INDOPOSCO.ID – Di tengah stigma bahwa sektor peternakan identik dengan kerja keras kaum pria, dua perempuan dari Lampung dan Sukabumi membuktikan sebaliknya. Dari balik kandang ternak, mereka tidak hanya mengelola hewan kurban, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi keluarga dan masa depan pendidikan anak-anaknya.
Melalui program pemberdayaan peternakan, Dompet Dhuafa menggulirkan sentra-sentra ternak di berbagai daerah. Di dalamnya, tak sedikit perempuan yang kini mengambil peran penting sebagai pengelola dan manajemen peternakan.
Di Desa Sentra Tahu, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, Yuliani (57) menjadi contoh nyata perempuan yang bangkit melalui peternakan. Awalnya, ia hanya bermitra sebagai penyuplai pakan ternak. Namun ketekunan dan konsistensinya merawat hewan membuat Dompet Dhuafa memberikan kepercayaan lebih besar dengan menjadikannya mitra kurban.
Sebagai ibu dua anak, Yuliani berjuang seorang diri menghidupi keluarga sekaligus menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.
“Perempuan tidak cukup hanya bergantung. Kita tidak tahu sampai kapan bisa bergantung pada suami. Perempuan harus bisa berdaya, bisa mencari nafkah tanpa mengabaikan keluarga,” ujarnya.
Kepercayaan yang diberikan bukan hanya menguatkan usahanya, tetapi juga membangun rasa percaya diri bahwa perempuan mampu berdiri di sektor yang selama ini dianggap maskulin.
Kisah serupa datang dari Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Yuyum, warga asli Sukabumi, menjadi perempuan pertama dan satu-satunya yang tergabung dalam Koperasi Peternak Serba Usaha Riung Mukti, mitra pemberdayaan ternak program kurban Dompet Dhuafa sejak 2009.
Perjalanannya dimulai saat ia menjadi penerima manfaat program kurban. Kesempatan itu menjadi titik balik hidupnya. Pada 2012, Yuyum resmi bergabung sebagai peternak di koperasi.
“Alhamdulillah, dengan cara seperti ini, saya ngurusin anak kambing tapi anak saya bisa sekolah. Saya terharu, ikut aja karena saya gak punya modal untuk menyekolahkan anak. Alhamdulillah ini terbuka jalan,” kata Yuyum.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Salah satu anaknya kini menjadi guru SMP setelah menempuh pendidikan D3 Pendidikan, sementara anak lainnya mengambil jurusan perbankan.
“Sampai sekarang alhamdulillah dia ngajar, bermanfaat di SMP,” pungkasnya.
Kisah Yuliani dan Yuyum menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi berbasis peternakan bukan hanya soal produksi hewan kurban, tetapi tentang membuka akses kemandirian bagi perempuan desa. Dari kandang ternak yang sederhana, lahir perubahan besar bagi ekonomi keluarga, pendidikan anak, dan martabat perempuan.
Program peternakan yang digulirkan Dompet Dhuafa membuktikan bahwa ketika perempuan diberi akses, kepercayaan, dan pendampingan, dampaknya menjalar luas ke keluarga dan komunitas. (adv)










