INDOPOSCO.ID – Selama ini Bali terkenal sebagai pulau dengan budaya yang kaya, masyarakat yang ramah, dan perkembangan pariwisata yang pesat. Namun di balik itu, terdapat perubahan lain yang berlangsung perlahan dan sangat penting untuk menjadi perhatian, yakni perubahan struktur penduduk. Perubahan ini dikenal sebagai transisi demografi.
Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan populasi Bali mencapai sekitar 4,46 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 0,69 persen dalam lima tahun terakhir. Angka ini menunjukkan bahwa laju pertumbuhan penduduk di Bali mulai mengalami perlambatan. Namun yang lebih krusial sebenarnya bukan hanya perubahan jumlah penduduk, tetapi bagaimana komposisi usia berubah seiring waktu.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Wihaji menegaskan bahwa bonus demografi bisa terlihat di Bali. “Dengan 70 persen penduduk usia produktif itu adalah peluang emas untuk mencapai Indonesia Emas 2045,” kata Wihaji dalam satu kesempatan.
Fenomena ini tidak hanya berlaku di Bali. Berbagai negara di dunia mengalami pola yang sama saat pendidikan meningkat, layanan kesehatan menjadi lebih baik, dan masyarakat mulai mengubah perspektif mengenai keluarga dan kehidupan kerja.
Secara sederhana, transisi demografi adalah perubahan pola penduduk dari generasi yang memiliki banyak anak menuju masyarakat dengan keluarga yang lebih kecil dan usia hidup yang lebih panjang.
Pada generasi kakek ataupun orang tua, keluarga besar merupakan hal yang lumrah. Memiliki banyak anak sering kali dipengaruhi oleh kondisi sosial pada masa itu, seperti keterbatasan layanan kesehatan, tingginya angka kematian bayi, serta pola ekonomi agraris yang membutuhkan banyak tenaga kerja keluarga. Anak dipandang bukan hanya sebagai penerus keluarga, tetapi juga sebagai penopang pekerjaan rumah tangga dan pertanian. Dalam masyarakat tradisional, keluarga besar bahkan sering dianggap sebagai simbol kekuatan sosial dan keberlanjutan garis keluarga maupun adat.
Kini situasinya sudah sangat berubah. Pendidikan masyarakat semakin tinggi, biaya hidup meningkat, dan pola hidup mulai bergeser menuju masyarakat modern yang lebih urban dan kompetitif. Perempuan juga semakin aktif menempuh pendidikan dan berkarier, sehingga keputusan membangun keluarga menjadi lebih terencana. Di sisi lain, layanan kesehatan yang semakin baik membuat angka kematian bayi menurun dan harapan hidup meningkat. Akibatnya, masyarakat saat ini cenderung memilih memiliki anak lebih sedikit dengan fokus pada kualitas pengasuhan, pendidikan, dan masa depan anak dibanding sekadar jumlah anak dalam keluarga.
Perubahan struktur penduduk Bali terlihat cukup jelas jika dibandingkan dengan hasil Sensus Penduduk 2010. Berdasarkan SUPAS 2025, proporsi penduduk usia produktif (15–64 tahun) meningkat dari 67,51 persen pada tahun 2010 menjadi 69,53 persen pada tahun 2025.
Perubahan ini menunjukkan bahwa struktur penduduk Bali mulai menyempit pada kelompok usia muda dan melebar pada kelompok usia dewasa serta lansia. Dalam istilah demografi, kondisi tersebut menandakan Bali sedang bergerak menuju ageing population atau masyarakat menua.
Fenomena penuaan penduduk sendiri menjadi tren global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah penduduk lansia dunia akan terus meningkat dalam beberapa dekade ke depan akibat meningkatnya harapan hidup dan menurunnya angka kelahiran.
Di tengah perubahan tersebut, Bali saat ini berada dalam fase yang sangat penting, yaitu bonus demografi. Kondisi ini terjadi ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan usia nonproduktif.
SUPAS 2025 menunjukkan bahwa hampir 70 persen penduduk Bali berada dalam kelompok usia produktif. Ini berarti sebagian besar masyarakat berada pada usia kerja, usia belajar, usia berinovasi, dan usia paling aktif secara ekonomi.
Para ekonom menyebut bonus demografi sebagai “jendela peluang” karena kondisi ini tidak berlangsung selamanya. Negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, dan Singapura pernah memanfaatkan momentum serupa untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui investasi besar pada pendidikan, industrialisasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Menghadapi transisi demografi membutuhkan kesiapan bersama. Pemerintah perlu memperkuat investasi pada pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan penciptaan lapangan kerja berkualitas. Sementara itu, masyarakat juga perlu meningkatkan keterampilan, kemampuan adaptasi, dan kualitas sumber daya manusia.
Di saat yang sama, Bali juga perlu mulai bersiap menghadapi masyarakat yang semakin menua. Penguatan layanan kesehatan lansia, sistem perlindungan sosial, serta pembangunan lingkungan yang ramah usia lanjut akan menjadi kebutuhan penting di masa depan.
“Transisi demografi adalah bagian dari perubahan zaman yang tidak bisa dihindari. Namun perubahan ini tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman. Jika dipahami dan dipersiapkan dengan baik, transisi demografi justru dapat menjadi momentum untuk membangun Bali yang lebih maju, sehat, produktif, dan sejahtera,” tutup Menteri Wihaji. (ney)










