• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Wirya Hadinata Sebut Industri Nikel Butuh CFO yang Paham Operasi Lapangan

Nelly Marinda Situmorang Editor Nelly Marinda Situmorang
Rabu, 13 Mei 2026 - 11:02
in Ekonomi, Politik
Chief Financial Officer (CFO) PT Jiu Long Metal Industry (JLMI), Wirya Hadinata/ Herry Rosadi- INDOPOSCO

Chief Financial Officer (CFO) PT Jiu Long Metal Industry (JLMI), Wirya Hadinata/ Herry Rosadi- INDOPOSCO

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Chief Financial Officer (CFO) PT Jiu Long Metal Industry (JLMI), Wirya Hadinata, mengungkapkan bahwa peran divisi keuangan di industri nikel saat ini tidak lagi sekadar menjadi pencatat laporan keuangan.

Di tengah fluktuasi industri dan margin usaha yang semakin tipis, tim keuangan perusahaan yang bergerak di bidang industri pengolahan nikel itu dituntut terlibat langsung dalam proses operasional dan pengambilan keputusan bisnis perusahaan.

BacaJuga:

Deepal S05 dan Nevo Q05 Hadir di Medan, Changan Perkuat Pasar SUV Listrik

Bisnis Makin Kencang, Ciputra Life Perkuat Modal dan Portofolio

Atasi Fluktuasi Harga Emas, Pegadaian Hadirkan Solusi Cicil Tabungan Emas

Dalam wawancara dengan INDOPOSCO, pada Selasa (12/5/2026), Wirya mengaku kepuasannya selama hampir dua tahun bergabung di JLMI justru datang dari keberhasilannya membangun kolaborasi dengan tenaga kerja asing asal China di lingkungan perusahaan.

“Saya merasa terpuaskan karena bisa meng-influence pegawai-pegawai asing China di sini untuk mengikuti budaya kerja yang kita bangun,” ujar Wirya.

Menurutnya, pada awal dirinya masuk ke area operasional, banyak pihak yang merasa heran karena seorang direktur keuangan turun langsung ke lapangan.

“Mereka sempat kaget, kok ada orang keuangan masuk ke operasi. Biasanya orang keuangan kan duduk di belakang meja dan tidak ikut campur urusan operasi,” katanya.

Namun kondisi industri nikel yang sangat dinamis membuatnya merasa perlu memahami langsung kondisi di lapangan agar mampu memberikan dukungan yang tepat terhadap operasional perusahaan.

“Karena industri sedang berfluktuasi dengan margin yang tipis, saya sebagai orang keuangan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di industri midstream ini. Akhirnya kita berkolaborasi dengan tim operasi mencari solusi bersama,” jelasnya.

Wirya menegaskan, saat ini fungsi keuangan tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai bagian administrasi perusahaan, melainkan harus menjadi mitra strategis dalam pengambilan keputusan bisnis.

“Yang saya tekankan di sini, orang keuangan itu nggak hanya duduk di belakang meja. Kita harus ikut mendorong dan support tim operasi. Kita juga mengeluarkan ide sehingga keputusan bisnis yang diambil CEO itu melibatkan tim keuangan,” katanya.

Ia mengatakan pendekatan kolaboratif tersebut kini menjadi budaya baru di JLMI. Seluruh tim keuangan didorong untuk aktif memahami proses bisnis dan operasional perusahaan.

“Kita bukan hanya pencatat keuangan lagi, tapi sudah menjadi bagian dari keputusan bisnis perusahaan,” tegasnya.

Sebagai perusahaan manufaktur pengolahan nikel, JLMI menerapkan pola kerja kolektif kolegial antar-direksi dan lintas divisi agar seluruh target perusahaan dapat dicapai secara bersama-sama.

“Perusahaan ini bukan hanya dijalankan oleh direktur operasi saja. Semua harus punya satu tujuan yang sama. Jadi kalau tim operasi ada kendala, kita bantu dari sisi keuangan. Semua kolaboratif,” ungkapnya.

Wirya juga mengungkapkan bahwa ide-ide dari tim keuangan kerap digunakan dalam menentukan strategi operasional, termasuk dalam skema blending bahan baku nikel ore berkadar tinggi dan rendah.

“Tim operasi punya strategi, tapi mereka perlu hitungan keuangan untuk mengetahui output cost-nya seperti apa. Nah di situlah peran kami membantu menghitung dampak keuangannya,” jelas Wirya.

