INDOPOSCO.ID – Di ujung Delta Mahakam, di mana daratan dan lautan saling bersinggungan, berdiri sebuah sekolah yang tak biasa. Warga menyebutnya “sekolah terapung”—sebuah simbol harapan yang bertahan di tengah keterbatasan akses, pasang surut air, dan jarak yang memisahkan dari pusat kota.
Sekolah itu adalah SMPN 6 Anggana di Desa Sepatin, Kutai Kartanegara. Untuk mencapainya, perjalanan dari Samarinda harus ditempuh menyusuri Sungai Mahakam sejauh sekitar 80 kilometer menggunakan kapal kecil, dengan waktu tempuh hingga tiga jam, bergantung pada kondisi air. Namun dari tempat terpencil inilah, sebuah cerita besar lahir.
Program Sekolah Negeri Terapung yang digagas PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) kini tak hanya memberi akses pendidikan bagi wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), tetapi juga mendapat pengakuan internasional. Program ini sukses meraih predikat Platinum dalam ajang The 18th Annual Global CSR & ESG Summit & Awards 2026 di Bangkok, Thailand, untuk kategori Excellence In Provision Of Literacy & Education Award.
Lebih dari sekadar penghargaan, capaian ini menjadi bukti bahwa upaya menghadirkan pendidikan berkualitas di wilayah pesisir dapat memberikan dampak nyata.
Sebagai bagian dari penguatan program, PHM melalui induk usahanya, PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), terus melakukan monitoring dan evaluasi langsung ke lapangan. Dalam kunjungan pada 28 April 2026, manajemen PHI menyerahkan bantuan pembangunan gapura sekolah dan taman belajar, sekaligus melakukan penanaman mangrove bersama siswa, guru, dan masyarakat.
Senior Manager Relations PHI, Handri Ramdhani, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan upaya memastikan program berjalan efektif dan tepat sasaran.
“Kami mengapresiasi dedikasi para guru yang mengajar di wilayah terpencil. Kepada para siswa, manfaatkan kesempatan belajar ini sebaik mungkin sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan para guru,” kata Handri dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, program ini dirancang untuk memperkuat akses pendidikan di kawasan pesisir melalui penyediaan sarana belajar, peningkatan kompetensi tenaga pengajar, serta pengembangan ekosistem pendidikan yang relevan dengan kondisi lokal.
Sejak diinisiasi pada 2022 dengan nama “Sekolah Rawa Hutan”, program ini terus berevolusi. Pada 2024, konsepnya diperkuat dan namanya bertransformasi menjadi Sekolah Negeri Terapung, menandai perluasan dampak sekaligus pendekatan yang lebih komprehensif.
Kini, memasuki tahun keempat, program tersebut telah melangkah ke fase pengembangan lanjutan. Berbagai inisiatif digulirkan, mulai dari penguatan Profil Pelajar Pancasila, edukasi bahaya NAPZA, hingga pengembangan kurikulum berbasis kearifan lokal. Bahkan, regenerasi guru dari kalangan siswa setempat dan program magang bagi sarjana pesisir turut menjadi bagian dari strategi jangka panjang.
Kepala SMPN 6 Anggana, Tandarman, merasakan langsung manfaat program tersebut. Ia mengakui bahwa dukungan dari PHM sangat membantu keberlangsungan pendidikan di wilayah yang memiliki keterbatasan anggaran. “Meski dengan segala keterbatasan, kami terus mendorong guru dan siswa untuk berprestasi,” ujarnya.
Upaya itu tidak sia-sia. Pada 2022, sekolah ini berhasil meraih predikat Sekolah Adiwiyata tingkat kabupaten, sebuah pencapaian yang menurutnya tak lepas dari peran aktif guru-guru muda dalam meningkatkan kapasitas diri.
Tak hanya itu, peluang yang dibuka program ini juga mengantarkan salah satu guru, Nurul Fitriana, meraih beasiswa Fulbright Distinguished Award in Teaching Program for International Teachers dari Pemerintah Amerika Serikat pada 2025. Ia mengikuti program pengembangan profesi di Indiana University of Pennsylvania selama satu semester.
“Pencapaian saya ini berkat dukungan dan bimbingan dari PHM saat proses aplikasi hingga seleksinya,” ucap Nurul.
Pengalaman tersebut, menurutnya, akan menjadi bekal penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Ia pun berharap dapat menularkan semangat yang sama kepada para siswa.
“Saya berharap jauh di lubuk hati saya, bahwa suatu saat nanti akan ada anak didik dari SMPN 6 Anggana, bercita-cita menjadi guru untuk membangun Desa Sepatin ini menjadi tempat yang lebih baik lagi aman dan nyaman untuk belajar dan bertumbuh bagi siswa dan siswi kami,” ungkapnya penuh harap.
Di tengah keterbatasan fasilitas, para siswa justru mampu menorehkan prestasi hingga ke tingkat internasional. Ainun Nisa, siswa kelas 7, berhasil memenangkan lomba menggambar bertema alam dan karyanya dipamerkan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada Oktober 2025.
Sementara itu, siswa lainnya, Idul, pernah meraih Juara 1 Perwakilan Indonesia dalam ajang Fish Art Contest yang digelar di Amerika Serikat pada 2023.
Semangat untuk terus bermimpi juga ditanamkan melalui Kelas Inspiratif yang menghadirkan Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan. Dalam sesi tersebut, ia menekankan pentingnya kedisiplinan dan konsistensi.
“Di PHI, kami meyakini pendidikan sebagai salah satu fondasi utama untuk membangun masyarakat yang mandiri dan berwawasan luas, serta masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” tambah Dony. (her)











