INDOPOSCO.ID – Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan Hari Buruh atau May Day 2026 dipandang lebih dari sekadar agenda rutin kenegaraan. Bagi pengamat komunikasi politik Hendri Satrio, momen ini semestinya menjadi titik tolak kebangkitan ekonomi nasional, khususnya bagi kalangan pekerja.
“May Day 2026 ini harus menjadi momentum kebangkitan ekonomi. Kehadiran presiden jangan hanya dilihat sebagai simbol, tapi harus membawa pesan kuat bahwa negara benar-benar hadir memperbaiki kondisi ekonomi pekerja,” ujar Hensa sapaan Hendri Satrio melalui gawai, Kamis (30/4/2026).
Menurutnya, peringatan May Day tahun ini juga membuka peluang besar untuk mempertemukan aktor-aktor kunci dalam isu ketenagakerjaan. Ia menilai, kehadiran pengusaha dalam perayaan tersebut akan memperkaya dialog yang selama ini berjalan terpisah.
“Seharusnya perayaan Hari Buruh ini juga dihadiri oleh pengusaha. Jadi ada pertemuan antara pengusaha dan buruh langsung di sana, dan ada Pak Prabowo di sana,” jelasnya.
Dalam pandangan Hensa, forum yang mempertemukan buruh dan pengusaha dengan fasilitasi negara dapat menjadi jalan keluar bagi berbagai persoalan klasik di sektor ketenagakerjaan. Dialog langsung dinilai mampu menciptakan solusi yang lebih cepat dan konkret.
“Kalau ekonomi buruh membaik, daya beli naik, maka dampaknya juga akan terasa ke ekonomi nasional secara keseluruhan. Jadi ini momen yang sangat strategis, bukan sekadar perayaan tahunan,” kata Hensa.
Kehadiran Prabowo dalam dua peringatan May Day secara berturut-turut juga dinilai sebagai langkah politis yang sarat makna. Selain membangun kedekatan dengan kalangan pekerja, hal itu mencerminkan upaya presiden untuk menempatkan dirinya di sisi buruh.
Lebih lanjut, Hensa menyoroti sejumlah tuntutan buruh yang mulai mendapat respons pemerintah sejak May Day 2025. Beberapa di antaranya meliputi pengesahan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT), pembentukan Satgas PHK, hingga pengakuan Marsinah sebagai pahlawan nasional.
“Ini menunjukkan bahwa presiden berusaha mendengarkan langsung aspirasi para pekerja. Terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, suara buruh menjadi sangat penting untuk dijadikan bahan kebijakan,” ungkapnya.
Namun demikian, ia mengingatkan agar kehadiran presiden tidak berhenti pada simbol semata. Konsistensi dalam merealisasikan tuntutan buruh menjadi kunci utama agar kepercayaan publik tetap terjaga.
“Masih ada beberapa tuntutan yang dari tahun lalu belum sepenuhnya dipenuhi, sebaiknya segera dijalankan agar pemerintah juga terlihat konsisten dalam mendengarkan aspirasi masyarakat,” terang founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu.
Hensa pun menegaskan, suara buruh sejatinya adalah cerminan kondisi riil masyarakat. Karena itu, setiap tuntutan yang disampaikan tidak bisa dipandang sebagai rutinitas tahunan semata.
“Karena pada akhirnya, tuntutan buruh itu bukan sekadar agenda tahunan, tapi refleksi dari kondisi ekonomi rakyat hari ini yang harus dijawab dengan kebijakan nyata,” tutupnya. (her)










