INDOPOSCO.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan kuat pada perdagangan awal pekan. Mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.414 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (11/5/2026), terseret derasnya arus penguatan dolar global akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Pelemahan rupiah kali ini bukan terjadi tanpa sebab. Pasar global tengah diliputi kekhawatiran baru setelah Presiden AS Donald Trump mengambil sikap keras terhadap Iran dan menolak proposal perdamaian yang diajukan Teheran. Situasi tersebut memicu lonjakan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.
Rupiah tercatat turun 32 poin dibanding perdagangan sebelumnya. Sementara itu, indeks dolar AS menguat 0,09 persen ke posisi 97,98.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, khususnya terkait konflik Iran dan AS yang belum menunjukkan tanda mereda.
“Komentar tersebut meningkatkan risiko geopolitik. Fokus pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup sejak konflik dimulai,” ujar Ibrahim melalui gawai, Senin (11/5/2026).
Menurut Ibrahim, pernyataan Trump yang menolak respons Iran membuat harapan pasar terhadap de-eskalasi konflik menjadi sirna. Akibatnya, investor memilih mengamankan aset mereka ke dolar AS.
Ia menambahkan, pelaku pasar kini juga menunggu agenda diplomasi Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping. Pertemuan tersebut dinilai krusial karena akan membahas dua isu besar sekaligus, yakni perang dagang dan konflik Iran.
“Investor sedang memantau arah pembicaraan Trump dan Xi Jinping. Pasar berharap ada kepastian terkait perdagangan global dan upaya meredam konflik di Timur Tengah,” katanya.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, sentimen domestik sebenarnya masih menunjukkan kondisi yang cukup positif. Survei Konsumen Bank Indonesia periode April 2026 mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik tipis menjadi 123,0.
Kenaikan itu didorong oleh membaiknya Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) yang mencapai level 116,5. Angka tersebut mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi lapangan kerja dan daya beli yang masih terjaga.
Namun, kuatnya sentimen global membuat data domestik belum mampu menjadi penopang utama rupiah. “Faktor eksternal masih sangat dominan, terutama terkait arah suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik global,” tutup Ibrahim.
Untuk perdagangan Selasa (12/5/2026), rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ibrahim memproyeksikan mata uang RI akan berada di kisaran Rp17.410 hingga Rp17.460 per dolar AS.(her)











