INDOPOSCO.ID – Aktivitas wisata yang terus meningkat di kawasan pesisir membawa dua sisi berbeda. Di satu sisi mendatangkan peluang ekonomi, namun di sisi lain memicu persoalan sampah yang kian menumpuk. Kondisi itu kini coba dijawab melalui program pengelolaan sampah terpadu yang digulirkan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama PT Pelayaran Bahtera Adhiguna di kawasan wisata Pantai Bagek Kembar, Kelurahan Tanjung Karang Permai, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Selasa (12/5/2026).
Program yang berada di sekitar proyek gasifikasi Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas Uap (PLTMGU) Lombok Peaker tersebut tidak hanya berfokus pada kebersihan kawasan wisata, tetapi juga diarahkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca melalui pendekatan ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat.
Berbagai pihak dilibatkan dalam pelaksanaannya, mulai dari pemerintah daerah, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), hingga PLN Group. Sejumlah kegiatan dijalankan, seperti pelatihan pemilahan sampah organik dan anorganik, penguatan kelembagaan Pokdarwis, pengembangan budidaya maggot, serta penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah terpadu.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan mengatakan program tersebut menjadi bagian dari komitmen tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan dalam mendukung pengembangan kawasan wisata pesisir yang berkelanjutan.
“Program ini merupakan bagian dari komitmen TJSL PLN EPI dalam mendukung pengembangan wisata pesisir yang bersih, berkelanjutan, dan berbasis pemberdayaan masyarakat. Kami ingin menghadirkan dampak nyata tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi peningkatan kapasitas dan ekonomi masyarakat sekitar,” ucapnya.
Menurutnyaa, peningkatan aktivitas wisata di kawasan pantai membuat kebutuhan pengelolaan sampah semakin mendesak sehingga diperlukan sistem yang mampu bekerja dari hulu hingga hilir.
“Program ini juga menjadi upaya bersama dalam mendorong penerapan konsep ekonomi sirkular, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi seperti pupuk organik maupun budidaya maggot,” kata Mamit.
Hal senada disampaikan Manajer PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Kota Mataram, Hengky Purbo Lesmono. Ia menyebut keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya diukur dari ketersediaan infrastruktur energi, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan yang dirasakan masyarakat.
“PLN UIW NTB memiliki komitmen kuat untuk terus hadir sebagai perusahaan yang tidak hanya menyediakan listrik yang andal, tetapi juga menjadi bagian dari solusi sosial dan lingkungan di tengah masyarakat,” ujar Hengky.
Dari sisi pemerintah kelurahan, Nani Nurkomala menilai persoalan sampah di kawasan wisata pesisir membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat karena berkaitan langsung dengan kenyamanan wisatawan dan kualitas lingkungan.
“Sekecil apa pun upaya kita dalam mengelola sampah akan sangat berarti. Kita semua adalah penghasil sampah, sehingga kita juga memiliki tanggung jawab untuk mengelolanya dengan baik,” tuturnya.
Nani juga menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan terkait pemilahan sampah organik dan anorganik agar jumlah sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) bisa ditekan.
Sementara itu, Kepala Seksi Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, I Made Wibisana Gunaksa mengungkapkan produksi sampah di Kota Mataram pada 2025 mencapai sekitar 311 ton per hari dan sebagian besar masih bergantung pada tempat pembuangan akhir (TPA).
“Dari 311 ton itu, lebih dari 70 persen masih mengandalkan TPA. Hanya sekitar 28 persen yang bisa dikelola oleh masyarakat dan pemerintah kota. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama,” ujar I Made Wibisana.
Menurutnya, pengelolaan sampah sejak dari sumber menjadi langkah penting untuk mengurangi volume timbunan sekaligus menekan emisi gas rumah kaca, terutama gas metana dari sampah yang menumpuk di TPA.
“Kegiatan ini sangat mendukung upaya pengurangan emisi karbon dan gas metana dari sampah yang menumpuk di TPA. Pengolahan sampah menjadi salah satu langkah nyata dalam mengurangi dampak perubahan iklim,” tambahnya.
Apresiasi juga datang dari Ketua Pokdarwis Bagek Kembar, Sukendi yang menyebut program tersebut memberi dampak langsung bagi masyarakat dan pelaku wisata di kawasan pesisir.
“Program ini sangat membantu masyarakat dan pelaku wisata di kawasan pesisir. Kami berharap edukasi dan pendampingan seperti ini terus berlanjut agar masyarakat semakin sadar bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat menjaga lingkungan sekaligus memberikan nilai ekonomi,” jelasnya.
Melalui program ini, PLN EPI dan PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAg) menegaskan komitmennya dalam menjalankan prinsip environmental, social, and governance (ESG), terutama lewat pengurangan emisi, penguatan ekonomi sirkular, dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.(her)











