk berbasis nanogold yang siap menjalani uji klinik. Sementara pada tahun kedua, penelitian diarahkan menghasilkan model teknologi, strategi bisnis bersama mitra, serta prototipe obat batuk yang siap dipasarkan.
Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) penelitian ini ditargetkan mencapai level 7 hingga 9 dalam dua tahun. Pada tahap akhir, produk diharapkan telah memiliki kelengkapan izin edar sehingga dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
“Pengembangan inovasi tersebut juga melibatkan kemitraan dengan CV Tristars Chemicals yang sebelumnya telah mendukung pengadaan bahan baku produksi kapsul kelor nanogold,” katanya.
Selain obat batuk, ia menambahkan, tim peneliti juga tengah mengeksplorasi potensi nanogold sebagai antioksidan dan antiinflamasi untuk mendukung pengembangan produk kesehatan lainnya.
Meski demikian, ia menegaskan seluruh tahapan penelitian tetap harus melalui proses ilmiah yang ketat, terutama uji klinik untuk memastikan keamanan dan efektivitas produk sebelum dipasarkan. “Setelah semua tahapan sudah dipenuhi, produk siap dipatenkan dan diproduksi massal,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Pembina Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School, Parung, Bogor, Umi Waheeda mengapresiasi hasil riset tim peneliti dari Unesa. Ia berharap, kerja sama dengan Unesa bisa berlanjut.
“Kami berterima kasih atas kerja sama selama ini. Semoga temuan riset bisa bermanfaat bagi santri dan masyarakat luas,” katanya. (nas)










