INDOPOSCO.ID – Kepala Pusat Riset Geoinformatika, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), M. Rokhis Khomarudin mengatakan, fenomena land subsidence atau penurunan muka tanah di kawasan pesisir Pantura Jawa menjadi tantangan serius. Tentu saja penanganan hal ini butuh pendekatan ilmiah terpadu dan kolaboratif.
Menurut Rokhis, penurunan permukaan tanah di kawasan Pantura telah menimbulkan dampak signifikan terhadap infrastruktur serta kehidupan masyarakat pesisir. Di sisi lain, degradasi mangrove yang terus terjadi menyebabkan berkurangnya perlindungan alami kawasan pantai.
“Dua fenomena ini (penurunan muka tanah dan degradasi mangrove) menyebabkan banjir rob menjadi sering terjadi dan meluas,” ungkap Rokhis di Jakarta, Senin (25/5/2026).
“Karena itu, diperlukan pemanfaatan teknologi geospasial yang akurat dan berkelanjutan untuk mendukung mitigasi dan pengambilan kebijakan,” sambung Rokhis.
Ia menjelaskan, teknologi Sistem Informasi Geografis (GIS) dan penginderaan jauh (remote sensing) seperti InSAR, GNSS, LiDAR, serta citra satelit multitemporal menjadi instrumen strategis dalam memantau perubahan muka tanah maupun dinamika tutupan mangrove secara komprehensif.
Sebelumnya, kegiatan BRIGHTS (BRIn Talks about Geoinformatics’ Hot TopicS) Seri #2 menghadirkan para peneliti dan pakar di bidang geoinformatika, penginderaan jauh, geodesi, hingga konservasi pesisir. Pada kegiatan tersebut dibahas fenomena penurunan muka tanah (land subsidence) dan dampaknya terhadap degradasi ekosistem mangrove di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap lahir rekomendasi ilmiah yang dapat menjadi masukan strategis bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam penanganan land subsidence serta rehabilitasi mangrove di wilayah pesisir Indonesia,” kata Rokhis. (nas)










