INDOPOSCO.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan berat. Pada perdagangan Kamis (14/5/2026) siang, mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh level Rp17.527 per dolar Amerika Serikat (AS), menandai meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi global maupun domestik.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu kombinasi sentimen eksternal dan persoalan dari dalam negeri yang belum mereda.
Menurut Ibrahim, penguatan dolar AS masih menjadi faktor dominan yang membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, terus tertekan. Situasi tersebut diperburuk oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya di kawasan strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
“Saya melihat bahwa rupiah hari ini diperdagangkan melemah karena menguatnya dolar AS. Bahkan kemarin pun juga pada memasuki pasar Amerika, indeks dolar terus mengalami penguatan,” tutur Ibrahim melalui gawai, Kamis (14/5/2026).
Tak hanya faktor global, Ibrahim juga menyoroti polemik terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 yang dilaporkan mencapai 5,61 persen. Ia menyebut, angka tersebut memicu perdebatan karena dianggap belum sepenuhnya menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat di lapangan.
“Ada satu sanggahan pernyataan dari akademisi ya. Jadi melalui riset bahwa sebenarnya pertumbuhan ekonomi kalau dihitung-hitung itu hanya di 4,6 persen sampai 4,8 persen,” jelasnya.
Perbedaan pandangan mengenai angka pertumbuhan ekonomi itu, lanjut Ibrahim, perlu dijawab dengan transparansi data yang lebih kuat. Ia mendorong Badan Pusat Statistik (BPS) menerapkan mekanisme revisi data secara berkala seperti yang dilakukan Amerika Serikat agar tingkat kepercayaan publik terhadap data ekonomi nasional semakin meningkat.
“Yang harus dilakukan oleh pemerintah, terutama adalah BPS harus bisa membuat agar masyarakat itu tenang karena pada saat pertumbuhan ekonomi kuartal pertama di 5,61 tetapi kenyataannya di akar rumput di bawah, permasalahan ekonomi cukup luar biasa,” ungkapnya.
Ibrahim menilai pelemahan rupiah saat ini mulai terasa langsung di kehidupan masyarakat. Kenaikan harga barang disebut menjadi dampak nyata yang berpotensi semakin menekan daya beli di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.
“Rupiah mengalami pelemahan berdampak terhadap harga-harga yang mengalami kenaikan sehingga masyarakat mengalami satu kesulitan yang cukup luar biasa. Ini yang harus diperhatikan oleh pemerintah terutama adalah BPS,” tambahnya.
Di tengah gejolak global yang masih berlangsung, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Pelaku pasar kini menanti langkah pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memulihkan kepercayaan publik terhadap kondisi ekonomi nasional.(her)











