INDOPOSCO.ID – Anggota Komisi XI DPR Ahmad Najib Qodratullah menekankan penting mengedepankan persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa guna menghadapi dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat ketidakpastian global.
Pasar keuangan dan pasar modal domestik tengah menghadapi tekanan berat, dari depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level 6.700-an pascapengumuman rebalancing indeks MSCI terbaru.
Padahal di satu sisi Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 berhasil menorehkan catatan positif lantaran mencapai 5,61 persen. Capaian positif pertumbuhan ekonomi itu merupakan yang terbaik sejak 10 tahun terakhir.
Rasa persatuan dan kesatuan dinilainya penting guna mencegah gangguan dari pihak-pihak luar, yang merasa tidak senang dengan berbagai capaian positif, salah satunya ialah pertumbuhan ekonomi RI.
“Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki pertumbuhan cepat. Ketika ekonomi suatu negara naik, yang diperebutkan bukan cuma pasar domestik, akses bahan mentah, jalur logistik, pengaruh politik, kontrol teknologi dan aliansi regional,” kata Najib dalam keterangannya, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Indonesia saat ini juga mempunyai nilai strategis karena memiliki tiga hal sekaligus. Mulai populasi besar, sumber daya alam seperti nikel, batubara, sawit, hingga posisi maritim strategis mulai dari ALKI, Selat Malaka hingga jalur Indo-Pasifik.
“Jadi jika ekonomi tumbuh stabil, Indonesia makin penting dalam peta persaingan antara United States, China, dan kekuatan regional lain,” ujar Najib.
Najib tidak menampik bahwa ancaman paling realistis bagi Indonesia bukanlah invasi, melainkan gangguan non-konvensional yang kerap terjadi.
“Misalnya tekanan ekonomi seperti hambatan dagang, kampanye boikot komoditas, manipulasi harga komoditas ekspor hingga relokasi investasi ke negara pesaing,” jelas Najib.
“Indonesia sangat bergantung pada ekspor komoditas. Jika harga energi terguncang, efeknya cepat terasa pada fiskal dan rupiah,” tambahnya.
Sementara gangguan non konvensional adalah intervensi informasi baik disinformasi media sosial, pembelahan isu agama atau suku, penggiringan opini anti-pemerintah dan sentimen pasar lewat rumor. “Tujuannya bukan menjatuhkan negara secara militer, tetapi membuat keputusan ekonomi tersendat,” imbuh politikus PAN itu. (dan)











