INDOPOSCO.ID – Riuh peringatan May Day 2026 tak hanya dipenuhi semangat solidaritas buruh, tetapi juga diwarnai dinamika yang sempat viral di media sosial. Sebuah potongan video yang memperlihatkan respons buruh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu beragam tafsir publik.
Dalam video perayaan May Day tersebut, Presiden Prabowo Subianto terlihat melontarkan pertanyaan kepada massa buruh soal manfaat program MBG. Narasi yang berkembang menyebutkan adanya teriakan penolakan dari buruh. Namun, klarifikasi datang langsung dari pimpinan serikat pekerja.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, menepis anggapan buruh tolak MBG saat perayaan May Day. Ia menegaskan bahwa respons yang terdengar bukanlah bentuk penolakan, melainkan refleksi kondisi sebagian buruh yang belum merasakan manfaat program itu.
Menurut Andi, ada dua momen berbeda dalam interaksi tersebut. Saat MBG diperkenalkan, buruh menyambut dengan antusias. Namun ketika ditanya soal manfaat langsung, muncul jawaban yang lebih beragam.
“Setelah kami telusuri, yang menjawab belum merasakan manfaat MBG adalah buruh yang masih lajang dan belum menikah. Jadi konteksnya bukan penolakan, tetapi karena mereka memang belum menjadi penerima langsung manfaat program tersebut,” ujar Andi dalam keterangan tertulisnya, Senin (4/5/2026).
Ia juga menilai narasi yang berkembang cenderung berlebihan dan tidak mencerminkan situasi sebenarnya di lapangan. Bahkan, Andi menegaskan hubungan antara buruh dan pemerintah saat ini berada dalam kondisi yang positif.
“Beliau (Presiden Prabowo) sudah dua kali hadir dalam peringatan May Day, dan kami yakin ke depan akan terus hadir. Jadi tidak tepat jika narasi yang berkembang menyebut buruh menolak program (MBG) Presiden,” tegasnya.
Lebih jauh, Andi melihat momentum May Day tahun ini sebagai titik penting dalam perjalanan gerakan buruh nasional. Ia menggambarkan suasana yang inklusif, di mana seluruh elemen buruh melebur tanpa sekat.
“May Day tahun ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah. Ini menjadi tonggak persatuan buruh. Tidak ada lagi kelompok eksklusif yang mendominasi. Semua bersatu dalam satu panggung dan semangat yang sama,” tambahnya.(her)











