INDOPOSCO.ID – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Sabtu (9/5/2026), memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap tanker minyak atau kapal komersial milik Iran akan memicu “serangan besar-besaran” terhadap posisi AS dan kapal-kapal musuh di wilayah tersebut.
“Peringatan! Setiap agresi terhadap tanker minyak dan kapal komersial Iran akan dibalas dengan serangan besar-besaran terhadap salah satu pusat Amerika di wilayah tersebut dan kapal-kapal musuh,” kata komando Angkatan Laut IRGC, menurut laporan Kantor Berita Fars.
Komandan Angkatan Udara IRGC, Majid Mousavi, mengatakan rudal dan drone telah “dikunci pada musuh” dan menunggu perintah untuk diluncurkan.
Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ali Khazarian, sebelumnya juga turut mengatakan bahwa Iran akan membalas secara militer setiap tindakan Amerika Serikat yang memblokade wilayah lautnya.
“Mulai saat ini, Iran akan menanggapi secara militer setiap tindakan AS yang melibatkan blokade laut terhadap Republik Islam,” kata Khazarian, juga seperti dikutip kantor berita Fars, Jumat (8/5/2026).
Pernyataan itu muncul setelah Komando Pusat AS menyatakan telah menyerang target militer Iran pada Jumat dini hari sebagai balasan atas serangan terhadap pasukan AS.
Namun, komando militer Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan melancarkan serangan di sejumlah wilayah negara itu.
Iran kemudian merespons pelanggaran gencatan senjata itu dengan menyerang kapal-kapal AS di Selat Hormuz.
Sementara, sebagaimana juga dilansir dari Anadolu, Kementerian Pertahanan Inggris sebelumnya mengatakan telah mengerahkan kapal perang Angkatan Laut Kerajaan ke Timur Tengah sebagai persiapan untuk kemungkinan misi multinasional untuk melindungi pelayaran komersial di Selat Hormuz.
HMS Dragon, kapal perusak tipe 45 yang sebelumnya ditempatkan di Mediterania timur dekat Siprus, akan “bersiap” di wilayah tersebut dan siap bergabung dengan inisiatif maritim pimpinan Inggris dan Prancis setelah kondisi memungkinkan, menurut sejumlah media berita Inggris dengan mengutip juru bicara kementerian.
Ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu hingga memicu balasan dari Teheran terhadap Israel serta sekutu AS di Teluk. Hal itu kemudian berdampak pula pada penutupan Selat Hormuz.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April lewat mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.
Gencatan senjata kemudian diperpanjang Presiden Amerika Serikat Donald Trump tanpa batas waktu yang ditetapkan dan membuka jalan diplomasi untuk solusi permanen bagi perang tersebut.
Sejak 13 April, AS mulai melakukan blokade angkatan laut dengan menargetkan lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz
Trump mengumumkan pada Selasa (5/5/2026) bahwa militer AS untuk sementara menghentikan “Project Freedom”, yang dimaksudkan untuk memulihkan kebebasan navigasi bagi pelayaran komersial melalui Selat Hormuz, dan mengatakan blokade Amerika akan tetap berlaku secara penuh. (dil)