Menurutnya, sinergi antara keuangan dan operasional tersebut berhasil membawa perbaikan kinerja perusahaan sejak dirinya bersama tim mulai aktif terlibat penuh pada akhir 2024. “Dari 2024 ke 2025 produksi tumbuh 5 persen dan penjualan naik 6 persen,” ungkap Wirya.

Bahkan hingga April 2026, laba bersih perusahaan disebut telah melampaui total laba sepanjang tahun sebelumnya. “Laba bersih sampai April ini sudah melebihi laba satu tahun kemarin,” katanya.

Wirya menilai capaian tersebut tidak terlepas dari strategi efisiensi yang agresif dijalankan perusahaan. Salah satunya melalui penghematan biaya logistik. “Tahun lalu kami berhasil melakukan efisiensi logistik sekitar US$4,8 juta sampai US$5 juta,” ujarnya.

Tahun ini, JLMI kembali menargetkan efisiensi melalui refinancing pinjaman modal kerja dari pemegang saham ke perbankan guna memperoleh bunga yang lebih rendah.

“Target kami menurunkan bunga pinjaman dari 9,5 persen menjadi sekitar 4,7 persen lewat refinancing bank. Ini bagian dari efisiensi modal kerja,” jelasnya.

Meski saat ini perusahaan belum berencana melakukan ekspansi besar, JLMI tetap membuka peluang penambahan lini produksi di masa depan setelah kondisi operasional dinilai stabil.

“Kita fokus stabilkan operasi dulu. Setelah itu baru diskusi dengan pemegang saham terkait kemungkinan ekspansi,” kata Wirya.

Di sisi prospek industri, Wirya optimistis permintaan nikel global masih akan terus tumbuh, baik untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik maupun stainless steel.

Ia menjelaskan, baterai berbasis nikel atau NMC masih sangat dibutuhkan pasar Eropa dan Amerika karena memiliki daya tahan lebih baik dibanding baterai lithium iron phosphate (LFP) yang dominan digunakan untuk city car di China.

“Eropa dan Amerika masih membutuhkan baterai berbasis nikel. Jadi demand industri nikel ke depan masih tetap ada,” terangnyanya.

Sementara untuk stainless steel, Wirya melihat peluang pertumbuhan permintaan dapat datang dari pembangunan infrastruktur global, terutama di kawasan terdampak konflik geopolitik.

“Kita berharap nanti ada pembangunan infrastruktur baru (di kawasan terdampak konflik Timur Tengah) yang membutuhkan stainless steel sehingga demand bisa meningkat,” urainya.

Lebihlanjut, Worya menerangkan bahwa saat ini harga nikel global disebut telah menyentuh level US$19 ribu per ton dan diperkirakan masih akan naik pada tahun depan. “Kami optimistis harga nikel tahun depan bisa menyentuh US$20 ribu per ton,” harapnya. (her)

Tags: efisiensi perusahaanIndustri NikelJLMIPT Jiu Long Metal IndustryWirya Hadinata

Berita Terkait.

deepal
Ekonomi

Deepal S05 dan Nevo Q05 Hadir di Medan, Changan Perkuat Pasar SUV Listrik

Jumat, 21 Agustus 2026 - 23:03
Ciputra-Life
Ekonomi

Bisnis Makin Kencang, Ciputra Life Perkuat Modal dan Portofolio

Jumat, 21 Agustus 2026 - 22:32
Petugas-Bank
Ekonomi

Atasi Fluktuasi Harga Emas, Pegadaian Hadirkan Solusi Cicil Tabungan Emas

Jumat, 21 Agustus 2026 - 20:00
Agus-Haryoto-Widodo
Ekonomi

Asbanda: BPD Tak Minta Proteksi, tapi Kesempatan yang Setara

Jumat, 21 Agustus 2026 - 19:29
Gas
Ekonomi

PGN Perluas Layanan CNG di Yogyakarta, Gas Bumi Jangkau Wilayah Tanpa Pipa

Jumat, 21 Agustus 2026 - 19:09
Jokowi
Politik

Jokowi Disebut Siapkan Budi Arie Jadi Sekjen PSI, Posisi Raja Juli Terancam

Jumat, 21 Agustus 2026 - 18:28

BERITA POPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.