INDOPOSCO.ID – Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap perempuan memperoleh layanan kesehatan yang setara, berkualitas, dan responsif terhadap kebutuhannya. Komitmen ini sejalan dengan arah kebijakan nasional Presiden RI melalui Asta Cita ke-4 yang menegaskan pentingnya penguatan kualitas sumber daya manusia, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan.
Hal ini disampaikan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN dalam sambutan yang dibacakan oleh Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, dalam Forum Nasional Perempuan Indonesia 2026 bertema “No Woman Left Behind: Akses Setara, Layanan Unggul, Masa Depan Tangguh” yang digelar secara hybrid di Kantor Kementerian Kesehatan dan melalui Zoom Meeting, pada Rabu (29/4/2026).
“Perempuan yang sehat baik secara fisik maupun mental akan melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas, serta membentuk keluarga yang kuat dan berdaya,” ujar Wamen Isyana. Sejalan dengan hal tersebut, penguatan kesehatan perempuan menjadi langkah strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Upaya ini tidak hanya berfokus pada layanan kesehatan semata, tetapi juga pada pembentukan keluarga yang kuat sebagai fondasi utama bangsa.
Namun demikian, upaya tersebut masih dihadapkan pada berbagai tantangan di lapangan. Berdasarkan Data Long Form Sensus Penduduk 2020, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih berada pada angka 1.89. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat tantangan dalam meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan yang komprehensif, terintegrasi, dan berbasis keluarga, termasuk pelayanan Keluarga Berencana.
Wamen Isyana menyebut salah satu penguatan layanan kesehatan yang menjadi prioritas adalah pelayanan Keluarga Berencana Pasca Persalinan (KBPP), yang diberikan sejak setelah persalinan hingga 42 hari. Layanan ini bertujuan mengatur jarak kelahiran, merencanakan kehamilan yang aman, serta mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. “Apalagi, pelayanan KBPP merupakan salah satu intervensi kunci dalam menekan AKI dan AKB (Angka Kematian Bayi), mencegah KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan), serta mencegah kehamilan 4T (Terlalu Muda, Terlalu tua, Terlalu Dekat, Terlalu Banyak),” ujar Wamen Isyana.
Untuk itu, Kemendukbangga/BKKBN terus memperkuat pendekatan berbasis siklus hidup melalui berbagai program, mulai dari intervensi sejak dalam kandungan melalui Makan Bergizi Gratis untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (MBG 3B), fase balita melalui Bina Keluarga Balita (BKB) dan Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), fase remaja dengan Generasi Berencana (GenRe) dan Bina Keluarga Remaja (BKR), hingga fase lansia melalui Sekolah Lansia guna menjaga kualitas hidup yang sehat dan mandiri. Penguatan berbagai program berbasis siklus hidup tersebut pada akhirnya diarahkan untuk memastikan perempuan tetap sehat di setiap fase kehidupannya. “Karena ketika perempuan sehat, keluarga akan kuat. Dan ketika keluarga kuat, Indonesia akan maju,” tegas Wamen Isyana.
Sejalan dengan penguatan peran perempuan dalam membangun keluarga yang sehat dan tangguh, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin juga menekankan pentingnya gerakan kolektif berbasis keluarga yang dimulai dari rumah tangga. “Dengan melibatkan sekitar 74 juta perempuan dalam keluarga, diharapkan tidak hanya kesehatan individu perempuan yang meningkat, tapi juga kesehatan seluruh anggota keluarga,” pungkasnya.(ney)










