• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Pelemahan Rupiah Dinilai Bukan Sekadar Efek Global, Ekonomi Domestik Ikut Disorot

Nasuha Editor Nasuha
Kamis, 14 Mei 2026 - 21:01
in Ekonomi
Mata-Uang

Ilustrasi - Pekerja menunjukkan uang dupiah dan dolar AS di sebuah tempat penukaran uang di Jakarta. Foto: Dokumen INDOPOSCO

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan berat. Pada perdagangan Kamis (14/5/2026) siang, mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh level Rp17.527 per dolar Amerika Serikat (AS), menandai meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi global maupun domestik.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu kombinasi sentimen eksternal dan persoalan dari dalam negeri yang belum mereda.

BacaJuga:

Survei Ipsos 2026: Kemudahan Jadi Alasan Utama Masyarakat Pilih Bank Digital

Jasa Marga Maksimalkan Tim Preservasi demi Kelancaran Arus Libur Panjang

Surveyor Indonesia Perkuat TICC untuk Kawal Transportasi Aman dan Berkelanjutan

Menurut Ibrahim, penguatan dolar AS masih menjadi faktor dominan yang membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, terus tertekan. Situasi tersebut diperburuk oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya di kawasan strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

“Saya melihat bahwa rupiah hari ini diperdagangkan melemah karena menguatnya dolar AS. Bahkan kemarin pun juga pada memasuki pasar Amerika, indeks dolar terus mengalami penguatan,” tutur Ibrahim melalui gawai, Kamis (14/5/2026).

Tak hanya faktor global, Ibrahim juga menyoroti polemik terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 yang dilaporkan mencapai 5,61 persen. Ia menyebut, angka tersebut memicu perdebatan karena dianggap belum sepenuhnya menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat di lapangan.

“Ada satu sanggahan pernyataan dari akademisi ya. Jadi melalui riset bahwa sebenarnya pertumbuhan ekonomi kalau dihitung-hitung itu hanya di 4,6 persen sampai 4,8 persen,” jelasnya.

Perbedaan pandangan mengenai angka pertumbuhan ekonomi itu, lanjut Ibrahim, perlu dijawab dengan transparansi data yang lebih kuat. Ia mendorong Badan Pusat Statistik (BPS) menerapkan mekanisme revisi data secara berkala seperti yang dilakukan Amerika Serikat agar tingkat kepercayaan publik terhadap data ekonomi nasional semakin meningkat.

“Yang harus dilakukan oleh pemerintah, terutama adalah BPS harus bisa membuat agar masyarakat itu tenang karena pada saat pertumbuhan ekonomi kuartal pertama di 5,61 tetapi kenyataannya di akar rumput di bawah, permasalahan ekonomi cukup luar biasa,” ungkapnya.

Ibrahim menilai pelemahan rupiah saat ini mulai terasa langsung di kehidupan masyarakat. Kenaikan harga barang disebut menjadi dampak nyata yang berpotensi semakin menekan daya beli di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.

“Rupiah mengalami pelemahan berdampak terhadap harga-harga yang mengalami kenaikan sehingga masyarakat mengalami satu kesulitan yang cukup luar biasa. Ini yang harus diperhatikan oleh pemerintah terutama adalah BPS,” tambahnya.

Di tengah gejolak global yang masih berlangsung, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Pelaku pasar kini menanti langkah pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memulihkan kepercayaan publik terhadap kondisi ekonomi nasional.(her)

Tags: Dollar ASLevel 17.527Melemahnilai tukarrupiah

Berita Terkait.

Transaksi
Ekonomi

Survei Ipsos 2026: Kemudahan Jadi Alasan Utama Masyarakat Pilih Bank Digital

Kamis, 14 Mei 2026 - 22:32
Perbaikan-Jalan
Ekonomi

Jasa Marga Maksimalkan Tim Preservasi demi Kelancaran Arus Libur Panjang

Kamis, 14 Mei 2026 - 20:00
Fajar-Wibhiyadi
Ekonomi

Surveyor Indonesia Perkuat TICC untuk Kawal Transportasi Aman dan Berkelanjutan

Kamis, 14 Mei 2026 - 19:49
Program TJSL
Ekonomi

PLN EPI dan Bahtera Adhiguna Hidupkan Ekonomi Sirkular di Kawasan Wisata Pesisir

Kamis, 14 Mei 2026 - 19:09
Pesawat
Ekonomi

Harga Avtur Naik, Pemerintah Izinkan Maskapai Terapkan Biaya Tambahan 50 Persen

Kamis, 14 Mei 2026 - 17:27
cabai
Ekonomi

Bapanas Klaim Harga Cabai Rawit Turun Signifikan, Jumlah Daerah Terdampak IPH Berkurang

Kamis, 14 Mei 2026 - 16:06

BERITA POPULER

  • kai

    Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus: Lebih dari 504 Ribu Tiket Kereta Api Ludes

    1192 shares
    Share 477 Tweet 298
  • Prakiraan Cuaca di Jakarta, Waspadai Potensi Hujan di Jaksel dan Jaktim Hari Ini

    1088 shares
    Share 435 Tweet 272
  • Bhayangkara FC vs Madura United: The Guardian Cari Titik Balik, Laskar Sape Kerrab Waspada

    980 shares
    Share 392 Tweet 245
  • Bali United vs Borneo FC: Serdadu Tridatu Usung Bangkit, Pesut Etam Kejar Tahta

    795 shares
    Share 318 Tweet 199
  • PSIM vs Malut United: Laskar Kie Raha Enggan Terkecoh Tren Buruk Tuan Rumah

    722 shares
    Share 289 Tweet 181
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.